Aceh Butuh Arsitek Terjun

Selasa, 11 Januari 2005M
28 Dzulqaidah 1425H

Malam tadi sempat ngobrol jarak jauh dengan bang Erwin, cukup lama 30 menit dari catatan log ponsel. Apa yang diceritakan Erwin sangat memilukan, pilu mendengar cerita kondisi Aceh dan sedih mendengar ternyata profesional arsitek yang terjun ke sana baru 4 orang (3 Bandung, 1 Jakarta) hari Jumat lalu.

Saya belum mendengar arsitek yang bekerja membumi yang terkait langsung dengan bencana di Aceh saat ini. Saya tak malu (juga tidak bangga) beralih profesi ke bidang Teknologi Informasi, tapi saya malu di antara 1000-an dokter, enginer, ribuan relawan lain turun ke Aceh ternyata hanya 4 orang arsitek yang terjun secara voluntir tanpa membawa organisasi atau kelembagaan apapun, sedangkan apa yang saya pelajari di institusi cap gajah tersebut adalah sebuah bidang yang paling manusiawi karena kurikulumnya yang paling multidisiplin dan langsung berkaitan dengan kebutuhan manusia, kebutuhan ruang hidup di dalam ruang yang manusiawi.

Saya kirim tulisan berikut juga ke situs Arsitek, Bantu Aceh Bangkit!:

Aceh Butuh Arsitek

Ya, Aceh butuh arsitek yang terjun langsung di lapangan, bukan arsitek yang menggambar bangunan dari jauh. Kondisi Banda Aceh yang 50% lebih bisa dikatakan hancur total, renovasi lebih cenderung membangun baru, bahkan mungkin membangun perkotaan dan permukiman baru di lokasi yang sama.

Saya tak bisa membayangkan seperti apa kehancurannya, tapi dari info –yang hanya empat orang arsitek di sana– kehancuran fisik kota harus secepatnya ditangani oleh para arsitek. Peran profesi arsitek adalah sama dengan dokter yaitu berkaitan dengan hidup manusia. Dalam orde yang berbeda seorang dokter bisa dibutuhkan secepatnya dalam waktu satu jam karena superdarurat, arsitek lebih panjang dari waktu itu, mungkin harian atau mingguan. Namun tetap arsitek harus secepatnya memikirkan dan mengimplementasikan dalam ruang skala kecil (hunian dan permukiman sementara) dan skala besarnya (tata ruang yang baru).

Apa yang dilaporkan tim arsitek yang sudah bekerja di sana membuat pertanyaan besar di benak saya, “Pada kemanakah arsitek ketika Aceh jatuh dan butuh bantuan untuk bangkit kembali?”. Jika dokter yang datang ke sana bisa mencapai 1000 orang, mengapa arsitek hanya empat orang?

Ilmu arsitektur yang saya pelajari yang paling utama adalah “arsitek adalah katalis dalam pemenuhan kebutuhan manusia dalam wujud ruang dan lingkungan”. Sekarang kondisinya bagaimana perancangan bisa lahir jika kita tidak tahu (secara nyata) sama sekali kondisi di lapangan sebenarnya. Tidak hanya kondisi fisik, juga kondisi sosial seperti contoh kecilnya seperti rumah Aceh memiliki kamar sejumlah anak perempuan, di sana tidak ada rumah dempet/couple, satu rumah satu keluarga dsb. Dipaksa pun saya tak akan bersedia merancang hunian untuk mereka jika sama sekali tidak melihat kondisi nyatanya dan tidak tahu kondisi sosial budayanya. Arsitektur itu untuk manusia supaya manusia punya ruang hidup di dalam ruang yang manusiawi.

Saya pun tak bisa membayangkan bagaimana melakukan pendekatan humanis kepada para pengungsi di sana. Masalah di Aceh bukan sekadar porak-poranda karena bencana alam tetapi juga permasalahan sosial, budaya dan politik (kondisi Darurat Militer yang tak bisa saya bayangkan).

Arsitek berpola pikir tidak hanya melihat kuantitas jumlah korban pengungsi, tetapi melihat ruang dan itu hanya bisa dicerap dengan turun ke lokasi. Ribuan pengungsi tidak cukup hanya diwadahi dengan ratusan tenda/barak hunian ala militer secara angka proporsional, tapi butuh bagaimana tenda/barak tersebut didirikan sesuai dengan pola sosial/budaya mereka.

Kesimpulan, empat orang arsitek yang berangkat Jumat lalu membutuhkan:
* Sebanyak-banyaknya arsitek lain dari seluruh nusantara untuk segera terjun ke Aceh dan membangun hunian sementara bersama mereka yang akan menempati hunian tersebut.
* Bantuan pejabat/regulator/institusi yang berwenang, berhak dan berkewajiban sesuai perannya untuk segera memulai persiapan pembangunan kembali tata ruang Aceh.

Demi kemanusiaan dan kebangsaan.

Popularity: 2% [?]

