Soe Hok Gie
Kamis, 16 Desember 2004M
03 Dzulqaidah 1425H
- Download mp3
- International phone card
- Baufinanzierung
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Real Time GPS Vehicle Tracking Live Tracking 10 Second Updates
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia

Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, adik dari sosiolog Arief Budiman. Catatan harian Gie sejak 4 Maret 1957 sampai dengan 8 Desember 1969 dibukukan tahun 1983 oleh LP3ES ke dalam sebuah buku yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman. Gie meninggal di Gunung Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 — 16 Desember 1969 akibat gas beracun.
Setelah lulus dari SMA Kanisius Gie melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia tahun 1961. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.
Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.
Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.

Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.
Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”
Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.
Tahun depan Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production akan meluncurkan film berjudul “Gie” yang akan diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis. Saat ini sudah memasuki tahap pasca produksi.

John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.
Review lain bisa anda baca di arsip Intisari
Update
Buku Catatan Seorang Demonstran dicetak ulang bekerjasama dengan Miles Production, berikut covernya (jadi Catatan Seorang Nicholas :(![]()


Popularity: 33% [?]
Kamis, 16 Desember 2004 @ 3:50
good men die young… pengin banget nonton filmnya kalo udah ada, direview ya.
Kamis, 16 Desember 2004 @ 11:42
Gie ini kakak atau adiknya Arief B?
http://www.indomedia.com/intisari/1999/desember/sohokgi.htm
Kamis, 16 Desember 2004 @ 12:09
walah… saalh tluis
gara-gara ingetnya Gie kuliah duluan
tengkyu koreksinya!
Jumat, 17 Desember 2004 @ 6:47
catatan seorang demonstrannya masih jadi buku wajib baca ga ya? hehe..
kalo masih ada sampe skrg gue yakin SHG bakal jadi blogger
blogger seorang demonstran
Jumat, 17 Desember 2004 @ 19:25
Baca komennya enda, jadi ingat tulisan di blog gw setahun lalu: http://dhani.blogspot.com/2004/01/dari-catatan-harian-hingga-weblog.html
Kamis, 23 Desember 2004 @ 16:17
Aku inget ke hokgie karena dia yang pertama mendaki ke semeru, selain penduduk setempat (orang suku tengger). Benar-benar orang yang tangguh, dilihat dari medan pendakian semeru.
Film nya kira-kira kapan kelarnya ya
Senin, 27 Desember 2004 @ 10:53
gie anak muda yang progresif, jasadnya mungkin sudah lenyap tapi pilihan sikap dan idealismenya menentang hegemoni masih membekas. bagi sebagian pihak mungkin pilihan sikapnya konyol, tapi bagi saya itu adalah pilihan sikap luar biasa bagi kehidupan hidup yang lebih manusiawi.
Senin, 3 Januari 2005 @ 22:02
Gie, anak muda yang berjuang penuh semangat dan mental baja, tapi dilupakan oleh sejarah, bahkan buku sejarah indonesia tingkatan SMP dan SMA tidak pernah sekalipun menuliskan namanya. Berjiwa idealis sampai akhir hidupnya. Generasi muda tionghoa perlu menjadikan Gie sebagai teladan dalam hidup mereka.
Rabu, 12 Januari 2005 @ 10:59
teman-teman mahasiswa harus wajib nonton film “GIE” dan lebih lagi baca bukunya.
Sabtu, 15 Januari 2005 @ 19:37
Gie emang luar biasa.Nasionalisme, idealisme dan keberaniannya beber-bener memberikan inspirasi.Bagi gue dia figur pemuda terbaik pasca kemerdekaan
Minggu, 16 Januari 2005 @ 21:55
seorang pemuda yang patriot dan memiliki naluri alam yang dahsyat.gw salut sama gie, selain politik, dia jg memiliki naluri alam,
Rabu, 19 Januari 2005 @ 14:08
soe hok gie memang seorang revolusioner sejati walaupun ia sudah tiada namun semangat revolusionernya akan tetap berkobar di hati dan jiwa kaum revolusioner saat sekarang karena setiap zaman akan melahirkan anak zamannya
Hidup Rakyat….!
Rabu, 19 Januari 2005 @ 14:17
Soe Hok Gie….ada kalimat yang aku sukai dalam catatan seorang demonstrannya, yaitu
“Ada dua pilihan hidup di Indonesia..APATIS atau IDEALIS”
bener-bener seorang revolusioner sejati
Salam Pembebasan…!
Sabtu, 5 Februari 2005 @ 11:28
gw baca bukunya Gie wktu SMA. gila pemikirannya dia ngaruh banget am pribadi gw. seorang yang patut jadi ikon perjuangan mahasiswa se Indonesia.gw ampe bela-belain cari UI walopun tahu ga bakal nembus…kynya asik aja jadi anak salemba, pake jaket kuning.tapi ga pa pa walopun gw batal jadi anak salemba, tapi gw tetep kagum ama ni senior. salut bwt orang yang berani sendiri dalam mempertahankan idealisme pribadi.
Jumat, 11 Februari 2005 @ 1:45
Jika ada sosok baru seperti soe aku ingin berguru padanya
Senin, 14 Februari 2005 @ 20:31
Sosok Gie bagi aku, ialah yang seharusnya menjadi panutan semua aktifis mahasiswa saat ini, dialah seorang idealis sejati, yang memegang teguh keyakinan politiknya. Siapapun anda, dari organisasi mahasiswa apaun sertadari ideologi apapun layak meniru sosok kita saat ini, Gie adalah Che Geuvaranya Indonesia.
Senin, 14 Februari 2005 @ 20:33
Sosok Gie bagi aku, ialah yang seharusnya menjadi panutan semua aktifis mahasiswa saat ini, dialah seorang idealis sejati, yang memegang teguh keyakinan politiknya. Siapapun anda, dari organisasi mahasiswa apaun sertadari ideologi apapun layak meniru sosok kita saat ini, Gie adalah Che Geuvaranya Indonesia.
Jumat, 11 Maret 2005 @ 10:22
[...] n Januari 1966 sebelumnya, para mahasiswa yang dipimpin KAMI dengan salah satu pentolannya Soe Hok Gie telah melakukan aksi demonstrasi kepada pemerintahan Sukarno. Aksi yang dilancark [...]
Sabtu, 12 Maret 2005 @ 7:51
Membaca posting ini, jadi inget Buku “Pergolakan Pemikiran, Catatan Harian Ahmad Wahib”
Sabtu, 12 Maret 2005 @ 19:17
[...] Filed under: Renungan Membaca postingan Soe Hok Gie di rumahnya Bang Jay, jadi penasaran pingin mbaca dari bukunya langsung. Tadi sore dah nanya ke Toko Buk [...]
Minggu, 13 Maret 2005 @ 14:31
Saya baca buku “Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie” wkt kelas 1 SMP sekitar tahun 1995. Krn sulit utk dapetin bukunya maka saya Fotocopy dari perpustakaan. Setelah baca bukunya Wawasan saya jd terbuka dan secara tidak langsung Soe Hok Gie telah menjadi inspirasi bagi saya dalam segala hal. Pemikiran dan tindakan Gie yg sgt objektif, kritis, Idealis murni dlm perjuangan membela rakyat dari kebengisan sebuah tirani adl hal yg harusnya jadi suri tauladan bagi kita. Saya yakin dia adl sosok yg jujur, ketika saya baca bukunya “Orang2 di persimpangan kiri jalan” tulisannya benar2 objektif tidak berat sebelah. Soe Hok Gie is my rolemodel
Senin, 14 Maret 2005 @ 8:38
setelah baca (sebagian) buku john maxwell, kesan pertama saya malah kasihan sama orang seperti SHG. kok sepertinya hidup dia sengsara banget. tapi rupanya dia punya definisi lain tentang kesengsaraan. he’s indeed a man of honor. he lived the right way, and he died the right way: as a true believer.
Jumat, 18 Maret 2005 @ 18:34
Kami dari mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Ekonomi sekitar akhir april atau awal mei rencananya akan mengadakan talkshow, workshop, dan sekaligus roadshow tentang Soe Hoek Gie dan rencananya akan bekerjasama dengan miles production selaku pembuat film “gie”, dan sekaligus promosi film tersebut….
Kalo ada saran atau bantuan baik info atau dukungan/bantuan apapun itu, akan amat kita hargai, jadi please banget kalo ada yang mau bantu apapun kirim email aja ke matt_danalan@yahoo.com……….
Jumat, 18 Maret 2005 @ 18:37
Kami dari mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Ekonomi sekitar akhir april atau awal mei rencananya akan mengadakan talkshow, workshop, dan sekaligus roadshow tentang Soe Hoek Gie dan rencananya akan bekerjasama dengan miles production selaku pembuat film “gie”, dan sekaligus promosi film tersebut….
Kalo ada saran atau bantuan baik info atau dukungan/bantuan apapun itu, akan amat kita hargai, jadi please banget kalo ada yang mau bantu apapun kirim email aja ke matt_danalan@yahoo.com……….
Jumat, 25 Maret 2005 @ 20:29
gw baru aja buku dia….itu juga karena gw ditawarin buat baca…..
dan gw ga nyangka buku ini nge-fek banget ma diri gw……gw akuin SHG adalah species langka yang gw sendiri nyesel..kenapa baru sekarang gw tau tentang dia…..he’s done d great 4 his short live…..
Selasa, 29 Maret 2005 @ 15:30
Tulisan ini bagus sekali. Perkenalkan, saya Mandy, dan saya bekerja untuk Miles Films. Film GIE sendiri saat ini masih dalam tahap akhir, dan menurut rencana akan keluar di bioskop tanggal 30 Juni 2005. Website dari film ini akan selesai sekitar satu bulan lagi. Untuk yang berminat mendapatkan update tentang film ini, silahkan kirim email ke saya (japri): milespublicist@yahoo.com
Jumat, 1 April 2005 @ 17:57
Tulisan nya sangat bagus; dan bisa merangkum hampir semua hal penting dalam hidup Gie (termasuk link URL nya) secara singkat, informatif, dan mudah dicerna.
Sayang sekali banyak komentar rekan di atas yg salah kaprah; sehingga sosok Gie dilihat tak lebih hanya sbg ikon radikalisme & militansi. Apalagi
adanya kecenderungan utk menyamakan SHG dg ide2 “progresif”, “pembebasan”, dan bahkan “ernesto ‘che’ guavara” (kalian itu pada pernah baca nggak sih? Asal bgt..)
Tapi kebetulan ke-2 nya (SHG & ECG) sama2 memiliki otobiografi yg jg sudah difilmkan. Nah, biar wawasan elo2 pada kebuka, nanti wajib baca buku & nonton filmnya, ya?
Judul2nya:
Soe Hok Gie – Catatan Seorang Demonstran (otobiografi), Biografi Politik SHG (John Maxwell), GIE (film)
Ernesto ‘Che’ Guavara – The Motorcycle Diaries (film yg sangat indah & puitis.. I wonder whether Miles & Mira makes “Gie” as beautiful and as romantic as this one.. Hope so..
Minggu, 3 April 2005 @ 15:36
tidak ada yang bisa saya katakan krn tidak ada kata atau pun kalimat ataupun tokoh sekaliber apapun yang bisa dibandingkan dengan Kakak Soe Hok Gie.
Minggu, 3 April 2005 @ 18:38
Silakan gabung di mailist Hok Gie, soe _hok_gie@yahoogroups.com di Friendster juga kami sediakan buat menampung temen2 yang interest ama Soe Hok Gie
Minggu, 3 April 2005 @ 18:40
Silakan gabung di mailist Hok Gie, soe_hok_gie@yahoogroups.com di Friendster juga kami sediakan buat menampung temen2 yang interest ama Soe Hok Gie untuk bertukar pikiran
Jumat, 8 April 2005 @ 17:11
salut buat Soe Hok Gie
Jumat, 8 April 2005 @ 17:31
sekarang ini aktivis cenderung di jadikan sebagai sapi perahan organ politik sebagai kaki tangan untuk meraih ambisi politiknya.TIDAK MURNI UNTUK RAKYAT.
Semoga masih ada kawan2 aktivis yang tetap komitment terhadap cita2 perjuangan terhadap REVOLUSI dan terhadap NKRI seperti Bung Soe Hok Gie.
MERDEKA!!!
Senin, 11 April 2005 @ 0:32
waduh gimana ya…? yang pasti saya merasa bangga kalau aja saya dulu jadi temen dia. n juga pengin rasanya saya ncari buku-buku dia. n bagi yang punya buku dia tolong hubungi saya ya…. SAYA BANGGA PUNYA SEORANG PAHLAWAN BAGI MAHASISWA DAN DIALAH MAHASISWA YANG PATUT KITA CONTOH. UNTUK SEKARANG INI JADILAH SEPERTI DIA….
HIDUP MAHASISWA…………………………….
Selasa, 12 April 2005 @ 15:53
I only want to say that I am in love with Soe Hok Gie. I wish I had been born in 1950s…SHG’s image has been haunting my life and I just can’t escape from him….God, Help me!
Kamis, 14 April 2005 @ 18:37
Teman-teman, karena satu dan lain hal, film GIE terpaksa memindahkan jadwal penayangannya menjadi 14 Juli 2005. Tapi sudah ada email khusus untuk kalian yang ingin mendapatkan update tentang Soe Hok Gie, yaitu di: gie.film@gmail.com
Terima kasih
Senin, 18 April 2005 @ 17:44
wah…sayang filmnya gak make dian satro…hiks…
Kamis, 21 April 2005 @ 16:11
Dear all,
Hari Rabu, seminggu yang lalu, Ikatan Mahasiswa Jrusan Ilmu Perpustakaan FIB UI (dulu fakultas sastra) mengadakan Talk Show Soe Hok Gie, dengan tema: napak tilas perjalanan hidup soe hok gie.
Para Pembicara yang hadir adalah: Para sahabat SHG (Herman Lantang, Arestides Katoppo, Abdullah Dahana, Buli Londa), Dien Pranata (kakak SHG), dan Riri Riza (Sutradara Film Gie)
Lebih dari 200 orang memadati auditorium gd. IX FIB UI. Selain kisah-kisah tentang SHG dr para sahabatnya, panitia mendapatkan kesempatan istimewa dari miles film, yaitu pemutaran thriller film GIE untuk pertama kalinya. Semua yang menyaksikan thriller tersebut sangat antusias, termasuk para pembicara yang meneteskan air mata karena merasa haru. Acara tambah meriah oleh kehadiran Nicholas Saputra di bangku audiens.
mungkin itu sekilas yang dapat saya ceritakan tentang kegiatan yang telah kami selenggarakan. apabila kami mengadakan kegiatan serupa, akan kami kabarkan kepda rekan-rekan melalui berbagai forum tentang soe hok gie yang ada di web.
salam,
panitia
iim
iim_2k1@yahoo.com
Jumat, 22 April 2005 @ 15:38
kapan sih filmnya?kirain mei?
Senin, 25 April 2005 @ 16:39
SHG merupakan contoh seorang penggerak reformasi global. selayaknya ia dijadikan pahlawan nasional.
Senin, 25 April 2005 @ 16:47
setelah membaca karya soe hoek gie (DLM dan C H S D)saya sangat kagum terhadap perjuangan Gie. jika saja boleh berandai-andai, mungkin jika sekarang gie masih hidup ia akan populer setingkat dengan gusdur, nurcholis madjid. bravo.. hastalavista baby
Rabu, 27 April 2005 @ 16:50
Ada beberapa kata-kata SHg yang jadi favorit saya
1. “Aku besertamu orang-orang malang” dia tulis saat menjelang ualng tahunnya yang ke -17 ketika melihat pengemis yang makan kulit mangga di dekat istana di jakarta
2. “I always be gelisah and unable to live in peace”
3. “Nobody knows the trouble I see, Nobody knows my sorrow”
Meski SHg mati muda, namun dia telah membuktikan bahwa dia konsisten terhadap orang-orang malang dan tidak tergiur masuk dalam lingkar kemunafikan. Dia kritis terhadap Sukarno namun juga kristis terhadap Suharto. Semoga saya bisa tetap konsisten seperti SHg.
