Novita Estiti: Subject: Re
Selasa, 28 Desember 2004M
16 Dzulqaidah 1425H
- International phone card
- Baufinanzierung
- Tracking System
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
Saya pernah urung membeli buku ini karena ada label “chicklit asli buatan Indonesia”. Di milis pasarbuku dan resensibuku penulisnya complaint kepada penerbit yang dengan seenaknya mencap hasil tulisannya sebagai chicklit. Promosinya tak sempat saya ikuti di Dago Festival 2004. Dan ternyata benar buku ini tidak cocok dikategorikan ke dalam chick literature, jadi saya coret saja label penerbit tersebut (mencoretnya pun penuh perjuangan karena kertas sampulnya berjenis glossy), meskipun belum ada pembakuan definisi chicklit di dalam kesusasteraan Indonesia.
Jika surat-surat Kartini dibukukan menjadi buku, maka di buku ini Novita bercerita seluruhnya dalam format surat menyurat elektronik (email) dan percakapan melalui pesan instan (instant messenger). Dua tokoh utamanya Nina dan Yudha bercerita secara subjektif tentang dirinya, sang penulis meleburkan dirinya menjadi seorang perempuan sekaligus menjadi seorang laki-laki.
Novita memaparkan dua gaya hidup metropolitan, sinisme, apatisme, pikiran busuk, kemalasan dan buruknya perselingkuhan, semuanya ditulis dengan kejujuran. Sebuah realita yang tidak dilebih-lebihkan.
Pada awal buku saya membacanya secara cepat (speed reading dan skip-skip!) karena email yang pendek-pendek saling berbalasan. Perlahan-lahan semakin panjang, gaya bahasa Indonesia Betawi semakin berkurang, kecuali pada pesan instan (saya, juga semua orang tentunya bergaya bahasa yang sama jika ngobrol di messenger!) hingga mendekati akhir cerita diiringi konflik emosi yang semakin tinggi penuturan berubah ke dalam bahasa Indonesia yang lebih baku (dari lu-gue menjadi aku-kamu) yang sarat dengan makna (perlu berpikir lebih lama menafsirkan kalimat). Di beberapa surat penuturan ditulis dalam bahasa Inggris (sometimes I wrote my mind in English too).
Buku ini hanya berisi dialog emosi dua manusia, pikiran liar yang mungkin selalu ada di tiap kepala manusia, liar seperti binatang.
Jangan berharap akhir cerita adalah happy ending, juga jangan berharap sesuatu yang tragis, sebab bukan plot yang ingin disuguhkan, hanya sebuah proses dalam setting komunikasi global internet.
Popularity: 3% [?]
Selasa, 28 Desember 2004 @ 15:54
Saya masih sering “sulit menerima” novel-novel dengan setting modern. Pertama: cara pencarian hikmah (jika ada) dari cerita tersebut terkesan rumit (atau dirumitkan) lewat penjelajahan manusia modern yang (maaf saja) umumnya “kosong”. Sebuah pencarian dalam kekosongan dan kegelapan. Atau justru itu yang menarik bagi penikmat di era Matrix ini?
Yang kedua: pemakaian sumber daya fisik seringkali berlebihan. Misalnya digambarkan si tokoh sarapan di Dago, makan siang di Singapura, dan malamnya sudah berkeliling di pinggiran Bangkok. Seolah-olah bumi kita ini secara fisik hendak dibungkus dalam jas licin dan dompet berisi kartu kredit. Barangkali memang sudah seperti itu realita kehidupan segelintir orang saat ini, namun bagi saya cara pemaparan novel-novel klasik tentang menggenggam dunia “dengan hati” jauh lebih mendalam.
* ah, orang tua sedang cerewet lagi…
Barangkali novel ini lain isinya, entah; karena saya belum membacanya.
Selasa, 28 Desember 2004 @ 17:07
yang saya tulis ‘realita yang jujur’ bukan menganggap ada cerita tersebut dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ada bagian sinis terhadap kemapanan atau gaya hidup yang kadang sebenarnya karena kita tak mampu berada di level tersebut. ini realita pikiran kita, saya pikir semua orang pernah/sering tanpa sadar berpikir itu.
mungkin memang generasi sekarang seperti itu, jika dibandingkan dengan novel klasik banyak yang bisa mengritik lebih halus dan lebih bermakna, lebih bisa mengajak pikiran lebih global, dibandingkan dengan novel sekarang yang lebih banyak mengajak naiknya emosi ke amarah atau berontak.
Selasa, 28 Desember 2004 @ 17:12
pinjem bukunya don..
Jumat, 7 Januari 2005 @ 10:35
Unknown browser
subject: re:
koment gue tentang subject: re:
Minggu, 18 Maret 2007 @ 18:14
bagus buat gw..
sampe skr suka gw baca berulang2 sampe bukunya lecek..
hehe
mungkin karena kehidupan gw ya memang seperti “Nina” itu..
Senin, 24 Maret 2008 @ 9:16
everything she wrote was everything what i had in mind.
Kayak yang dia bisa menginterpretasikan semua pikiran g dalam bentuk kata2.
Two thumbs up for her
Selasa, 17 Juni 2008 @ 15:16
gw dah punya bukunya, tp punya temen gw, skrg gw mo cari lagi dimana y..coz gw jg pengen memilikinya
Senin, 14 Juli 2008 @ 8:11
Gosipnya ini buku kan ditulis dua orang, dan isinya betul2 hasil emai2an kedua orang itu. Kok penulisnya yang ditulis di depan sampul buku cuma 1 orang ya?
Sabtu, 7 Februari 2009 @ 22:07
gak ngerti gw… ah jgn kebanyakan folder gt lah… l skip aj yang penting…
klo ni buku bagus pasti laris trus orang juga nyari and urs gonna be a book talk
gak perlu d pajang sme kali