Komentar

11 komentar untuk catatan 'Aceh Butuh Arsitek Terjun'

  1. #1
    gravatar

    salam kenal.
    saya kuliah di teknik arsitektur unsyiah.kalo calon arsitek butuh gk?
    cuma mo tau aja!
    thanks

  2. #2
    gravatar

    dengan harmat.
    saya sangat tertarik dengan tulisan saudara, dan saat ini saya telah mamilki program Aesitektur jalanan. dimana kami berperan dalam kontek dan wadah Bina sepakat, sebagai satu sarana aspirasi sarjana yang tidak hanya diam tapi berperan dalam wadah proesional dan masyarakat.
    adapun sekilas program ini, yaitu ;
    jasa Arsitektur hanya dimilki oleh kalngan mampu, sehinga dalam peran dan profesi tidak dimilki oleh masyarakat yang kurang mampu.
    semoga peran kami ini dapat mewujudkan masyarakat yang mandiri, sejahtera dan bermartabat.
    terima kasih.
    Bina Sepakat
    Arsitektur etnik.

  3. #3
    gravatar

    salam kenal, saya telah membaca tulisan anda.saya rasa memang sangt menyedihkan sekali, saya kulh di teknik arsitektur uii.saya sangt tertarik skli dan sgt ingin membantu .tetapi saya masih kulh..nanti klo sudah selesai saya akn ikt membantu. see you.goodluck

  4. #4
    gravatar

    Dimana saya dapat informasi lebih lajut, saya perna liat di koran kompas mengenai ini saya ingin tau lebih lanjut, kebetulan saya berprofesi sebagai arsitek dengan pengalaman kurang lebih 3 tahun

  5. #5
    gravatar

    mohon informasilebih lanjut

  6. #6
    gravatar

    assalamualaikum wr.wb

    saya dari lulusan smk-pu sangat perihatin dengan adanya berita ini dan saya pun ikut kecewa kepada seluruh para arsitek yg ada di nusantara kita, apakah mereka ingin membantu aceh dengan adanya jasa..?? saya kira itu salah dan manusia itu tidak diciptakan seperti itu. sebelumnya saya minta maaf sebelum menawarkan jasa saya untuk membantu aceh, walaupun saya hanya lulusan smk dari teknik gambar bangunan dengan jujur saya ingin membantu aceh dalam bantuan pembangunan.

    dan saya hanya menawarkan penggambarannya saja dan kalaupun itu anda bisa menolong saya untuk membantu aceh, skil saya telah mengucapkan dengan jujur “bantulah aceh”.

    dan yg sangat di sayangkan ialah, saya tidak bisa terjun langsung ke aceh dikarnakan saya bukan org yg bisa pergi ke aceh. hanya bisa mengirimkan jasa saja, kalau anda tidak tertarik dan jika sangat tidak mungkin tawaran saya diterima, itu jadi sebuah kekecewaan buat saya, karean hati saya sudah mengatakan untuk membantu aceh.

    dan jika anda tertarik dengan tawaran saya, anda bisa kirim balasannya ke alamat ini :

    emon_boarding@yahoo.com atau boarding_vans@yahoo.co.id

    mungkin berita ini telat bagi saya, mudah2an saja masih ada kesempatan untuk membantu aceh.

    sekian dan terima kasih atas segala perhatiannya

    assalamualaikum wr.wb

    dari Muhdian di bandung

  7. #7
    gravatar

    turut empati,ketika saya membuka artikel ini.saya pengen mengebdikan, ya sekalian cari pengalaman untuk mbantu ke aceh.tolong kasih tau gmn prosedurnya.n instansi apa yang akan mengkordinir para relawanarsitek. jika ada kejelasan instansi yg bertanggungjawab, saya siap…
    tolong kirim ke email saya ….. puso_dion@yahoo.com
    makasihhhh…. wempi arsitektonia

  8. #8
    gravatar

    kasihan sekali… mungkin karena takut dengan kotor mereka cuma menyuruh para buruhnya saja. he hehe e

  9. #9
    gravatar

    kok malah banyak mahasiswa arsitektur yang prihatin dgn masalah aceh yaa, dari pada seorang arsitek

  10. #10
    gravatar

    saya mau kerja di aceh…saya arsitek

  11. #11
    gravatar

    Saya pikir yang dikirim ke Aceh harus tenaga yang masih muda dan kuat mental,fisiknya dan belum menikah. Karena dapat mempengaruhi kinerjanya yang masih idealis. Setahu saya banyak arsitek yang mau ke Aceh hanya kebanyakan mereka merasa tidak cocok dalam masalah honor yang akan di dapat para arsitek tersebut yang terlalu banyak potongan. Ada yang bilang sampai 1/3 honor mereka di potong tiap bulan oleh pihak yang mengajak mereka ke Aceh. Sedangkan para Arsitek itu juga manusia biasa yang butuh sandang pangan baik untuk dia sendiri maupun keluarganya. Mungkin ada juga yang tidak setuju dengan pendapat saya ini. Itu sih sah-sah saja. Terima kasih.

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.