Rabu, 4 Mei 2005 @ 15:50
saya sih tidak tau tentang seorang soe hok gie, hanya karena mau di buat filmnya saya jadi sedikit tau, saya sangat senang miles akan memproduksi film yang bisa dibilang film heroic yg menceritakan seorang pahlawan yang belum di kenal banyak org, khusunya bagi mahasiswa yang kritik akan keadaan bangsanya, dengan biaya yg cukup wah(15 milyar)tentu film ini merupakan tontonan yang menarik dan penuh dengan sejarah seorang soe hok gie yg belum banyak orang tau.saya cukup senang dengan film2 indonesia yg berkembang dewasa ini apalagi dgn film yg satu ini, moga2 pembuat2 film sering buat film yg heroik seperti ini dan sekaligus mendidik seperti ini, smoga film ini sukses baik secara komerisil, penghargaan maupun misi yg ingin disampaikannya, Amin.Saya sangat bangga dengan mba Mira Lesamana, Riri riza dan yang lainnya yg masih mempertahankan idealisnya dalam dunianya yaitu ‘FILM’(tentunya bangsa ini juga bangga punya mba Mira dan Mas Riri.Sekali lagi maju terus Film Indonesiaku, saya akan terus mendukungmu walau dengan hanya sebagai penonton setiamu di bioskop.
Minggu, 8 Mei 2005 @ 13:49
gw gag tau tth nih org! dan gw baru tau dikit banget dr email berantai dan pengen banget tau lebih baynayk semoga FILmnya cepet jadi dan publikasinya bisa tersebar luas agar smua orang indonesia matanya TERBUKA lebar!
Kamis, 19 Mei 2005 @ 11:22
keren banget puisinya
catatan demonstrannya ada diterbutkan gak?
jual di gramedia lah…..
Kamis, 26 Mei 2005 @ 16:46
Pernah ayah saya bertanya kepada saya”Diemas dari mana kamu dapat buku itu(Catatan Seorang Demonstran)?”Lalu saya jawab”Dari perpus sekolah, memangnya ayah kenal dengan tokoh yg ada dalam buku tsb?”beliau lalu menjawab”Bagaimana ayah tidak kenal dengan orang yang polos, lugu dan memiliki semangat serta idealis yang takkan pernah habis seperti dia!Ayah pernah bersekolah dengan soe hok gie sewaktu di kolese kanisius dulu.”Saya tak habis pikir bahwa selama ini sosok seorang pemuda yang saya sukai dan banggakan itu adalah teman main ayah saya sewaktu SMA dulu.huh Mungkin sekarang gak ada kalimat yang keluar dari mulut ayah saya dan saya kepada gie yang berada di “ujung sana”selain “Gie, sekarang kamu dimana?Indonesia saat ini butuh sosok seorang pemuda yang lugu, polos, bersemangat, dan tentunya beridealis seperti kamu!”walaupun kami tahu jawaban itu takkan lagi terjawab setelah peristiwa 16 desember1967!Dimana hari itu menjadi hari berkabung bagi orang orang yang memiliki idealisme.Nobody Knows The Troubles I See, Nobody Knows My Sorrow.Gie kamu dapat salam dari Ayah saya dan pemuda serta pemudi Indonesia yang memiliki Idealisme….
Jumat, 27 Mei 2005 @ 11:11
Sbg Pendaki Gunung Saya mengagumi sosok Soe Hik Gie, Film Gie…betul-betul sy tunggu
Selasa, 31 Mei 2005 @ 14:39
gw harap rahim nyonya pertiwi masih punya kesempatan melahirkan sosok anak muda seperti soe hok gie, dan juga gw harap kelak kehadirannya tidak disia-siakan oleh bansa ini seperti bangsa ini pernah menyia-nyiakan tan malaka,
Rabu, 1 Juni 2005 @ 21:41
perjuangan -perjuangan rekan kita hok gie masih banyak untuk bumi pertiwi ini yang belum terlaksana
agar nantinya hok gie, hok gie yang baru dapat melanjutkan perjuangan – perjuangan ini….
teman-teman saudara-saudaraku dimana pun berada terus berjuang dan bangkitkan semangatmu..
kami dari timur indonesia …bagian selatan pulau kalimantan terus mengibarkan semangat demi tercapainya keadilan di negeri yang penuh dengan manipulasi ini..
peace…ALLAHU AKBAR.
Kamis, 2 Juni 2005 @ 11:49
SOE HOK GIE, NAMA ITU SUDAH AKU DENGAR LAMA SEKALI. NAMUN BARU AKHIR2 INI AKU MENEMUKAN BANYAK PENJELASAN TENTANG SOSOK SOE, walau mungkin sebenarnya gambaran2 yang ada masih terasa (seharusnya) kurang bagiku. Terasa dekat dengan kehidupan mahasiswa yang galau dengan aktivitasnya, yang tidak pernah kubayangkan ada pada sosok Soe yang tegar. ‘I’am not idealist anymore, i bitter realist”. Tegar menghadapi keadaan dia disukai oleh banyak orang dengan keberaniannya, “but nt more than that”.
aku masih melihatmu sebagai sosok yang misterius, soe hok gie.
Selasa, 7 Juni 2005 @ 9:20
Ucapan Pak Maxwell menurut saya adalah gambaran yang paling tepat tentang sosok Gie: “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional”
Pertanyaan saya sekarang, apakah kalau Gie masih hidup dia tetap akan mampu bertahan di tengah derasnya arus yang menyeret orang-orang macam dia ke jalur ‘mainstream’ kehidupan di negara kita?
Memang benar ungkapan bule: Only the good die young..
And what better way to die than by doing something you really like, and arround the person you really love..
Selasa, 7 Juni 2005 @ 13:54
soe hok gie, saya mengenalnya lewat diskusi kecil dengan seorang kawan yang kemudian berlanjut dengan membaca disertasi maxwell. menurut saya Gie adalah seorang patriot sejati sayangnya tidak banyak yang tau kalau karena geliat pemikirannyalah yang telah berhasil menumbangkan tirani orde lama, termasuk saya sampai beberapa tahun yang lalu.
Saya bersyukur Tuhan telah menciptakan orang seperti gie untuk hidup di Indonesia, dan paling tidak meskipun saat ini Gie secara fisik sudah tidak ada tapi pemikirannya, roh dan semangatnya masih tetap bergeliat lewat tulisan-tulisannya.
terima kasih untuk semangat mba mira karena sudah berhasil membuat film mengenai gie, dan membuat buku-buku serta tulisan-tulisan about gie menjadi mudah saya dapatkan.
gie tidak butuh gelar pahlawan karena dalam dirinya ada jiwa kepahlawanan sejati.
berlian dimanapun ditempatkan akan tetap berlian dan begitulah sosok gie.
Sabtu, 11 Juni 2005 @ 14:49
KEmana Gie-Gie yang baru? Tidak adakah Gie baru yang akan lahir? Indonesia perlu orang seperti Gie untuk memperbaiki bangsa,
Senin, 13 Juni 2005 @ 12:41
mmmm…saya salut sama Gie, yang pasti saya suka sama filosofis hidupnya “life for nothings”" gila banget nggak sih.., retorika oke banget, tapi yang paling saya salut lagi rasa nasionalisnya yang tinggi tanpa harus membuang identitas dirinya, saluttt Gie adalah figur aktivis yang tetap memperjuangkan sebuah bentuk eksistensi dan identitas yang terabaikann…..
Selasa, 14 Juni 2005 @ 9:53
menurut saya SHG merupakan demonstran sejati, apalagi dia pencinta alam.mahasiswa sekarang ini jarang sekali konsisten dengan apa yang dituntutnya.ga akan bisa menyamai jiwa patriotiknya SOE HOK GIE.hidup ini perlu perubahan kalau kita ga mau tertindas terus dengan adanya kebobrokan negeri ini.HIDUP REVOLUSI.TERUSKAN PERJUANGAN SOE HOK GIE
Senin, 20 Juni 2005 @ 16:40
kenapa sih tokoh utaama harus nicholas saputra?
Selasa, 21 Juni 2005 @ 8:05
hareee geneeee…!
kalo ada cowok yang karakternya seperti Gie, bakal gue kejar sampe dapet. Punya 1 kayak gini gak bakal abis! he he he …
Selasa, 21 Juni 2005 @ 11:00
g setuju ama fey! VIVA SOE HOK GIE..
Selasa, 21 Juni 2005 @ 13:03
tob…..jujur gw belum pernah baca bukunya, tapi gw uda tau dari bokap bokin gw yang seangkatan ama gie waktu di Mapala UI….no M-007 yang GIE punya aja keren james bond…..TOB abisssss.berprinsip dan tegar
Selasa, 21 Juni 2005 @ 13:41
Gie, sosok pahlawan yang dilupakan tapi baru diingat sekarang ketika film tentang hidupnya akan segera dirilis.. kenapa setelah sekian tahun?
Selasa, 21 Juni 2005 @ 20:51
seingatku belum pernah aku melihat dan mendengar seorang tokoh yang begitu keras dalam menetang komunisme dan juga nasionalisme semu jaman itu. ya hanya dari hok gie itulah aku belajar mengenal akan kehidupan yang keras dan harus idealis.
ada satu ungkapan yang ingin kukenang:“seorang prajurit hanya patut untuk dibanggakan tapi tidak untuk dimiliki” mungkin kaya gitu kalo salah benerin yaa…
seorang pejuang muda belia hidup Indonesia….
…semua orang tua harus mati dan kepemimpinan harus diserahkan pada orang-orang muda yang belum berjanggut…..
Rabu, 22 Juni 2005 @ 10:03
SOE HOK GIE, Mungkin sebagian besar orang Indonesia tidak tahu dan tak mau tahu tentang nama seorang pemuda bernama SOE HOK GIE. Beliau seorang mahasiswa yang berjuang demi suatu nilai kemerdekaan dan anti penindasan terhadap kaum lemah. Namun satu hal yang patut ditiru dari sosoknya adalah sikapnya yang anti kompromi terhadap kemunafikan. Namanya yang tidak pernah disinggung-singgung dalam buku sejarah mungkin karena pengaruh rezim saat itu ( Soe Har To-red). Sungguh seorang nasionalis sejati! Apabila dia masih hidup saat ini mungkin dia akan kecewa dengan apa yang dilakukan oleh berbagai elemen mahasiswa sekarang. Mereka hanya menjadikan isu-isu politik sebagai komoditasnya, artinya dalam berdemonstrasi kebanyakan dari mereka tak tau apa sebenarnya nilai dari perjuangannya. Merka hanya berjuang demi kelompoknya bukan demi bangsa.
Rabu, 22 Juni 2005 @ 11:15
saya sangat tertarik dengan sosok Soe Hok Gie. inspirasi penyusunan skripsi saya berasal dari difilmkannya pahlawan angkatan 66 ini. namun saya mengalami kesulitan dalam mendapatkan vcd film Gie dalam waktu dekat ini. kalau boleh bantauannya gimana cara memperolehnya. atau contak personnya. trim. sekedar informasi saya kuliah di UMM jurusan ilmu komunikasi. dan aktif dalam pergerakan mahasiswa
Rabu, 22 Juni 2005 @ 11:49
Gue juga mau share tentang pengalaman gue dan perkenalan gue dengan SHG melalui buku yang ia tulis.
sejak kecil waktu SD gue tuch ikut pramuka dan cukup sering kamping bareng teman teman. dari pengalaman gue tsb gue melihat alam indonesia yg begitu kaya, gunung yg megah, tanah nan luas dan subur namun PARA PETANINYA SELALU MISKIN
ketika gue kuliah dan aktif di organisasi kamus, mulai dari club pencinta alam, senat, bahasa inggris, jurusan, mahasiswa katolik dll dan yg menurut gue paling spesial adalah keterlibatan
gue dalam gerakan mahasiswa 98 dalam organ gerakan yg waktu itu sangat populer yaitu forkot dan famred saya nah dari situlah saya membaca buku Soe Hok Gie, ketika gue membaca buku itu kebetulan gue banyak menemukan kesamaan dengan SHG dia pencinta alam, jujur terbuka, peduli thd org miskin dan tertindas, sekolah katolik, seorang keturunan tionghoa, dan aktif dalam gerakan mahasiswa
hal tersebut makin membuat gue semakin terinspirasi bahwa yg gue jalanin untuk aktif di gerakan mahasiswa adalah jalan yang benar dan baik seperti apa yg telah di jalani oleh SHG bahkan bisa dibilang apa yg gue pikirkan dan gue rasakan dia rasakan juga
apalagi sebagai seorang tionghoa, bagi saya mungkin SHG juga merasakan ada yg aneh dalam dirinya yg tionghoa itu, bagi saya SHG seorang ‘MUTAN’ dan itu juga yang saya rasakan karena pada umumnya orientasi seorang tionghoa biasanya mencari pekerjaan seperti berdagang /jadi pengusaha dan minimal jadi karyawan semuanya untuk cari aman dan cari duit, jangan ngurusin hal hal yg aneh ( pandangan dari keluarga tionghoa pada umumnya sampai sekarang) tapi pastinya SHG berpikir yah sudah, tidak apalah menjadi seorang ‘MUTAN’ berbeda dan berjuang sendiri, merasakan dan menyimpan kesulitan nya yang tidak dirasakan oleh orang lain kebanyakan
mungkin waktu jamannya SHG orang tionghoa aktif seperti SHG masih banyak ada seperti Harry tjan, Sofyan dan Jusuf wanandi, kwik kian gie DLL namun coba lihat saat seperti ini dimana himpitan ekonomi begitu tinggi hampir sulit mencari kembali seorang tionghoa seperti SHG. apalagi tekanan politik kususnya kepada orang tionghoa dimana negara melakukan diskiriminatif formal dalam administrasi pelayanan publik
nah paling tidak gue berusaha mewujudkan apa yg menjadi cita cita SHG namun belum terwujud…. yah melihat indonesia sejahtera, adil dan makmur
Salam Perjuangan,
alexferry@hotmail.com
Rabu, 22 Juni 2005 @ 12:56
Kira2 jaman sekarang ini ada gak ya sosok seperti dia?
Rabu, 22 Juni 2005 @ 20:59
I’ll be waiting for the movie to be released, I’m really inspired by Soe Hok Gie after reading his stories TODAY, too bad I haven’t heard anything about him before it. Too bad they don’t tell his story on my middle and high school days. I wish this movie bring a lot of impact to Indonesia. Even though I my family moved *run* away from Indonesia after May 1998, I still wish the best for Indonesia and I’m sure sometimes in the near future I’ll be back to my homeland Indonesia.
Kamis, 23 Juni 2005 @ 3:32
Can’t wait to see the film on the 14th.
http://www.milesfilms.com/gie
Kamis, 23 Juni 2005 @ 7:36
[...] nta alam”, saya tidak pernah tahu bagaimana dan apa dia sampai sekarang ini, seperti yang ada di blog-nya Jay. Film ini pun akhirnya menjadi semakin menarik untuk di tonton. Ba [...]
Kamis, 23 Juni 2005 @ 14:02
a boy with age 15 to 27 could have thoughts the way SHG did, what an extraordinary. Can’t wait for the movie. Thanks for Mira Lesmana, Riri Reza & Miles Production for making the film. Now we and our children in the future know that Indonesia have a hero like SHG.
Kamis, 23 Juni 2005 @ 22:16
kalo goes to campus kapan2 bawa orang yg bener2 kenal gie, kalo ga….. bisa diberondong pertanyaan ama aktivis kampus…. kyk kejadian di unisba bandung, jawabannya terlalu subjektif dari pihak industri film, soallnye ga akan ada penetralnya, lebih menonjol debat daripada informasi tentang buku dan filmnya gie,
Jumat, 24 Juni 2005 @ 16:55
Soe Hok Gie, inspirasi buat mahluk aktivis, sekarang dibawa ke pelatarana yg lebih luas. Mudah-mudahan nggak jadi sebatas aksesoris pop [corn] culture seperti yg nimpa Che Guevara.
