“Bill Gates Orang Pertama yang Masuk Surga”, demikian kalimat yang dilontarkan oleh Menkominfo Sofjan Djalil, Selasa 22 Februari 2005 di Hotel Shangri La Jakarta dalam acara peluncuran WindowsXP Starter Edition berbahasa Indonesia, yang diliput oleh Detik.
“Orang yang pertama kali masuk surga adalah Bill Gates, karena berhasil memberi nilai tambah bagi teknologi di dunia, ” kata Mudjiono mengutip alasan yang dikemukakan Sofjan Djalil atas kekagumannya kepada pendiri Microsoft itu.
Memalukan sekali pejabat negara atas nama rakyat secara formal menyatakan hal tersebut. Di luar konteks kerjasama dengan Microsoft pun hal tersebut tak layak untuk diungkapkan. Tidak ada jaminan dari manusia bahwa seseorang itu masuk surga atau tidak, dan jika berdalih sebagai doa pun kita tahu kebusukan bisnisnya perusahaan yang didirikan dan dikendalikan Bill Gates. Praktik bisnisnya Microsoft pun banyak yang tidak etis, salah satunya adalah kecenderungan monopoli yang ditentang bangsa ini.
Semenjak proklamasi kita pernah dijajah secara ekonomi, baik oleh negara luar maupun oleh oknum dan gerombolan pejabat dalam negeri. Kini dalam kebebasan ekonomi yang jauh lebih terbuka bukannya kita memberdayakan sumber daya sendiri atau bahkan hingga mengekspor sumber daya dan produk ke luar negeri, sekarang yang terjadi malah menjadi konsumen yang dalam arti terselubung adalah menyerahkan diri untuk dijajah.
“Sejak dua tahun lalu, pemerintah telah meminta kepada Microsoft untuk dibuatkan sistem operasi berbahasa Indonesia, ” kata Tony Chen, President Director PT. Microsoft Indonesia.
Pemerintah rupanya tak pernah melihat sisi strategi jangka panjang untuk kemajuan sumber daya dalam negeri. Sangat tidak perlu mengemis meminta pekerjaan penerjemahan sistem operasi atau aplikasi, bahkan ini bukan ‘mengemis untuk dibayar’ tapi ‘mengemis untuk membayar’, uang siapa jika itu bukan uang rakyat?
Saya sedih, di saat proyek penerjemahan sistem operasi Linux semakin berkembang, selain berkembangnya pengguna Linux dan penyebaran paradigma Open Source di kalangan akademis dan profesional. Satu pejabat penting dan terkait yang tidak hadir adalah Menristek, Kusmayanto Kadiman. Semoga ketidakhadiran Menristek memiliki maksud yang lebih baik dalam menjalankan misi IGOS yang sudah dicanangkan.