Gue pikir si Enda bener juga, Soe Hok Gie di jaman sekarang, mungkin bakal jadi seorang blogger.
Sabtu, 25 Juni 2005 @ 0:53
gie…andai aku bisa berdialektika dengan pemkiran mu aku yakin…. aku tidak akan menjadi apatis pada saat ini, namun kenyataan berkata lain…. pilihanmu dan pilihanku adalah kenyataanyang tak dapat di pungkiri lagi..
Minggu, 26 Juni 2005 @ 1:01
pertama baca buku catatan seorang demonstran waktu kuliah semester 1, gue rasa di masa Indonesia yang edan seperti saat ini, para generasi muda perlu untuk mengambil refleksi kehidupan Gie dalam kehidupan mereka saat ini, satu yang paling gua salut dari sosok Soe Hoek Gie adalah bahwa nasionalisme dan idealismenya tidak tumbuh berdasarkan etnis atau kesukuan melainkan berdasarkan keindonesiaannya yang secara pribadi menurut gua bahkan lebih besar dan mulia daripada Presiden Soekarno sekalipun
Minggu, 26 Juni 2005 @ 20:31
aku suka che guevara and soe hok gie.jadi aku mau nonton film tentang mereka.harus!!
Senin, 27 Juni 2005 @ 11:55
aduuuhhh…..
gw nyari bukunya nehhh…
pengen punya koleksi pribadi, abis nie manusia beNer2 TOP BGT SKL …
his soul is my inspiration
ga habis2 deh semangatnya, keidealisannya.
pokoknya gw terpesona ma yang satu ini.
Selasa, 28 Juni 2005 @ 0:03
“Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas-batas sejauh-jauhnya.”sebuah kalimat yang dikutip dari buku harian Soe Hok Gie inilah
yang mungkin bisa saya pakai didalam prolog tulisan ini, mengingat akhir-akhir ini sosok Soe Hok Gie sendiri akan
banyak menghiasi gedung-gedung bioskop melalui film GIE garapan Mira Lesmana. Tetapi siapa sih GIE?….
SOE HOK GIE adalah merupakan sebuah fenomena besar didalam sejarah dunia gerakan kepemudaan di Indonesia terutama gerakan Mahasiswa, dimana Soe Hok Gie adalah seorang tokoh yang mewakili gerakan pemuda pasca angkatan 45 (angkatan 66), … tetapi ada suatu fenomena menarik dan kontroversial dari diri Gie (begitu biasa ia dipanggil), yaitu
sebenarnya bagaimana kondisi pergulatan pemikiran dan perjuangan dari Gie sendiri, apakah ia seorang pejuang yang mempunyai idealisme untuk memperjuangkan tegaknya keadilan dan kebenaran bagi rakyat yang tertindas oleh kediktatoran dan kesewenang-wenangan penguasa di bumi pertiwi ini?…, ataukah dengan idealismenya yang keras dan berkobar-kobar tersebut justru malah membuat Gie terjebak didalam irama konstelasi politik yang telah diformat sedemikian rapi oleh suatu kolaborasi internasional yang kemudian meruntuhkan kekuasaan Orde Lama untuk kemudian digantikan dengan kekuasaan Orde Baru yang di back up oleh kekuatan negara-negara pemodal, hal tersebut sampai saat ini masih merupakan sebuah misteri besar, mengingat Gie sendiri adalah salah satu tokoh yang menggagas mengenai adanya kemanunggalan militer dengan Rakyat melalui konsep DwiFungsinya yang kemudian diselewengkan oleh penguasa Orde Baru untuk sebuah alat legitimasi kekuasaan yang sangat ampuh, bahkan Gie diketahui secara terbuka mendukung petinggi-petinggi militer saat itu untuk duduk di tampuk kekuasaan Orde Baru, tetapi apakah Gie sama sekali tidak pernah menyadari bahwa ada suatu skenario besar yang dibuat oleh militer dan negara-negara pemodal untuk memperlancar masuknya ribuan investasi modal asing di Indonesia yang pada akhirnya justru akan menimbulkan suatu sistem penindasan yang amat sangat luar biasa bagi rakyat Indonesia, yang tentu hal ini akan sangat bertentangan dengan keyakinan Gie sendiri yang sangat anti teradap adanya penindasan terhadap umat manusia terutama golongan wong cilik?…
(didalam biografinya (CATATAN SEORANG DEMONSTRAN atau biasa disingkat dengan CSD) yang kemudian menjadi latar belakang dari pembuatan Film GIE karya Mira Lesmana yang akan beredar tak lama lagi, Gie sendiri pernah mengutarakan mengenai permasalahan ini kepada kawan akrabnya Ben Anderson, dimana ia berkata bahwa ia telah salah menaruh kepercayaan kepada Militer yang telah berubah menjadi sosok yang sangat fasis, Gie juga mengatakan pada Ben Anderson bahwa telah ada dehumanisasi besar-besaran di pulau Jawa dan bali sebagai dampak dari perubahan konstelasi politik pasca Orde Baru yang tentu saja membuat ia resah akan adanya penyelewengan-penyelewengan kepercayaan yang ia berikan kepada orde baru)….., tetapi sebelum kita lebih jauh merefleksikan hal tersebut alangkah lebih baiknya kita mengenali terlebih dahulu siapa sang demonstran ini yang mungkin saja masih terdengar asing bagi generasi muda saat ini (atau barangkali sosok Soe Hok Gie beberapa saat lagi akan menjadi sosok yang sangat luar biasa atau bahkan menjadi trend di kalangan generasi muda kita melalui filmnya yang dibintangi aktor ganteng Nicholas Saputra, ..kita tunggu saja tanggal mainnya)….
Sosok Soe Hok Gie sendiri dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, Anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, ini sejak kecil amat suka membaca, mengarang dan memelihara binatang. Keluarga sederhana itu tinggal di bilangan Kebonjeruk, di suatu rumah sederhana di pojokan jalan, bertetangga dengan rumah orang tua Teguh Karya. Saudara laki-laki satu-satunya Soe Hok Djien yang kini kita kenal sebagai Arief Budiman (akademisi, pengamat politik dan ketatanegaraan yang kini bermukim di Australia). Sejak SMP, ia menulis buku catatan harian, termasuk surat- menyurat dengan kawan dekatnya.
Semakin besar, ia semakin berani menghadapi ketidakadilan, termasuk melawan tindakan semena-mena sang guru. Sekali waktu, Gie pernah berdebat dengan guru SMP-nya. Tentu saja guru itu naik pitam. Didalam catatan hariannya yang kemudian dibukukan dalam CSD, ia menulis: Guru model begituan, yang tidak tahan dikritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau. Begitu tulis anak muda yang sampai hari ajalnya, tetap tak bisa mengendarai sepeda motor, apalagi nyupir mobil. “Gue cuma bisa naik sepeda, juga pandai nggenjot becak.”.
Sikap kritisnya semakin tumbuh ketika dia mulai berani mengungkit kemapanan. Misalnya, saat dirinya menjelang remaja, Gie menyaksikan seorang pengemis sedang makan kulit buah mangga. Dia pun merogoh saku, lalu memberikan uangnya yang cuma Rp2, 50 kepada pengemis itu. Di catatannya ia menulis: Ya, dua kilometer dari pemakan kulit mangga, ‘paduka’ kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik-cantik. Aku besertamu orang-orang malang.
Gie melewatkan pendidikannya di SMA Kanisius. Tahun 1962-1969 ia melanjutkan studinya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan ilmu sejarah. Ketika keadaan perekonomian di tanah air semakin tidak terkendali sebagai akibat adanya depresi perekonomian pada sekitar dekade enampuluhan yang mengakibatkan kemudian pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan seperti pemotongan nilai mata uang (Sanering) yang menurut Gie hal ini akan semakin mempersulit kehidupan rakyat Indonesia . Dia mencatat: Kalau rakyat Indonesia terlalu melarat, maka secara natural mereka akan bergerak sendiri. Dan kalau ini terjadi, maka akan terjadi chaos. Lebih baik mahasiswa yang bergerak. Maka lahirlah sang demonstran.
Mulai saat itulah hari-hari Gie diisi dengan berbagai aktivitas didalam dunia pergerakan seperti rapat-rapat, demonstrasi, aksi pasang memasang ribuan selebaran propaganda, sampai dengan ancaman teror serta cacian dari penguasa karena aktivitas pergerakannya menjadi suatu hal yang lumrah bagi Gie, Aku ingin agar mahasiswa-mahasiswa ini, menyadari bahwa mereka adalah the happy selected few yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya … Dan kepada rakyat aku ingin tunjukkan, bahwa mereka dapat mengharapkan perbaikan-perbaikan dari keadaan dengan menyatukan diri di bawah pimpinan patriot-patriot universitas begitu tulisnya. Tahun 1966 ketika mahasiswa tumpah ke jalan melakonkan Aksi Tritura, Gie kemudian menggabungkan diri didalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) ia termasuk di barisan paling depan.
Seperti yang telah diceritakan diatas, Gie adalah juga salah seorang tokoh kunci terjadinya aliansi mahasiswa-Militer pada tahun 1966. Gie sendiri dalam buku CSD, menulis soal aktivitas gerakannya tersebut: Malam itu aku tidur di Fakultas Psikologi. Aku lelah sekali. Lusa Lebaran dan tahun yang lama akan segera berlalu. Tetapi kenang-kenangan demonstrasi akan tetap hidup. Dia adalah batu tapal daripada perjuangan mahasiswa Indonesia. Batu tapal dalam revolusi Indonesia dan batu tapal dalam sejarah Indonesia. Karena yang dibelanya adalah keadilan dan kejujuran … Jakarta, 25 Januari 1966.
Mungkin dari sedikit gambaran diatas maka saya maupun pembaca yang budiman telah bisa memprediksi bagaimana sosok dan kepribadian seorang Gie yang sayang sungguh sayang ia sendiri kemudian malah justru terjebak (atau malah bisa juga dijebak) oleh berbagai kepentingan politik dari golongan-golongan yang ingin memaksakan nafsu kekuasaannya di tanah air. Ok…saya, … dan anda para pembaca di rumah pastilah akan menganggap sosok Gie sebagai seorang penggerak kekuatan moral, humanis sejati dan idealis yang bergairah……SO KAPAN DI INDONESIA ADA GIE LAGI…..MERDEKA!!…..1000%
Selasa, 28 Juni 2005 @ 0:08
ERNESTO “GIE”GUEVARA
Selasa, 28 Juni 2005 @ 10:31
situasi ekonomi dan politik paska pemilu 2004 telah memberikan kesimpulan bahwa:
pertama, seluruh penguasa borjuis telah gagal memberi jalan keluar bagu krisis kesejahteraan rakyat. kegagalan klas pengusa borjuis memberi karakter penguatan dan aktid dari tindakan tindakan politik rakyat. kenyataan bisa dilihat dari hasil2 pemilu 2004 dimana mana elit2 dan partai2 tradisional mengalami kekalahan dan kemerosotan dukungan yang signifikan. sementara karakter aktif massa semakin menonjol dalam berbagai peristiwa politik di lokal dengan aksi massa anti korupsinya di kampar dan larantuka, temanggung dan lain2 sebagainya, maupun di panggung nasional dimana tidak lama setelah sby terpilih disambut dengan pergolakan massal kaum buruh menuntut kenaikan upah di berbagai kota. angka golput hampir mencapai 30 % memberi indikasi kuat bahwa banyak rakyat tidak mau di bohongi lagi oleh kontestan pemilu yang terbukti tidak mempunyai program yang dapat memberi keyakinan jalan keluar yang diharapkan.
kedua: dukungan rakyat yang meperbesar terhadap pks dan partai demokrat dan juga kemenangan sby dalam pemilu presiden menegaskan karakter dan kehendak yang kuat dari rakyat akan perubahan. persoalannya karena ketiadaan alternatif kekuatan progresif dan revolusioner dari ajang pemilu membuat dukungan rakyat sebagian mengalir pada partai reformis borjuis kecil seperti pks dan partai manipulator baru yaitu partai demokrat. sekalipun demikian dengan karakter kesadaran yang semakin maju ini dukungan rakyat tersebut bukan berarti dikendalikan oleh pks, partai demokrat dan sby.
ketiga: bahwa kelas penguasa borjuis indonesia tidak memiliki keberanian melawan dan melikuidasi kepentingan2 negeri2 imperialis yang menghambat potensi kemajuan tenaga produktif dan kemampuan industrialisasi nasional dalam negeri maka krisis kesejahteraan rakyat sudah pasti gagal diatasi. selama perekonomian nasional masih dibelenggu oleh kebijakan2 yang menghamba pada kepentingan imperialis neoliberal dan secara politik kekuatan masih di dominasi oleh kaki tanganya maka kepentingan mayoritas rakyat kaum buruh, tani, rakyat miskin kota, dan pemuda akan terus diselewengkan. kenaikan harga bbm telah menjadi bukti nyata bahwa sby – kalla merupakan kaki tangan kaum imperialis neoliberal yang harus dilawan oleh rakyat. namun aksi2 protes saja belumlah cukup. sekali lagi rakyat membutuhkan kekuatan dan pada akhirnya kekuasaan politik alternatif yang sanggup melawan musuh2 pokok rakyat.
persatuan dari unsur2, individu, organisasi yang progresif revolusioner dengan unsur2, individu, agamawan, kaum intelektual, kaum demokrat, pemuda dan mahasiswa yang pro rakyat adalah alternatif politik satu2nya yang dibutuhkan dan merupakan program perjuangan rakyat yang bersifat mendesak. kekuatan alternatif inilah yang sudah pasti didukung oleh rakyat, dan akan mampu menyiapkan langkah2 politik bagi kepentingan rakyat untuk membangung pemerintahan bersih, demokrasi, merdeka, modern dan internasionalis.
” jika seorang gie berani melawan pemerintahan boneka imperialis amerika pada masa orde baru, dan kolonel fidel castro berani melawan amerika, mengapa jenderal susilo bambang yodhoyono tidak berani? “
Selasa, 28 Juni 2005 @ 17:42
waktu taon 98 dulu…apakah temen temen sempet baca nggak buku nya….?
Selasa, 28 Juni 2005 @ 21:26
aku berharap kawan2 mahasiswa semua bisa menjadi diri sendiri seperti soe hok gie menjadi seorang soe hok gie. janganlah kita menjadi apatis terhadap masalah yang semakin menjamur di tengah2 kehidupan kita saat ini.
SALAM 1/2 MERDEKA
Rabu, 29 Juni 2005 @ 10:20
sugoi!dia pemberani, ‘the real fighter’, …
maaf buat gie, aq hanya bisa meresapi nilai darimu.aq yang seperti semut di balik hutan ini hanya dapat merasakan…dirimu tegar bagai…
jujur aq tertarik dg kisahmu ketika melihat klip soundtrack-mu pas ndaki.
jika kau hidup di masa ini, mungkin kau orang yang dpt memahami seorang 543…
Rabu, 29 Juni 2005 @ 20:13
suatu hari aku menulis email untuk untuk editorku yang baik,
entah kenapa ketika aku mendapati sebuah tulisan di Kompas (tanggal dan tahun aku lupa)bahwa catatan harian seorang demonstran akan di cetak ulang. rasanya aku gembira dan senang apalgi setelah sekian hari mencari buku itu di palasari bahkan sampai ke shoping center di Jogja aku tidak mendapati Catatan Seorang Demonstran.
ternyata dugaanku benar, ketika miles mau bikin film tentang Soe Hok Gie, aku sudah berpikir bahwa LP3ES akan kembali menerbitkan buku itu, tentunya mereka melirik pasar setelah booming film Gie.ternyata benar adanya, CSD di terbitkan lagi. jauh-jauh hari aku sudah membaca catatan seorang demonstran (CSD) dari yang sudah ada analisisnya dari john maxwel sampai kumpulan tulisan Gie di buku berjudul Zaman Peralihan yang diterbitkan oleh penerbit Bentang. lantas kenapa tiba-tiba saja aku enggan untuk menyamakan antara Soe Hok Gie dengan Nicholas Saputra?
Soe Hok Gie adalah seorang seorang aktivis tulen memperjuangkan idealisme, membela rakyat indonesia, menyuarakan keadilan. lantas siapa itu Nicholas Saputra, seorang aktor yang multi talent, berdedikasi dan berkarakter. namun se-karakter-karakternya aktor, tetaplah aktor yang bisa berperan dalam setiap adegannya. bukan seorang aktivis atau pejuang idealisme yang rela berpanas-panas ditengah demonstran, berani menghadapi popor senapan para polisi.
adakah kesamaan antara Soe Hok Gie dengan Nicholas Saputra? jawabannya tidak. Soe Hok Gie dibesarkan dalam lingkungan yang sederhana, suatu hal yang kontras dengan Nico, ia dibesarkan dalam lingkungan yang sudah sedemikian mapan, dengan glamournya ibukota dan arus informasi yang cepat.
Walaupun keduanya adalah mahasiswa UI, akan tetapi tentunya dengan latar belakang UI yang berbeda saat Gie pertamakalinya masuk kuliah dengan Nico yang masuk ke UI di jurusan Arsitektur
siapa itu Gie lalu siapa itu Nico, orang lebih mengenal Nico daripada Gie, ini jelas menggambarkan sebuah realita yang kontras di generasi yang semakin dimanjakan oleh jaman, orang semakin lupa dengan sejarah. barangkali Inul lebih heboh dari pada Butet Manurung atau Ratna Sarumpaet, atau bahkan orang lebih mengenal Anjasmara, Tora Sudiro daripada Budiman Sudjatmiko dll.
Gie dan Nico, aku yakin lebih mengenal Nico dari pada Gie, lantas sampai kapan bangsa ini akan selamanya sejarah kabur oleh popularitas? aku tidak tahu, yang tahu hanya jaman yang terus menerus berputar. inilah sedikit tulisan yang ingin aku bagi denganmu sebelum mengirimkan tulisan ke kompas.. semoga saja lahir Soe Hok Gie dan Nico yang lebih peka pada realita kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kamis, 30 Juni 2005 @ 10:15
Pada dasarnya Soe Hok Gie adalah manusia biasa sama seperti massa rakyat Indonesia lainnya, namun latar belakan keluarnga dan lingkungannya secara tidak sengaja membentuk kepribadianya yang unik dan khas, terutama pada saat di sekolah di kanisius dan berkuliah di Univ Indonesia. di sekolah dan kampus itu Soe Hok Gie secara kebetulan & hobby membaca bacaan “terlarang” pada massa itu dan sanggat tidak lasim dibaca oleh anak muda seumurannya dan sangat dengan cepat deresapi dan ia pahami. mungkin kalo saat ini anak anak seumurannya paling sukanya baca novel cinta, buku doraemon, komik picisan murahan, komik porno, Buku stensil porno, film porno, chat porno, dll.
Dengan membaca buku buku berat/idealis/ filsafat dapat merubah pemikiran, karakter, watak seseorang sehingga bebuah pemikiran pemikiran baru dalam konteknya sendiri sendiri, mungkin pada saat Pram menulis buku buku waktu dibui, dia sadar/tidak dapat men”tranfer” gagasan gagasan nya kepada orang orang muda
sebenarnya pula orang orang yg seperti Soe hok gie cukup banyak saat itu ( dan masih hidup saat ini) nah yg paling berbeda adalah dalam hal Menulis / mendokumentasikan Pengalaman dan Pemikiran pemikiran yang melintas dalam otaknya pada saat mengalami suatu kejadian/peristiwa yg cukup menyentuh hati
semoga saja Film “Gie” tidak hanya menjadi Icon Ciptaan Industri Film yg kehilang makna perjuangan
Semoga saja Film Ini juga dapat merubah pikiran pikiran anak anak muda, anak anak kampus yang mapan yg saat ini lebih cenderung hedonis dan malas membaca (seperti saya dulu )untuk berpikir lebih maju melihat permasalah bangsa dan kemanusiaan yg berantakan Lebih berantakan saat Soe hok gie
Kamis, 30 Juni 2005 @ 16:36
u: mu
bebas adalah sebuah dunia impian
dan rindu hanya sebatas angan
terperangkap dan pengap
dalam sunyi dan beku duniaku
aku ingin bertemu dirimu!
we need to find likeminded companion
—one lonely night in my desert—
g kagum bgt ama kekuatannya u/ susah n mao berjuang, bikin g malu sumetimes
Sabtu, 2 Juli 2005 @ 10:46
Gie adalah sosok manusia yang memiliki pandangan tentang hidup, kemanusiaan, dan kebebasan yang orang lain tidak pernah punya…….. Dia telah menang sebagai seorang manusia sejati yang tidak termakan jaman, harta, dan kekuasaan
Minggu, 3 Juli 2005 @ 9:09
another pop-culture era? jangan kaget kalau besok ada pin “gie” bersanding dengan pin “che guevarra” di kaki lima, lantas kaos, topi dan pernak pernik lain nya. & a “Gie” wannabe born …
“Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas-batas sejauh-jauhnya.” 4 kalau sekarang; “Skeptis & Oportunis”
Ah 14 Juli terlalu lama
Senin, 4 Juli 2005 @ 11:42
Kemarin sempat lihat trailernya dan mengikuti bincang2 mengenai film Gie. Kalau dilihat romantisme yang ditangkap oleh film makernya dan diterjemahkan dalam film memang sepintas( sepanjang trailer yang hanya beberapa menit) seindah motorcycle diaries. Sebetulnya nggak ada salahnya juga menyamakan Soe Hok Gie dengan Ernesto ‘che’ Guevara, in terms of their similar honesty, humanism, sensitivitas terhadap persoalan masyarakat sekitarnya, kegelisahan terhadap ketidakadilan dan kemauan untuk melakukan perubahan. Nilai-nilai yang sebetulnya sama-sama mereka anut yang sering disalah artikan oleh orang lain sebagai radikalisme, mungkin karena kesempatan yang tersedia untuk melakukan perubahan di jamannya adalah melalui turun ke jalan(Gie) dan gerilya/revolusi(Guevara). Tapi perlu diingat bahwa Gie juga mencoba melakukan perubahan melalui tulisan dan Guevara dengan menerapkan ilmu kedokterannya langsung ke masyarakatnya. Ada banyak cara menghargai kemanusiaan pada tempat yang sebenarnya.
I love motorcycle diaries and I am looking forward to see Gie on film.
Selasa, 5 Juli 2005 @ 2:10
kenapa yang diterbitkan hanya catatan hariannya saja. sementara tulisan-tulisan dia dikoran atau dimedia cetak manapun juga penting dipublikasikan.
karena, kita belum pernah tau tulisannya setajam apa. dan itu juga patut dibahas, sebab menyangkut setting dan peristiwa tidak hanya difilm tapi sudah menjadi sebuah catatan journal.
apa cuma di internet saja kita mendapatkannya.
dan tidak mungkin membawa bawa komputer, laptop atau cd yang tidak pernah sempat kita liat.
bagaimana SETUJU DENGAN IDE SEPERTI INI?………………SETUJUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU
YA……MARI KITA MANGGUT-MANGGUT KAYA SAMA SAMA..GUT…GUT….GUT…GUT!
dan sebenarnya kebebasan seperti apa yang kita harapkan?…..
jujur saja kebabasan soe hok gie adalah ketika dia berada dipuncak gunung semeru dan setelah itu ia sangat benar benar bebas dari semua ketimpangan ketimpangan dunia ini…….
ada falsafah mengatakan “hidup hanya mampir untuk minum”"”"…
tak ubahnya jim morrison, jimi hendrix dan orang-orang yang mati muda. mereka adalah legenda!
begitu juga soe hok gie, karyanya muncul ketika dia meninggal.
seumpama dia hidup sampai saat ini mungkin pemikirannya tidak banyak diketahui orang.
sebab semua akan menjadi datar seperti hari hari yang lain, menjadi satu dengan kebusukan, rutinitas,
ketimpangan, kegembiraan, bahagia.
hingga tak ada lagi sesuatu yang responsif dalam kehidupan…………….mungkin!
Selasa, 5 Juli 2005 @ 11:26
looking forward for “GIE” and hope it will not be too “pop”, “hip”, and “cool” and definetely NOT creating THOUSANDS of WANNABEs…..and missing the whole “essence” of it!
Selasa, 5 Juli 2005 @ 12:24
Gie? KEREN BANGET…sangat menginspirasi…
baru kali ini takjub sama orang yang dah ‘pergi’ dan menyesali kenapa dia pergi..
semangat Gie berassa banget! untuk aku, orang yang baru denger namanya sekali dan langsung tertarik dengan cerita hidupnya..dan malu, kenapa aku ga punya semangat sebesar itu…
..mmm…aku setuju sama tunggul-jogja, kenapa artikel-artikel Gie nggak dipublikasikan juga.
Mungkin aku mahasiswa yang telat, yang nggak banyak tahu tentang sejarah (karena memang sebelumnya nggak tertarik sama sekali..), karena aku pikir ‘full of lies’, iya ga sih..?!
sejarah Indonesia terlalu muluk, terlalu mengagungkan nama Soekarno dkk.
Gimana kalau kisah Gie dijadikan bahan yang harus dipelajari oleh anak SMP atau setidaknya SMA-lah, tapi harus detail banget… asli…seadanya..Yah, biar mereka tahu aja gimana sebenarnya Indonesia, biar mereka tahu lebih awal…biar mereka ngerasain semangat Gie…biar ga nyesel karna tau-nya telat, kayak aku…..(Amien)…
Catatan seorang Demonstran..bener-bener membuka mata tentang busyuk-nya POLITIK…andil seorang Gie…ummm..spechless..Panutan mahasiswa!
aku denger katanya mau di buat film ya? Nocholas Saputra? Again? hehehe…Ya mudah-mudahan dia (Nicho) bisa ngejiwain perannya…Semangat!!
Selasa, 5 Juli 2005 @ 13:31
gie, siapa ya? orang orang skarang pasti bertanya demikian! penguasa orba seeh ga memasukan kisah soe hok gie kdalam buku sejarh, mungkin mreka takut kali ye! ORBA pecundang GIE pemenang
Rabu, 6 Juli 2005 @ 3:37
MUNGKIN SHG ADALAH SEBUAH SEJARAH YANG TERLUPAKAN OLEH ANAK BANGSA….
MUNGKIN SHG JUGA ADALAH PAHLAWAN YANG DILUPAKAN OLEH PENERUSNYA……..
ATAU MEMANG PERJUANGAN SHG MEMANG SENGAJA DIKABURKAN UNTUK MENUTUPI KEBERINGASAN POLITIK ORLA DAN ORBA…………
APAPUN ITU USAHANYA….., SAAT KEBANGKITAN ITU AKAN DATANG JUGA DIMANA SEJARAH YANG SESUNGGUHNYA AKAN LANTANG MENERIAKAN KEBENARAN……….
INILAH SAAT YANG TEPAT UNTUK MENGENALKAN SOSOK SOE HOK GIE PADA GENERASI PENERUS BANGSA INI YANG SUDAH DIBUTAKAN OLEH PENGHINAT2 PERJUANGAN MAHASISWA…………
HIDUP HOK GIE………..
SAYA HATURKAN BANYAK TERIMA KASIH KEPADA MILES FILM YANG TELAH MENGANGKAT SOSOK YANG TERLUPAKAN INI……………..
ADA KUTIPAN HOK GIE YANG MENCERMINKAN KEMISTERIUSAN DIRINYA
“NO BODY CAN SEE MY TROUBLE, NOBODY KNOWS MY SORROW”
Rabu, 6 Juli 2005 @ 7:19
Sorry tetap tidak bisa melihat muka Nicholas yang terpampang di buku itu, mensitir komentar sebelum-nya; “Sampai kapan sejarah akan ditaklukkan oleh popularitas?“
Rabu, 6 Juli 2005 @ 8:50
stuj, Ndaru. With all due respect to Nicholas Saputra dan mbak MIra Lesmana yang men-quote ” don’t judge a book by its cover”, it’d be better if LP3ES menggunakan salah satu foto SHG untuk cover atau menggunakan foto yang sama seperti di buku terbitan tahun 1983 (Arif Rahman Hakim delivered speech in front of mass of students) .
Rabu, 6 Juli 2005 @ 11:02
romantisme masa kuliah…
gw penasaran pengen liat filmnya…
apa ada adegan “toetje” si supir bus
Rabu, 6 Juli 2005 @ 21:25
iya Ris, sekalipun mungkin SHG tidak se-fotogenik Nicholas Saputra

But it’s SHG for God’s shake!
Minggu, 10 Juli 2005 @ 14:43
Gie sama aeperti Chairil Anwar, yaitu sama – sama orang yang mati karena kejamnya keserakahan atas hak dan kewajiban.
Senin, 11 Juli 2005 @ 18:26
gw sama dengan ndaru, soe hok gie itu bukan nico dan nico itu bukan gie, yang menulis di CSD itu demonstran (gie).. apakah nico seorang demonstran? bukan kawan.. kapan kita lihat dia bergerak atas nama nurani untuk melihat ketimpangan di negeri kita ini..
Selasa, 12 Juli 2005 @ 8:27
Tidak tau sebenarnya kalau tidak dibuat filmnya, maklum tak terlalu suka dengan sejatah namun setelah tau tentang GIE dari web GIE, saya akan lebih tertarik dengan Indonesia
Selasa, 12 Juli 2005 @ 16:43
[...] Ah itu pembaca acara pasti belum cari data yang lengkap tentang Gie. Masa Soe Hok Gie meninggal di Gunung Gede? please deh…. kalo mau cari data sedikit lewat berbagai blog atau google, pasti dia akan tau kalo Soe Hok Gie itu meninggal di Gunung Semeru. [...]
Selasa, 12 Juli 2005 @ 21:17
The Individual Defines Everything…
Gie, itu sudah mati… Sayangnya secepat orang terpesona kepada dia dan secepat itu juga melupakan apa misinya. Pahami apa yang menjadi latar belakang ia berbuat. Be yourself not be like Gie… ambil hikmahnya teruskan perjalananmu, bila ada kata yg berkenan, jangan diingat, jangan dihapal, jadikanlah ia garam dan kamu air…biarkan ia larut…
Que Sera Sera,
Tlessh
Selasa, 12 Juli 2005 @ 22:10
hari jum’at besok gue mau nonton filmnya ama cewe gue. semoga tidak mengecewakan…
hidup perfilman Indonesia!
Rabu, 13 Juli 2005 @ 15:57
[...] Siapa tokoh ini? Mengapa begitu penting hingga difilmkan? Memang sosok Gie begitu fenomenal dan menjadi salah tokoh pemuda yang sarat dengan kritik sosial akan perubahan di era ‘66. (Lihat profile Gie di salah satu artikel yang pernah saya posting atau Blog Jay). [...]
Rabu, 13 Juli 2005 @ 18:00
smoga spirit Soe hok Gie ga cuma jadi tren sebuah pop culture karena film nya baru akan rilis!!! fight just like Gie!
Rabu, 13 Juli 2005 @ 18:02
smoga spirit Soe hok Gie ga cuma jadi tren sebuah pop culture karena film nya baru akan rilis!!! hope that there’s another Gie in this new era……
Kamis, 14 Juli 2005 @ 0:42
Soe Hok Gie (SHG) adalah sosok pemuda yang mencerminkan kegigihan, kesederhanaan, dan keberanian, walaupun ia dilahirkan sebagai seorang Cina yang notabene pada jaman orde lama (tidak juga pada jaman orde baru atau setelah tumbangnya orde baru) bukanlah merupakan sesuatu pilihan yang mudah untuk memilih sikap hidup seperti SHG, tapi dia membuktikannya. Ketidakmudahan ini dapat dilihat dari ketiadaan nama SHG dalam berbagai buku sejarah di sekolah-sekolah, padahal dia dianggap salah satu orang yang menggerakan perjuangan pemuda Indonesia di tahun 1966. SHG seharusnya menjadi panutan generasi muda sekarang (tidak hanya untuk orang-orang keturunan di Indonesia) dan yang akan datang dimana disaat ini makin banyak lagi generasi-generasi tua ataupun muda yang bagaikan monyet tua yang masih bermain dalam kandang yang sama.
Setelah hampir 36 tahun kematiannya di puncak G. Semeru, sosok SHG kembali muncul ditengah-tengah kondisi tanah air yang makin caruk-maruk lewat film GIE. Mengapa baru sekarang? Adakah karena kebosanan, kejemuhan, dan kemuakan atas kehidupan politik bangsa Indonesia saat ini dimana para monyet tua dan para calon monyet tua hanya bisa selalu mengatasnamakan demi rakyat Indonesia ketika mereka tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan? Biarlah sekali lagi jaman yang akan membuktikan semuanya ini.
Kamis, 14 Juli 2005 @ 5:41
hidup sosialisme………………………………………….
gie, kamu ………..top
tapi karena kamu juga soekarno jatuh, dan beralih ke soeharto. itulah dosamu.
32 tahun negara ini terbodohi……………………..
………………………………………………………………
gie……….. gw yakin lo adalhy kiri……………………
Kamis, 14 Juli 2005 @ 5:47
ampunilah dosa gie………………
kamu seorang intelektual.gie, tapi kenapa justru negara ini kau alihkan ketangan orang yang lebih berbahaya……….. SOEHARTO……….. Gie, aku tau kamu menyesal setelaH SEMUA ITU TERJADI……… Gie………. kami selalu mendoakan mu.
hidup. soSIALISME……….
HIDUP KIRI………..
SAMA RATA……….. UNTUK SEMUA UMAT MANUSIA
TANPA ADA PERBEDAAN KELAS………
DAN MENGEMBALIKAN MANUSIA SEBAGAI MAHLUK SOSIAL SEPENUHNYA…………
ONE SOLUTION ……………REVOLUITON…………..!!!!!
Kamis, 14 Juli 2005 @ 5:48
ampunilah dosa gie………………
kamu seorang intelektual.gie, tapi kenapa justru negara ini kau alihkan ketangan orang yang lebih berbahaya……….. SOEHARTO……….. Gie, aku tau kamu menyesal setelaH SEMUA ITU TERJADI……… Gie………. kami selalu mendoakan mu.
hidup. soSIALISME……….
HIDUP KIRI………..
SAMA RATA……….. UNTUK SEMUA UMAT MANUSIA
TANPA ADA PERBEDAAN KELAS………
DAN MENGEMBALIKAN MANUSIA SEBAGAI MAHLUK SOSIAL SEPENUHNYA…………
ONE SOLUTION ……………REVOLUITON…………..!!!!!
Kamis, 14 Juli 2005 @ 10:09
GIE…, jujur aq lg denger namamu akhir2 ini, tp kmu tuh mirip bgt ama CHE, walaupun bentuk perjuanganmu berbeda, mgkin kalo kmu msh hidup soehartopun tidak akan menjadi diktator negeri ini sampai mei 98 kemarin…tp salut buat seluruh perjuangan n semangatmu, hidu anak gunung! hidup petualangan!HASTA LA VICTORIA SIEMPRE!
Kamis, 14 Juli 2005 @ 12:37
seorang yang hidup dengan prinsip kuat..sayang tidak hidup di saat ini, untuk melihat kebobrokan negaranya yang makin parah….seorang yang beruntung karena cepat meninggalkan semua kekacauan dunia.
Kamis, 14 Juli 2005 @ 15:39
apa yang salah kalo nico yang berperan sbg SHG? dia hanyalah seorang aktor yang memerankan tokoh bernama SHG.Tak perlu berpolemik tentang siapa pemerannya, akan tetapi coba resapi dan maknai dari pemikiran dan perjuanag SHG. Gie bukan malaikat yang tidak memiliki salah, dia punya andil dalam mendudukkan Soeharto menjadi Presiden kita dan kata banyak orang telah membodohi bangsa ini selama 32 tahun. Yang menjadi pertanyaan saya adalah dimana kalian semua ketika soeharto masih berkuasa, diam atau tak perduli kepada nasib bangsa ini? mungkin SHG memiliki dosa kepada bangsa ini akan tetapi dia juga memiliki andil dalam memberikan pandangan, dan tujuan untuk mensejahterakan bangsa ini. Kalo kalian tidak bisa menjadi demonstran atau pejuang seperti SHG cukup tonton saja Filmya tanpa berusaha menjadikan dia bahan politik yang tidak ada mutunya! Berterimakasihlah kepada pekerja seni kita yang telah mau untuk mengangkat kisah SHG ditengah budaya pop yang ada, berikan motivasi kepada mereka untuk dapat membuat film yang lebih bagus lagi.
Kamis, 14 Juli 2005 @ 15:46
seorang soe hoek gie dengan idealisme nya yang tinggi.. dengan tulisannya yang membangun.. dengan pemikiran yang dinamis.. sudah sangat jarang orang seperti itu sekarang..
salut..
Kamis, 14 Juli 2005 @ 16:16
Soe Hok Gie memang merupakan tokoh yang bisa menjadi teladan, tapi menurut saya apa yang menjadi opini saat ini tentang dia terlalu dibesar-besarkan.Kalau mau lebih fair banyak tokoh mahasiswa yang lebih layak untuk diekspos karena dedikasi, perjuangan dan pengorbanannya, misalnya Budiman Sudjatmiko, Andi Arief atau kawan-kawan yang gugur di Trisakti dan Semanggi.MENGAPA?!
Kamis, 14 Juli 2005 @ 20:00
Sosok Gie adalah mungkin seorang aktivis yang boleh dibilang jujur mengatakan apa yang dia suka dan apa yang dia tidak sukai, seorang Gie mungkin akan merubah aktivis – aktivis “gadungan” dimana aktivis “gadungan” selalu berteriak atas nama rakyat yang tertindas, mengatas namakan dirinya sebagai wakil para tani, buruh hanya untuk mendapatkan harta dari pemerintah sebagai uang tutup mulut, satu kutipan dari bukunya yang saya suka “….untuk mencintai Indonesia maka kita harus mengenal Indonesia…”, sebuah kalimat yang cukup tersirat yaitu bagaimana mungkin mahasiswa berteriak dan berkoar – koar atas nama rakyat sementara mahasiswa mungkin belum tahu rakyat yang mana yang mereka perjuangkan. Pemeranan Gie oleh Nicholas Saputra setidaknya mewakili darah – darah indo dan chinese yang merasa adalah bagian dari Indonesia.
Jumat, 15 Juli 2005 @ 0:20
gue terharu banget sama soe hok gie dan menurut gue pemainnya juga tepat banget si nicholas, soalnya kayanya pas aza gitu.
btw gue penasaran banget pengen nyari isi suratnya dia yang buat si ira waktu dia udah meninggal. di film itu si ada, gue ga tau itu beneran apa cuman ditambahin, ya semoga bukan cuma tambahan si, karena gue penasaran banget ama isi suratnya itu, ada ga yang bisa bantuin gue, email gue de
thanks berat
Jumat, 15 Juli 2005 @ 14:12
semoga dengan hadirnya film gie ini akan bisa menambah kekritisan mahasiswa yang sekarang sedang mengalami kejumudan
Jumat, 15 Juli 2005 @ 20:16
Bosan demo2 nga ada habisnya! EMANG INI REPUBLIK SETENGAH HATI! kok. Ngapain dipusingin? Rakyat sama penguasa sama saja, yang satu pemalas, yang lain tukang rampok.
Sabtu, 16 Juli 2005 @ 8:03
gue pingin sekali mo ntn film Gie soale ingin tau apa yg diceritanya, hidup trus Soe Hok Gie, semoga aja film ini sukses keseluruh publikasi and isi kehidupan SHG mampu
menyerapi keseluruh lapisan masyarakat indonesia yg tercinta ini . Salam and thanks banget buat Riri Reza, Mira Lesmana, Nicolas Saputra and seluruh kru yg lain memproduksi film ini.
Sabtu, 16 Juli 2005 @ 9:25
Mahasiswa Indonesia sekarang ini lebih condong kepada Che Guevara. Padahal di negeri sendiri ada Soe Hok Gie yang juga seorang aktivis idealis dan juga revolusioner. Sudah saatnya kita mengenalkan sosok Gie kepada para seluruh bangsa dab Gie sudah semestinya masuk dalam urutan daftar nama pahlawan nasional. Merdeka!
Sabtu, 16 Juli 2005 @ 21:06
[...] Catatan: Untuk buku yang lama seukuran 11×17 (lebar x panjang), sedangkan buku yang baru seukuran 14×20. Serta sampul depan yang baru berganti menjadi gambar Nicholas ‘Gie’ Saputra, ini menimbulkan kelakar untuk judul berganti menjadi ‘Catatan seorang Nicholas’ kata Jay. [...]
Minggu, 17 Juli 2005 @ 20:18
Saya baru saja menonton film tentang Soe Hok Gie. Hormat dan salut saya kepada semuanya yang terlibat dalam pembuatan film ini dan semoga film Soe Hok Gie ini dapat menjadi pemicu untuk membuat film-film yang berkualitas lainnya di kemudian hari.
Komentar saya mengenai Soe Hok Gie:
melihat kisah SHG saya juga teringat diri saya sendiri yang kurang lebih mempunyai pandangan yang sama mengenai kehidupan seperti SHG. Saya dilahrikan di Hamburg, Jerman dan sekolah di Jakarta SD kelas 1-6 lantas kembali lagi ke Hamburg sampai kuliah. Tahun 1992 saya kembali lagi ke Jakarta sampai sekarang. Saya menimati 2 sistim pendidikan di Indonesia dan Jerman. Saya mengalami kesulitan bahasa dan penyesuaian sikap dari sistim doktrin ke sistim keterbukaan untuk berdiskusi di Jerman. Namun dengan berjalannya waktu saya bisa menyesuaikan dan akhirnya lumayan berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan saya.
Pikiran saya mulai terinspirasi dengan sistim ajaran keterbukaan di Jerman yang lebih mengutamakan pembentukan manusia secara apa adanya dan menstimulasi untuk berpikiran secara sistimatis dan kritis. Pada saat saya disana saya malah pertama kali membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer dalam bahasa Jerman yang saya tidak sangka bahwa di Indonesia ada juga pemikir dan penulis hebat sekaliber Bapak Pram! Yang telah membakar rasa nasionalis dan idealis saya dengan karya-karya beliau.
Memang susah untuk hidup secara hitam atau putih. Dunia ini secara global adalah abu-abu. Kebanyakan orang memilih untuk berada di bagian yang abu-abu ini yang dalam kesahariannya dinamakan kemunafikan karena memilih untuk selamat dan tidak mau ambil pusing dan yang paling penting, berada dalam area abu-abu dapat bertahan hidup.
Di dalam film SHG pernah ditanya apakah SHG “kanan” atau “kiri”? Dengan sikap diamnya bukan berarti dia memilih untuk mengambil jalur abu-abu. Namun memilih untuk netral dan berjalan berdasarkan hati nurani “sederhana” yaitu “kemerdekaan sejati”. Tidak ke kiri, kanan, atas, bawah, depan atau pun belakang. Saya adalah saya dan tidak didikte oleh siapapun atau apapun dalam menjalankan hidup ini.
Seperti SHG pernah berkata bahwa di dalam ajaran Buddha dikatakan hidup ini adalah penderitaan. Saya bermaksud ingin melengkapkan bahwa menurut ajaran Buddha juga dikatakan bahwa dalam hidup ini hanya ada 4 hal yang pasti yaitu kelahiran, menjadi tua, sakit dan kematian yang akan dialami semua manusia di dunia ini. Sisanya tidak ada yang kekal di dunia ini. Makanya kehidupan disebut penderitaan. Perkataan yang begitu sederhana namun mencakup semuanya yang pasti akan kita alami. Bagaimana lepas dari penderitaan ini? Menurut teori dan ajaran Buddha yah dengan mengikuti ajaran-ajaran Buddha untk mencapai Nirwana. Selama tidak sanggup manusia akan selalu mengalami penderitaan ini. Apakah ini Kebenaran? Apakah tidak ada jalan lain lagi?
SHG berharap bahwa suatu hari Indonesia dapat merdeka dalam arti yang sebenarnya. Bebas dari penjajahan, korupsi, kolusi, nepotisme, keterbelakangan, kemiskinan dan ketidakpedulian. Katakanlah suatu hari memang telah tercapai. Apakah pemikiran ini tidak terlalu naif?
Kenapa naif? Saya katakan naif bisa dalam 2 hal.
Yang pertama, dengan tercapainya cita-cita tersebut benarkah pemikiran definisi “kemerdekaan” ini adalah jalan yang benar? Benar untuk siapa? Semua orangkah? Apakah benar ini yang kita mau? Atau yang kita butuhkan?
Yang kedua, untuk mencapai cita-cita tersebut apakah akan tanpa pengorbanan? Apakah tanpa pamrih? Akankah sejarah terulang lagi? Dimana si pejuang berubah menjadi musang setelah mencapai kekuasaan?
Manusia akan berubah dengan perkembangan jaman.
Tidak seorang pun mengetahui tujuan hidup ini. Dengan “frustasinya” SHG mengatakan berbahagialah bagi mereka yang tidak dilahirkan. Bagi mereka yang mati muda dan bernasib malanglah bagi mereka yang berumur panjang.
Peryataan yang menyedihkan namun sampai sejarah belum dapat memberikan ajaran yang dapat merubah keadaan, pernyataan terakhir SHG bisa jadi pemikiran yang benar untuk saat ini sampai ditemukan jawaban dan definisi yang lebih benar atas pengertian KEMERDEKAAN SEJATI.
anaksederhana@hotmail.com
Senin, 18 Juli 2005 @ 8:07
it’s so greats!
saya pernah melakukan penelitian tentang nasionalisme etnis tionghoa dan Gie adalah salah satu sosok yang seharusnya dilihat dan diteladani bagi generasi muda. saya sungguh terharu tentang kisah hidup Gie yang dia mampu bercerita tentang apa yang dialami dan dirasakan serta kisah hatinya dalam pelukan kata indah dan bermakna tinggi. salut buat mbak mira dan mas riri! Semoga semakin berkembang oak-oak lain yang akan terus tumbuh dan berkembang melawan badai di nusantara tercinta ini. Hidup Indonesia!
Senin, 18 Juli 2005 @ 10:45
–hurdling winds in the back–echoing voices in my head–
i watched the movie last nite, life is juz too short to juz stand still, do as many positive thing as we can…though the movie exposed too many political scenes (regret to say we didnt get to see the beauty of mahameru as the climax)…the songs are great (eerie)…
–body grow old n die turn in to ashes–spirit lives n soul never stop believing–
Senin, 18 Juli 2005 @ 11:01
…gie? ankmapala UI…
gw bner2 salut ma dy, perjalanan hidup yg dah dy lwatin bner2 beda sm pemuda2 kita, terutama skarang…termasuk gw juga…
kl da yg bilang Che Guevara=soe hok gie…GW STUJU BGT….
thankz giE…
Senin, 18 Juli 2005 @ 11:19
Gie.. adalah manusia biasa juga.. hanya saja, ia kemudian besar lewat sejarah pergerakan, dan kebetulan kemudian difilmkan. Namun, Gie.. bisa menjadi salah satu alternatif icon untuk pemuda-pemudi zaman sekarang. Yup, aku setuju dengan pembangkitan kembali sosok Gie. karena pemuda Indonesia yang kehilangan jati diri seperti sekarang ini sedang butuh sosok yang dapat dijadikan cermin. hanya sayang(sama dengan komentar teman2 yang lain), kenapa harus nicholas saputra? dan kenapa setting filmnya dibuat seperti film2 romantis lainnya. Memang.. kadang idealisme itu harus teatp tunduk pada keinginan pasar?gimana nie, mira lesmana?
Senin, 18 Juli 2005 @ 12:12
SHG membakar kembali darah muda kita
ya….
DARAH KEBENARAN
DARAH KEMANUSIAAN
DARAH KETULUSAN
DARAH KEJUJURAN
DARAH KEBERANIAN
DARAH KESUCIAN
DARAH KEMURNIAN
DARAH MERAH MENDIDIH untuk menghancurkan ketidakadilan, kemunafikan, kemiskinan kebodohan dan pelacuran diri terhadap kekuasaan, kemewahan dan jabatan.
HANCURKAN………….!!
HANCURKAN………….!!
HANCURKAN………….!!
Senin, 18 Juli 2005 @ 18:18
gie……..
revolusioner………
cinta mati muda adalah pilihan.
mendalam kritisi….hebat
gie….
gie….
gie…..
Senin, 18 Juli 2005 @ 18:57
hidup perjuangan ……gie….
hidup mahasiswa……..gie….
kebenaran harus ditegakan……gie….
teladan yang bijak sana……..gie….
Selasa, 19 Juli 2005 @ 4:56
gue kagak pernah baca sih bukunya, tapi gue penasarn banget pingin nonton filmnya, namanya aja gue baru dengar and baca dari internet sosok seorang gie itu seorang pemuda yang memperjuangkan kebenaran gue salut banget hidup gie, and gue nggak s etuju kalau mereka mengkritik nicholas nggak cocok memerankan tokoh gie jadi siapa dong?
apa mbak mira and mas riri ngambil mahasisswa yang suka demo gitu, namnya film pasti mbak mira ngambil pemain yang udah di kenal oleh masyarakat perfileman yang jadi idola anak2 muda sekarang, yang nggak ………….
dan oraang orang akan tertarik .ada daya jualnya gitu.aku tinggal di united kingdom apa bukunya udah beredar thanks yah
Selasa, 19 Juli 2005 @ 10:56
Gie adalah salah satu sosok yang seharusnya dicontoh dan diteladani bagi generasi muda pada saat ini dan pada masa datang, berjuang melawan kebobrokan bangsa.
Hidup GIE yang dulu….
Hidup Penerus-penerus GIE….
Selasa, 19 Juli 2005 @ 10:57
#129: Buku Catatan Seorang Demonstran dicetak berulang-ulang sejak 1983. Foto buku di atas adalah cetakan ke-9 yang saya punya
Sekarang dicetak lagi dan covernya diganti jadi foto Nicholas sebagai promo film Gie
Selasa, 19 Juli 2005 @ 13:42
Gie dan semua marchandisenya hadir bak sebuah fashion baru yang ditunggu dan dicari semuan orang. Baik mereka yang ngakunya sebagai aktivis sampai mahasiswa yang cenderung fashionable. “kegairahan” ini semoga membawa roh baru yang mampu menyentuh setiap insan manusia Indonesia untuk menjadi makin humanis dengan kehidupan kenegaraannya.
Selasa, 19 Juli 2005 @ 14:54
wow! aku jatuh cinta sama sosok Gie. bener-bener mahasiswa yang idealis dan tidak pernah gentar melawan tirani di jamannya.
filmnya keren abis walau menurutku durasinya kurang lama dan akting nico yg kurang greget aja, tapi baru kali ini aku setuju sama temen aku cewek kalau nico itu cakep.sebelumnya aku pikri cakepan aku hehheehe.
saya masih mahasiswa dan rindu dengan sosok Gie di jaman sekarang. mungkin juga malu dengan almarhum Gie jika beliau melihat mahasiswa sekarang yang jauh berbeda dengan mahasiswa yang dulu.
yup!Gie membuat aku cinta lagi pada Indonesia yang sebelumnya aku udah desperate banget lihat wajah indonesia yang amburadul. but, Gie beri aku semgt nasionalisime lagi.
tagline yang aku suka
puisi-puisi romantis Gie sewaktu ia pulang naik bus dan selalu teringat terus akan kematian.
Selasa, 19 Juli 2005 @ 20:32
mungkin hanya ada sedikit orang seperti gie, seorang idealisme muda yang murni berjuang atas nama keadilan dan kebenaran, aku membaca banyak tentang che guevara, yang aku anggap memiliki idealisme yang sama seperti gie. Bedanya, che guevara dihargai sebagai pahlawan, sedangkan pandangan terhadap sh gie berubah-ubah sejalan waktu. perjuangan gie dapat jadi acuan bagi para muda yang peduli keadilan di negeri ini. dan beberapa prinsipnya yang mesti kita ikuti; egaliter!
Selasa, 19 Juli 2005 @ 22:32
[...] Setelah menulis tentang Soe Hok Gie akhir tahun lalu sebagai rasa hormat saya atas buah pikirannya, akhirnya saya menonton juga film Gie yang dibuat oleh Miles Production. To the point saja, apa yang tertulis dalam buku “Catatan Seorang Demonstran”, “Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan” dan ulasan “John Maxwell: Soe Hok Gie – Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani” tidaklah cukup dipadatkan dalam sebuah film berdurasi dua jam. [...]
Selasa, 19 Juli 2005 @ 22:37
GIE sosok manusia yang kolot yang selalu berpikir dapat mengubah negaranya tanpa ada perubahan zaman.Dengan idealisme yang tinggi dia merasa sombong, setelah berjuang dia kehilangan objek yang diperjuangkannya kenapa? karena dia egois tanpa sadar telah membuat dirinya sendiri terjebak dalam revolusi dan tetap mempertahankannya tanpa ada resolusi.merdeka?dia mungkin merdeka dengan pemikirannya itu tapi apa dia tidak berpikir kalo orang disekitarnya merupakan budak dari demokrasi pada zaman itu dan apa dia berusaha untuk membebaskannya?TIDAK!thank’s Soe Hok Gie to be my inspiration.
Rabu, 20 Juli 2005 @ 4:16
ya ada bagusnya film gie diputar, melihat perkembangan mahasiswa sekarang yg cenderung ikut ikutan, ketimbang memberikan solusi yang meringankan rakyat di bawah garis kemiskinan.
ada beberapa analisa bahwa yang terjadi didalam jiwa anak muda indonesia sekarang ini mengalami krisis identitas, moral, sejarah, kepribadian. asal yang dilihat difilm itu bukan karena ” NICHOLAS SAPUTRA “. akan menjadi bahaya, karena ” NICHOLAS ” hanya pemain, ARTIS FILM YANG KEBETULAN WAJAHNYA LUMAYAN PUNYA NILAI JUAL!.
Saya pikir semua berharap film ini akan berhasil dalam segi kwalitas dan maksud apa yang disampaikan dapat mempengaruhi secara psikologis kepada mahasiswa dan anak muda indonesia pd khususnya, yang didogma sebegitu global. sehingga kekuatan kepribadiannya sebagai manusia sosial mulai berkurang………… ya kita lihat apa yang terjadi setelah film itu selesai diputar………………..
Rabu, 20 Juli 2005 @ 11:21
Soe Hoek Gie adalah sesosok panutan yang tidak akan pernah akan terulang lagi dalam sejarah kehidupan. ia adalah karya yang mengagumkan. aku sampai terhipnotis dengan perjuangannya yang tanpa pamrih, gigih dan kereeennn bgt!
Nicho uga keren menjiwai sekali!
kenapa yang dibahas hanya sekilas, seperti hanya catatan hariannya saja? aku ingin yang lebih dalem tentang Gie.
namun sayangnya, impian dan cita cita Gie masih belum terwujud hingga saat ini! karena zaman ini masih banyak bandit bandit besar yang berkedok atas nama agama. dan masih banyak orang yang membedakan golongan, hidup berblok2 dan sebagainya.
aku berharap, semoga mahasiswa mahasiswi sekarang mencontoh perjuangannya yang patut diacungkan 4 jempol, bahkan tak terhitung lagi dengan kata kata.
mahasiswa sekarang kebanyakan lebih bersifat hedonisme dan berhura hura, padahal bangsa ini juga sangat membutuhkan generasi penerus bangsa untuk diandalkan bagi masa depan. nyatanya, kini harapan sepertinya mulai sirna! tersapu, terkikis, dengan kebudayaan yang maju, akal dan pikiran yang berkembang, namun daya budi dan naluri bersih malah semakin menipis bahkan hilang dari peredaran. mnimal moral dulu yang diasah, dan diperbaiki. tidak seimbangnya pikiran maju malah semakin berbuat yang jauh dari dasar nurani! Gie masih adakah jiwa yang sepertimu dinegeri ini? kami ingin jiwa itu tetap mewangi dinegeri ini! oya, soal Filmnya… sepertinya Nicholas saputra maen di Gie udah nyaris sempurna yah? moga bisa berpengaruh pada kehidupan asli juga yah
Rabu, 20 Juli 2005 @ 14:34
its cool…..kamu telah berhasil membuat film menjadi propaganda yang positif….dan gw yakin bener kalo film itu punya pengaruh besar dalam perubahan pola fikir suatu bangsa, keluarga, individu sekalipun….ayo terus….go film go…trus maju ya…eh ia angkat juga juga dong film tentang pendidikan….yang sekarang ini pendidikan hanya jadi simbol mewah….soalnya gw putus pendidikan formal …ga punya duit…tapi bukan berarti gw ga berpendidikan kan…alam raya sekolah ku kata marjinal…biar filmnya rebel sekalian …. biar semua tau kalo aja rebel itu bukan berarti negatif….trus…yaudah deh…gw cuma mo berharap untuk perubahan yang lebih baik lagi….trus juga gw sangat berharap email gw dibales………ya udah ah…makasih….
Rabu, 20 Juli 2005 @ 14:39
Walaupun rol filmnya agak bermasalah di BSM, tapi gw cukup puas sama film GIE. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sana. Cita-cita Gie sampe sekarang belum terwujud, sebuah organisasi yang terlepas dari kepentingan golongan, SARA, dan kroni2nya. Ternyata ada juga seorang tokoh pemuda Indonesia yang nyempil dari perputaran dunia selama ini. Thanks MILES, udah memfilmkan sosok seorang gie yang udah ‘nyentil’ gw, dan mudah-mudahan seluruh pemuda di Indonesia.
Bangkitlah mahasiswa Indonesia..berdirilah dengan tegak, dan MANDIRI!
Satu hal lagi, penggambaran jomblonya Gie nohok bangat! Disaat dia mencari a shoulder to cry on, kalau bisa dibilang. JLEB! Dia cuma ketawa beberapa saat, pahit! Nico dah bagus memerankannya. Satu aja, Wulan Guritno mukanya terlalu modern untuk film itu!
Rabu, 20 Juli 2005 @ 14:53
Film Gie ini gw suka bgt n keren abizz critanya jd pgn naek gunung lg.dan menurut gw soe hok gie ini bnr2 hebat n teguh.dan krn filmnya ini jg gw jg jd mikir ternyata kenyataan yg ada spt itu n slm ini indonesia bnr2 penuh kepalsuan n diskriminasi yg munafik.
Gw pgn bgt ntn versi penuhnya yg ktnya total durasi 4 jam.tp yg diputer itu uda dicut jd 2 jam.n buku Gie itu bnr2 hrs dibaca n sgt dianjurkan utk semua org yg merasa dirinya adalah warga INDONESIA
Rabu, 20 Juli 2005 @ 14:54
menyongkel sedikit ingatan tentang seorang humanis, sosialis, sadar politik dan penuh kontemplasi dari bangsa yang mudah lupa. semoga filmnya menang award, buat nambah koleksi…
Rabu, 20 Juli 2005 @ 16:06
Sebuah pemikiran yang menyentuh sisi lain dari diri kita. kita sudah terlalu jauh meninggalkan sisi-sisi sosial kita. contoh nyata seorang gie..dia rela menjadi bagian dari sebuah komunitas yang terlupa…demi sebuah kata…..prinsip dan idealis
Rabu, 20 Juli 2005 @ 16:30
mencoba memahami Gie sama saja dengan mencoba untuk memahami perjalanan sebuah idealisme. gie begitu teguh mempertahankan idealismenya, bahkan cenderung tanpa kompromi dan blak-blakan. namun ada satu hal yang saya pikir cukup ironis terjadi pada Gie. Gie begitu teguh berupaya mempertahankan perjuangannya bebas dari pengaruh maupun konspirasi politik manapun. Gie selalu berupaya untuk mempertahankan kemurnian perjuangan khususnya gerakan mahasiswa. namun ternyata upaya ini gagal ketika ia terlibat di dalam gemuruh politik 1966. ia terjebak pada konspirasi politik yang dijalankan tentara untuk mendongkel kekuasaan tentara.namun bagaimanapun juga gie harus dihormati, perjuangannnya untuk mempertahankan idealisme hingga akhir hayatnya layak untuk diacungi jempol. bagi gerakan mahasiswa kegagagalan gie tersebut dapat menjadi pelajaran untuk menyusun model strategi perjuangan baru yang dapat meminimalisir bias politik namun dapat memaksimalisasikan implementasi idelisme. “Gie: Sebuah Idealisme Yang mencoba Untuk Mematerial”
Rabu, 20 Juli 2005 @ 16:35
Gie masih dapat diandalkan untuk menjadi ikon perlawanan kapan saja dan di mana saja.
Rabu, 20 Juli 2005 @ 18:56
Setelah menonton film nya, saya salut dengan pendirian dan sikap dia.
Dalam sebuah buku pernah saya baca bahwa kita adalah produk/hasil dari buku bacaan kita, salut untuk Gie dimana seorang anak umur 15 th dan bacaan nya menjadi seorang pemuda yang gigih dan mempunyai sikap hingga bisa menggulingkan pemerintah Orde Lama. Susah kali ya mendapatkan pemuda dengan sikap dan pendirian seperti dia di jaman ini, yang notabene disebut generasi MTV.
Semoga dengan film Gie ini, bisa melahirkan anak-anak muda yang se-brilliant Soe Hok Gie di tahun-tahun kedepan…
Hidup Rakyat!
PS: pas sudah akhir film dan membaca ahli sejarah nya John Maxwell, bener2 gak nyangka lho, ternyata seorang John Maxwelll telah me-riset Gie selama 10 th….plok plok plok utk Gie…
Hidup Young Generations! Hidup Riri Riza, Mira Lesmana dan teman2 yang menelurkan sebuah karya brilliant!
Rabu, 20 Juli 2005 @ 19:18
Ulasan dan komentar mengenai film GIE ditulis di kolom komentar catatan berikut saja http://yulian.firdaus.or.id/2005/07/19/gie/
oke oke?
Rabu, 20 Juli 2005 @ 19:18
Gie: Catatan Seorang Demonstran
Gie: Catatan Seorang Nicholas Demonstran
Senin kemarin, 18 Juli 2005, aku diajak nonton bareng cintah dan temennya, Nia, nonton film baru-nya Riri Reza, GIE. Tidak disangka-sangka, ternyata penonton berjubel juga. Aku datang ke loket 1.5 jam sebelu…
Kamis, 21 Juli 2005 @ 0:11
FILMNYA KEREN BERAt………….
SALUT…… riri reza…
SOE hok GIE bener bener hebat…..
two thumbs upp…
Kamis, 21 Juli 2005 @ 2:04
udahan nih credo buat “Gie” nya?
Kamis, 21 Juli 2005 @ 13:21
benernya sih masih banyak SHG SHG yang lain, cuman SHG ini aja yg terexpose
Kamis, 21 Juli 2005 @ 19:08
saya dah nonton ‘GIE’….dan komentar saya…..
cukup memuaskan…yah, walaupun niko belum memerankannnya dengan begitu pas.
saya dah baca buku tentang GIE dari semester 4, dan saya bener2 tergugah dengan semangat, prinsip dan perjuangannya!
dia bener2 berjuang sendirian, dia gak pernah memihak pada sisi manapun kecuali pada kebenaran!
dia benar2 cerminan seorang intelektual sejati.
kalau saja dia tidak mati muda, mungkin dia bisa kasih sebuah perubahan yang ‘lebih’ berarti buat INDONESIA…..
pokoknya salut buat GIE….!
Kamis, 21 Juli 2005 @ 19:45
[...] Tadi setelah dapat informasi dari Dudi, saya coba buka sekali lagi situs tersebut. Dan ternyata benar, situs sudah jadi dan lengkap ( malah mungkin contentnya sangat lengkap ). Saya buka satu persatu menu dari situs tersebut dan begitu saya buka menu Blog, ternyata terdapat link PAPD dengan nama Fendra. Disitu terdapat pula blog Jay yang merupakan salah satu sumber resensi dari tulisan saya tentang Soe Hok Gie. [...]
Kamis, 21 Juli 2005 @ 23:32
ehemm…sayang baru tau tentang SHG, setelah lulus kuliah, tapi gue yakin gak banyak mahasiswa seperti SHG sekarang ini, so.. be your self aja (ntar kalo ngikut2 malah di sangka norak dan jiplak) tapi jgn lupa ama semangat dan perjuangan SHG akan perubahan di negeri ini.
Sabtu, 23 Juli 2005 @ 11:17
film Soe Hok Gie bagi saya jauh lebih bagus dari film-film Indonesia lainnya. HIDUP GIE!
Sabtu, 23 Juli 2005 @ 11:20
gw udah nonton film Soe Hok Gie dan emg bener apa kata org2.. Gw dulunya bencibgt sama film Indonesia trutama aadc ato eiffel yang ga ada seni-nya itu. Tp Soe Hok Gie bener2 beda.. Flm paling bagus dr antara film2 Indonesia lainnya..
Sabtu, 23 Juli 2005 @ 23:13
Seorang aktifis datang bukan dari masanya…
Seorang aktifis lahir dari ketidak adilan…
Semua orang berhak memiliki topeng dalam popularitas…
Semua orang yang konsisten pasti mengagumi GIE…
Perjuanganmu belum berakhir…
banyak misimu yang belum tercapai…
Ketidak adilan masih saja merajalela…
memihak rakyat kecil itu tetap menjadi kewajiban kita…
Semoga Pencipta alam semesta bersama GIE…
Minggu, 24 Juli 2005 @ 0:08
NICO BUKAN GIE DAN CATATAN SEORANG DEMONSTRAN ADALAH KARYA SOE HOK GIE BUKAN KARYA NICO, GAMBAR SAMPUL DI CSD EDISI BARU ADALAH USAHA-USAHAN UNTUK MENGALAHKAN SEJARAH DENGAN POPULARITAS…..
- LAWAN SEGALA BENTUK PEMUTARBALIKAN FAKTA.
- GANTI COVER NICO \”SOE HOK GIE PALSU\” DENGAN SOE HOK GIE ASLI.
- DORONG MAHASISWA UNTUK KRITIS MELIHAT PEMUTARBALIKAN FAKTA!
SATU KATA
LAWAN!
Minggu, 24 Juli 2005 @ 12:00
Gw rasa apa yang terjadi saat ini sebuah pemutarbalikan yang sudah lewat batas ambang toleransi dan akal sehat. Kenapa sejarah di negara ini selalu diperlakukan seperti saat ini.Tanpa tedeng aling, tanpa malu2, tanpa perasaan kearah kemunafikan dengan beramai-ramai dan kompak. Kenapa kita tidak membiarkan GIE tenang di alam sana aja. Gw bingung bngt melihat tampang GIE ternyata kebule2an spt yang sering saya lihat di bungkus2 rokok SAMPOERNA MILD.Jauh sekali dari bayangan saya, seorang anak muda keturunan tionghoa yang berani berteriak tanpa tedeng aling, tanpa malu2 tetapi dengan penuh rasa sayang, di masa banyak orang mengincar, menghujat dan memaki warna kulit dan mata sipitnya, tetap teguh memakai nama SOE HOK GIE, tidak spt yg lain mengganti nama( mis. arief budiman). Mungkin tampang tionghoa saat ini masih tidak pantas, tidak komersil, kurang layak dijual sehingga tanpa malu2 NICO dgn BANGGA mengambil peran itu.Sia-sialah perjuanganmu, GIE.Ha..Ha..HA…. SO, IT’S ALL ABOUT – FUCKING MONEY.Kenapa kita tidak mencari tahu lebih jauh sebab kalau tidak yang ada hanya KEMUNAFIKAN, satu kata yang membuat GIE memilih jalan hidup spt itu.Hidup ini memang sudah gila, edan ha..ha..ha…….
Senin, 25 Juli 2005 @ 5:39
hihi masih lanjut ternyata
Senin, 25 Juli 2005 @ 14:33
Pesan sebelum nonton film “Gie”,
1.Untuk mendapatkan sosok Gie secara komprehensif, Bacalah bukunya “Catatan seorang demonstran” terlebih dahulu, itupun bukan yang edisi terbaru, sebab yang baru bukan “Catatan seorang demonstran” tapi “Catatan seorang Nicholas” he he he
2. Camkan Nicholas BUKAN Gie!
3.Sebut nama saya (Lho?)
embun pagi untuk masa depan Indonesia,
de
Senin, 25 Juli 2005 @ 14:39
finally, keluar juga nih film. walau gak menampilkan soe hok gie yang menggebu-gebu namun tetap tenggelam dalam kegelisahannya, two thumbs up for mira, riri n niko.gambar dan settingnya itu yg top abis. DETAIL. dari mulai mobil, rumah, gedung, wardrobe, anythings. aku begitu sentimentil abis nonton itu. seperti dilemparkan ke tahun – tahun suram Indonesia.
Senin, 25 Juli 2005 @ 16:47
Nama saya Octa Tobing…
Saya adalah salah satu pengisi Album Sountrack Film Gie bersama Eros So7
Kami mengisi 2 lagu di album itu salah satu lagu nya berjudul “Gie” dan satu lagi berjudul ” Cahaya Bulan”
Suatu kehormatan tersendiri saya bisa berpartisipasi dalam album itu.
Buat saya Gie orang Besar dan seperti sebagian orang besar yang saya tau biasanya mereka malah kadang sering tidak di terima di Rumah sendiri karena sikap dan pemikirannya yang kadang bertentangan dengan sekitarnya….Yach itulah ongkos dari sikap yang idealis, Keterasingan.Itu juga yang saya lihat dari Gie. Selain salah satu Karakter dia yang selalu membuat sata terkesan “Radikal Tapi Gelisah”
Saya juga mengucapkan selamat kepada Mbak Mira dan Mas Riri atas sudah di putarnya Film Gie semoga “TAK PERNAH BERHENTI BERJUANG, PECAHKAN TEKA TEKI MALAM”……..
Senin, 25 Juli 2005 @ 21:16
saya pikir tokoh soe hok gie adalah seorang indonesia yang sebenar-benarnya…. saya paling suka tuliasan hariannya yang berbunyi ““Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
hidup nasionalisme…..hidup pemuda…hidup mahasiswa indonesia…..hancurkan tirani……………..satu kata untuk perubahan kita: REVOLUSI…..!!
Selasa, 26 Juli 2005 @ 11:58
sosk gie adalah sosok yg biasa2 aja, namun aq salut ma semangatnya tp yg jelas jiwa mhs indonesia adl jiwa yg visioner, berparadigma perubahan, berakhlak karimah, beridiologis catatan penting dr ku jgn lupa idealisme qt tetap perjuangkan jgn spt mantan aktivis yg oportunis, dulu menghujat sistem skg menikmati dalam sistem, dasar krn kepentingan sesaat. pilih ideologi apa yg akan anda perjuangkan islam, sosialis/komunis atau kapitalisme-liberal.
Selasa, 26 Juli 2005 @ 11:59
aku gak terlalu tau banget sama sosok S G H, tapi aku sangat antusias sama idealismenya yang tak mau kompromi sama kekuasaan pada tempo itu. memang gie berhasil mengamalkan jiwa adventurenya secara jelas dengan aktif turun ke jalan memprotes kesewenng-wenangan.kapan nih kita mahasiswa di masa reformasi mau galak seperti dia. apa cuma 98 aja?. sayang ia mati muda, tapi gpp, toh, only the good die young…
Selasa, 26 Juli 2005 @ 13:56
great story..about someone who always questioning the untruth around him and disbeliefing the lies from his corrupted friends
Selasa, 26 Juli 2005 @ 16:00
wew…emang keren banget, dia memperjuangkan apa yang menurutnya benar
Selasa, 26 Juli 2005 @ 22:17
saya itu ndak tau SAMPAI SAYA ITU NDAK BISA BISA KOMENTAR…beberapa kawan-2 yang sudah isi ini….tapi saya itu setuju sekali sama kawan yang mengatakan bahwa KNAPA SOE HOK GIE nya itu BULE/LONDO…yang saya tau SHG itu CINA/CINO…
ini yang bener yang mana?bukannya kalo mau mbikin pilem itu harus mendekati karakter asli dari tokoh yang akan dimainkan?lha ini malah nDak…
trus saya juga mau tanya, yang namanya yossie dan boeli itu ok juga mainnya, meskipun hanya sedikit scenenya.(atau mungkin dah di hapus scene ke 2 tokoh tsb?)sayang PERAN KE 2 ORANG TSB GA JELAS.
maaf, saya hanya bisa bilang kalo yang mainin NICO sebagai SHG itu NDAK PAS SAMA SEKALI…terlepas sebagus apapun NICOLAS S berakting tetep bagi saya ndak bagus.karena jelas yang diminta dalam skenario maupun buku catatan hariannya adalah seorang keturunan CINA/CINO.
SEMUA PEMAIN PENDUKUNG OK…BRAVO BUAT KALIAN.
DAN PEMAIN UTAMA…
MAAF BERIBU MAAF…
BURUK SEKALI…
NB.NDAK PERNAH ADA DALAM SEJARAH CINO JADI LONDO
BEGITU JUGA SEBALIKNYA
ATAU MUNGKIN MILES SEDANG MENCOBA TEORI DARWIN
HAUHAUHAUHUAHUHA…MAAF LHO…MAAF…
Selasa, 26 Juli 2005 @ 23:30
HIDUP ADALAH PERJUANGAN, LEBIH BAIK DIASINGKAN DARI PADA MENYERAH KEPADA KEMUNAFIKAN. Jelas dari kata2 tersebut dalem banget maknanya. Bisa jadi tujuan hidup kita. SALUTE..
Rabu, 27 Juli 2005 @ 8:28
Kalau saja di Indonesia sekarang ada 1 orang saja kayak Gie
Kalau saja lebih dari satu orang itu
SBY,
Yusril,
1 orang mentri,
1 orang anggota DPR,
1 orang jaksa, gak perlu hakim.
1 orang polisi,
1 orang jendral,
1 seorang pimpinan partai politik apa saja.
maka tidak akan sekedar labih dari cukup,
melainkan sudah terlalu kelebihan untuk membangun Indonesia baru.
Kamis, 28 Juli 2005 @ 3:07
Gue kok heran sih sama komentar2 di atas terutama yg menyangkal pemodernan Gie melalui film komersial.
Kalau mau aslinya ya kita hidup dijamannya menjadi temennya atau tetangganya atau musuh politiknya saat itu.
Kalau mau baca catatan seorang demonstran yg asli juga yang seharusnya baca fotocopyan buku hariannya, fotokopian artikel korannya, atau catatan2 puisinya dan gabungin deh sendiri kemudian ambil kesimpulan sendiri gimana tuh si Gie.
Yang ada sekarang buku CSD lama dan CSD baru plus filmnya, yang sudah tentu banyak bumbu2nya dan penapat2 suka2 penulisnya atau seingat jawaban sumbernya (keluarganya, temen2nya dll). Kalau tadinya tulisan tangan dan cetakan koran, ketikan Gie menjadi buku cetak (+bumbu2+komentar2+pendapat suka2 penulis). Sebenarnya sama saja dengan apa yg terjadi terhadap gambar/foto \”Gie\” mengalami \”suka-suka penulisnya\”.
Melihat gelagat kayak gini seharusnya kita memahami Gie baik tulisan maupun melalui si Nikolas adalah sebagai simbol, jangan terjebak dengan cetakan buku apapun bentuknya, dan bintang film jelek/gantengnya si pemeran.
text, gambar, foto, gambar bergerak, nikolas dan orang2 yang terlibat adalah suatu simbol.
Coba dianalogikan dengan simbol biner kok bisa ganteng seperti tulisan latin, arab, cina, kanji dll.
Kamis, 28 Juli 2005 @ 12:53
[...] Setelah menulis tentang Soe Hok Gie akhir tahun lalu sebagai rasa hormat saya atas buah pikirannya, akhirnya saya menonton juga film Gie yang dibuat oleh Miles Production. To the point saja, apa yang tertulis dalam buku “Catatan Seorang Demonstran” selain buku “Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”, “Zaman Peralihan” dan ulasan “John Maxwell: Soe Hok Gie – Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani” tidaklah cukup dipadatkan dalam sebuah film berdurasi dua jam. [...]
Jumat, 29 Juli 2005 @ 11:05
yah klo film seh memang gak masalah make tampang siapapun asalkan bisa dipahami. tapi klo buku atau merchand seorang tokoh make tampang orang lain kok aneh. jangan jangan besok muncul pin GIE tapi tampangnya NICO wah gimana ceritanye?
Jumat, 29 Juli 2005 @ 14:39
utk bejo komentar 169. setahu saya Nicholas saputra memang ada keturunan cina-nya
Jumat, 29 Juli 2005 @ 15:35
“SALUT AKAN IDEALISME YANG DIAMBIL, BUKAN PROLETAR, PROGRESIF REVOLUSIONER, ATAU APAPUN…..PUPUK SEORANG PAHLAWANAN ADALAH PERJUANGAN DAN KETULUSAN….HARGA SEORANG PAHLAWAN ADALAH KEMATIAN”…………..SAMPAI JUMPA DIPUNCAK HARAPAN
Jumat, 29 Juli 2005 @ 16:14
Gie seorang yang Nasoinalisme nya tinggi idealisme nya membangkitkan semangat bangsa indonesia tuk lepas dari kemunafikan “LEBIH BAIK TERASING DARIPADA TENGELAM DALAM KEMUNAFIKAN ” tauladan yang baik tuk pemuda Indonesia tuk berkata yang sebenarnya daripada terjebak dalam kedustaan bangkitkan semangat nya tuk jujur dalam segala hal meskipun harus tersingkir
Jumat, 29 Juli 2005 @ 19:43
GIE… coba ada 10 orang GIE lagi di indo.. wah indo pasti jauh beda dari sekarang.. nah… kta semua sbg generasi penerus GIE harus melanjutkan perjuangannya.. G terharu banget ma jalan cerita dia, n film dia. that was the best movie ive ever seen.. Walaupun sudah meninggal tetapi dia inilah pahwalan revomasi pertama. Hope semua keinginan ia segera terkabul. AMIN
SEMOGA ARWAHNYA DI TERIMA DI SISI ALLAH SWT
AMIN
Sabtu, 30 Juli 2005 @ 23:33
Seperti ikon “Che” di kaos-kaos, mudah-mudahan film “Gie” bukan jadi sekedar komoditas juga akhirnya.
(Eh kapan nih, ada film “Sang Pemula”- RM Tirto Adhi Soerjo sang jurnalis pertama?
Denger-denger “Minke” dari tetralogi Pram juga mau difilmkan?)
Minggu, 31 Juli 2005 @ 14:07
terima kasih buat miles film yang membuat suatu film yang benar-benar menarik dan bagus, namun setelah menonton film itu terlintas suatu pertanyaan, kemana sekarang para aktifis mahasiswa angkata 1998, yang dulu berjuang menegakkan reformasi, apakah mereka menjadi kawan-kawan Gie dulu, yang berubah karena kenikmatan bangku legislatif
Senin, 1 Agustus 2005 @ 2:30
Imaginasi Gie menggambarkan Dunia itu palsu, sangat terasa dengan perjalanan bangsa Indonesia sampai saat ini
Senin, 1 Agustus 2005 @ 12:50
barusan saya nonton film-nya Gie
beberapa hal yg dapat saya simpulkan dari Gie:
- anti hipokrisi
- non-affiliatif
- tekun
- pembelajar yang baik
- berani
- art appreciator
- inisiatif
- high morality
sekian … ada yang mau nambahin?
Senin, 1 Agustus 2005 @ 13:21
GIE adalah pahlawan…..
GIE adalah ksatria…..
GIE adalah cendekiawan…..
GIE adalah pemimpin…..
GIE adalah manusia biasa…..
sehingga kita semua bisa seperti GIE!!
tetapi kita terlelap dalam pelukan kapitalisme…..,
budaya konsumerisme….., hedonisme…..,
kita sekarang terbuai di depan layar televisi,
terjerat dalam hasutan ribuan MALL yang berdiri dengan megah disetiap sudut kota
dimana hati nurani?
kita adalah bangsa munafik…..
dan akan selalu ada jutaan GIE baru yang akan selalu mengingatkan kita
tetapi apapun tak akan berarti sesuatu kalau kita tak berbuat apa-apa
MAKA BERBUATLAH SESUATU!!
[nb: bodoh banget yang nerbitin buku GIE pake cover nicholas, sumpah orang2 kaya gitu yang harus dihukum mati, nama besar seorang pahlawan dipalsukan hanya untuk mengeruk keuntungan..... nicolas gak salah, tapi yg ngusulin, setuju dan sepakat buat nerbitin buku pake cover nicolas yang bajingan, kasie tau siapa orangnya biar bisa gw kasie pelajaran kalo ketemu]
Selasa, 2 Agustus 2005 @ 15:34
SETIAP SAYA BERTEMU KEMUNAFIKAN SAYA DIINGATKAN OLEH SOE UNTUK TIDAK MENYERAH PADANYA…DAN SAYA TIDAK PERNAH MENYERAH PADA KEMUNAFIKAN DAN AKIBATNYA SAYA DIASINGKAN…
Selasa, 2 Agustus 2005 @ 18:37
Gie punya pemikiran sempurna, but ‘no body perfect’!
Selasa, 2 Agustus 2005 @ 21:42
Mnrtku ga ada salahnya salah satu usaha untuk menarik para peminat film dng menampilkan nicho sbg pemain utamanya, bukankah itu menjadi sebuah nilai lebih juga buat para penontonnya, karena ketika kita akan menonton suatu film indonesia (terutama film sejarah yg sebelumnya kita ga tau sama skali tokoh tersebut), kita akan melihat terlebih dahulu siapa pemainnya, apakah yg terlibat di dlmnya itu bintang besar ato sekedar amatiran, dr situ kita bisa mengambil kesimpulan film tersebut berkualitas atau ga nya.. (betul ga? ato cm aku nih yg gitu? hehe)..
Setelah ntn film itu (dr yg tadinya ga tau apa2, siapa itu gie n sbgnya), jadi bener2 kagum, ternyata ada toh seorg pejuang mahasiswa yg bener2 berjuang buat kebenaran, mereka2 yg ‘kecil’, ga mempermasalahkan pbedaan agama, suku, ras n sbgnya. Gie ini bukan seorang yg ingin kelihatan plg menonjol diantara temen2nya, tp seorg yg kalem, terlihat dr emosinya yg GA meledak – ledak sbg seorg demostran yg turun kejalan. Dy juga org yg sangat ringan tangan thdp hal2 kecil di sekitarnya. pokoknya aku salut bgt ma Soe hok Gie ini! Seandainya dy masih hidup, mungkin sekarang sudah bnyk gie – gie yg lain kurasa, who knows?!
Dlm memerankan Gie, mnrtku nicho butuh waktu yg cukup lama juga buat bener2 masuk n nangkep setiap karakter seorang Gie, terlihat dr gaya jalannya yg “hemm”(gie bgt kali ya.. ga tau jg..), trus jg kebiasaan2 kecil yg dy tampilkan (pas garuk kepala saat grogi berhadapan dgn ira), itu susah lhoo dapetin ’soulnya’ (tp ga tau jg ding susah pa ga nya dlm pembuatan film yg sepotong2, soalnya seringnya liat anak2 teater yg maen full pentasnya, i mean ga per adegan ky d film).
salut buat eross yg dah nyiptain lagu gie yg keren abissss.. jd pengen bgt naek gunung >.
Selasa, 2 Agustus 2005 @ 21:48
ei klu ada yg dpt film gie yg durasinya 4 jam bilang2 ya.. aku mau bgt! ^^
Rabu, 3 Agustus 2005 @ 0:43
mengapa harus Gie?
aku tak tahu mengapa, tapi yang jelas bangsa indonesia telah terserang penyakit latah. bahkan saya sendiri juga ikut-ikutan berkomentar tentang sosok Gie. tapi mengapa harus dia?. mengapa tidak Tan Malaka yang merupakan pejuang revolusioner sejati dan mati di tangan bangasa sendiri yang telah diperjuagkan kemerdekaanya, atau panglima Jendral Sudirman.
tapi tak apalah, toh Gie juga seorang yang anti terhadap kapitalisme.
hidup semua pahlawan revolusioner!
Rabu, 3 Agustus 2005 @ 12:16
lewat kampus, seorang mahasiswa bernama Gie, mampu mengubah peta politik pemerintah saat itu. Soekarno sang putera fajar pun harus turun dari kursi kekuasaan, mahasiswa berani unjuk gigi atas ketidakadilan yang nyata yang dilakukan elite.
dimana suaramu hai mahasiswa saat ini………….?
jangan semakin melekatkan image kalau mahasiswa hanya sekedar coboy,
setelah perompak ditangkap maka berlalu begitu saja.
semangat Gie hanya sekedar ada ditulisan, diemail, diagenda, dikaos, bahkan
gambar Gie terpampang di hp kalian semua.
gie sosok yang butuh penerus perjuangan, gie lebih dari sekedar pahlawan buat perubahan, tapi gie jiwa yang butuh semangat….
Rabu, 3 Agustus 2005 @ 15:26
Gie seorang nasionalis muda berdarah Tionghua yang mempunyai idealis yang kuat, jika dilihat dari buku-bukunya hingga filmmya yang sedang diputar di bioskop2 merupakan generasi muda dengan idealismenya yang sangat dibutuhkan di jaman sekarang ini tentunya di negeri Indonesia tercinta, karena dengan pemikiran-pemikirannya yang telah kita ketahui Indonesia bebas dari penjara orang-orang kapitalis dan para tikus-tikus negara…semoga masih ada Gie yang masih hidup di saat ini di negeri ini……
Rabu, 3 Agustus 2005 @ 22:20
satu kata untuk semua….. cinta….
maka cintailah cinta, seperti kata dewa…. jangan berani lawan FPI sebab nanti bisa celaka….
wahai mahasiswa, rapatkan barisan,
one solution…. revolution….
ogut siap jihad fisabilillah….
merdeka!
Rabu, 3 Agustus 2005 @ 22:35
pantek lu! hidup cina, cina bersatu tak bisa dikalahkan.
Kamis, 4 Agustus 2005 @ 11:54
Gie.. Pahlawan tanpa tanda jasa
Nanggepin comment ‘aneh’ diatas, provokator nih, cina beneran g yakin malah gak mungkin nulis gitu.. kasian deh..
Kamis, 4 Agustus 2005 @ 15:31
[...] Salah satu penggambaran favorit saya tentang Gie ditulis oleh John Maxwell, seorang professor dari Australia yang pernah menulis thesis tentang dirinya, dan kebetulan dikutip di blog milik Jay: “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” [...]
Kamis, 4 Agustus 2005 @ 16:50
ada kebenaran relatif yang membuat gie bisa popular. kepopularan Gie tidak bisa lepas dari kondisi yang ada pada saat itu, kondisinya benar-benar mendukung. dimana Gie punya \”kelainan\” dalam hal berorganisasi. Para aktivis saat itu sudah terjebak oleh politik aliran (kampus), sedangkan Gie sama sekali tidak begitu tertari, termasuk terhadap organisasi PMKRI yang mempunyai latar belakang Katolik sebagai pegangan agama keluarga Gie.
Gie Hanyalah seorang kutu buku. dari hasil bacaannya itulah Gie punya pemikiran yang agak sesuai dengan cita-cita dan apa yang menjadi pemikiran buku yang dibacanya.pemikiran para tokoh yang dibaca Gie telah banyak mempengaruhi Gie. ditambah keberanian Gie mengungkapkan sesuatu yang berbeda dengan kawan-kawan aktivis yang lain.
Gie berasal dari keluarga yang biasa-biasa, bahkan saya fikir kehidupan dikeluarganya juga tidak terlalu istimewa. Tapi apa yang terjadi setelah melihat film Gie, begitu merinding, membuat bulu kuduk berdiri, Gie seolah-olah adalah sosok yang penomenal.
Tak bisa dipungkiri, ketokohan Gie karena dia mampu menuangkan ide-ide dari hasil kajiannyan terhadap buku dengan keadaan sosial politik dalam bentuk tulisan. baik artikel, terlebih catatan harian.
Gie menjadi besar kareja zamannya yang mendukung. seperti halnya para pilosof yang dianggap pintar pada jamannya ataupun para tokoh pemikir yang besar.
Kamis, 4 Agustus 2005 @ 20:09
GIE adalah seorang yg tabah dan mo berjuang buat dirinya dan negaranya.yg menakjubkan disini, dia seorang co cina tp masih ingin berjuang utk negaranya yang hampir keseluruhannya berketurunan melayu(jawa, sunda dan lain2).”umur manusia singkat, tp kemanusiaan lama.lupakanlah segala kesedihanmu itu dengan lebih giat lagi bekerja.bekerja utk kemanusiaan…” ‘Atheis’-Achdiat K.Mihardja
Jumat, 5 Agustus 2005 @ 16:31
soe hok gie itu makanan apa?
Jumat, 5 Agustus 2005 @ 16:34
kalo soe hok gie itu makanan, maka yang bilang itu memang ga punya jiwa marxis, HIDUP MARXIS!!
yahhh itulahhhh
Sabtu, 6 Agustus 2005 @ 9:21
My second inspiring movie after the lord of the rings. Some thing that can make my mind feel a different side.I still felt, he was here now.
Selasa, 9 Agustus 2005 @ 0:38
GIE,
tiba-tiba semua orang muda, kritis, apatis, radikal, oportunis, dll menganggap lu sebagai icon ideal tentang sosok aktivis. maaf kalo aku menyampai berita duka ini – bahwa lu telah jadi berhala baru bagi kaum muda tahun 2005. sorry, bos. ini semua diluar jangkauan gue sebab aku ngga punya akses lansung ke Mira Lesmana dkk termasuk LP3ES. lu pasti lu ngga suka situasi kayak gini.
seperti yg selalu lu teriakin di kuping gue saban malam kalo lu ngga mao semua orang menjadi diri lu. tetapi kali ini ketakutan lu bakalan kejadian. semua orang menajadikan lu berhala dan semua ingin seperti lu dan so pasti semua akan gagal seperti lu.
waktu lu cabut ke semeru – yg ampe sekarang belom balik-balik lagi – lu sempat curhat ma gue kalo lu sadar kalo lu adalah orang-orang kalah. lu di khianati sama senior-senior tolol lu. David Napitupulu, Cosmas Batubara, Abdul Gafur, Mari’e Muhammad, Fahmi Idris dan pentolan KAMI lainnya yang secara berangsur-angsur “beronani” dengan masuk ke struktur Orde Baru yang fasis. dan masih ingat dalih mereka itu saat nyemplung ke parlemen, mereka bilang kalo mereka bakal ngelanjuti perjuangan – KAMI – dari dalam. dan akhirnya mereka malah jadi bagian dari rezim tersebut. dan inilah yang jadi alasan lu untuk merenung di SEMERU.
Gie, gue ngga tahu gimana perasaan lu saat ini. saat kisah lu malah dijadikan icon budaya pop. sampe buku harian lu aja ada logo A Mild – iklan sebuah produk rokok dari Philip Morris.
Ya udah lah, itu kan masalah lu. masalah gue sekarang cuma pengen ngga mao jadi orang gagal kayak lu, kayak che. lu masih inget nasib cs lu si CHE? Dia akhirnya mati di Bolivia dan Castro yang terus berkuasa. Che yang fight tapi Castro yang jadi tiran baru.
Gie, gue rasa kalo lu udah dijadikan mitos dan legenda. setahu gue seh ini gara-gara Ali Murtopo. oh ya, lu kok sok-sok an kayak TAN Malaka, sok misterius. btw gue denger Tan Malaka mati gara-gara spilis, mungkin tuh virus dia bawa dari Thailand. lu tahu kan gimana thailand? tapi gue seh agak-agak ngga percaya ma berita gokil itu. kalo lu percaya ngga?
udah lah GIE. masa lu dah lewat. sekarang waktu berpihak ma gue.
Peluk cium gue ma lu
Reza Syariati
NB. HP lu jangan lu matiin terus dong.
Selasa, 9 Agustus 2005 @ 9:27
saya mengenal beliau sebagai seorang petualang bukan sebagai seorang aktivis di jamannya………..
Selasa, 9 Agustus 2005 @ 9:30
Sejak 20thn yg lalu sampai sekarang ayah saya selalu membicarakan SHG dimeja makan. Saya tidak terlalu berselera dengernya. Tapi waktu ada filmnya jadi semangat baca bukunya dan buku-buku yang berhubungan dengan SHG. Saya rasa kalau Mbak Mira bisa memproduksi film lain mengenai tokoh2 sejarah di Indonesia, saya tidak akan mengalami banyak kesulitan memaksa anak2 saya belajar dan membaca buku sejarah. Tolong ya Mbak, biar anak2 Indonesia lebih kenal bangsanya dan bangga jadi orang Indonesia. Masa anak2 sekarang cuma suka Britney, Usher dan Black Eye Pea aja sih.
Rabu, 10 Agustus 2005 @ 0:33
Gie….sosok yang nggak bermutu ..dan patut di hujat..
….[jadi orang ya mbok jangan sua ngekor
]
Rabu, 10 Agustus 2005 @ 8:54
Bener-bener tokoh Mahasiswa yg TOP abies dech.. Mengajarkan untuk slalu menjadi manusia yg apa adanya tanpa harus menyerah pada suatu kemunafikan…. Filmnya bwat merinding dach .. klasik en elegan bgt.
Kayaknya bwat Mahasiswa kudu nonton dech …
Rabu, 10 Agustus 2005 @ 9:30
GIE ya? film bagus! baguss… tapi… ko aku agak kecewa yaa? g tau ni, ko agak nggak puwas gitu nontonnya. padahal filmnya dah panjang banget loooh. Ah… mungkin karena pas di film aku ngeliat ada shot2 yang mnurutku nggak nyambung sama narasinya. Yooo… misalnya ni… pas Gie ngomongin Ira yang udah jadi asisten dosen, ko gambarnya malah wulan guritno? laaah? aku bingung dimana korelasinya… selain itu masih banyak! cuma kayaknya aku butuh nonton film ini 2 kali untuk ndapet SOUL-nya. yooo…, habis pas nonton aku masih ngeliat kalo GIE itu Nico!~ Gawat kan? akhirnya aku malah nggak bisa konsen nemu ceritanya gara2 terpesona ma Nico! kakakakakakkkk!
dari filmnya, dan dari forum2 yang kubaca dari internet tadi malem… kayaknya ada sesuatu yang sedikit mampengaruhi pikiranku… mmm… tentang keberaniannya!~ sumpah, walaupun aku anaknya sering mikir yang aneh2, tapi aku nggak punya cukup keberanian untuk menyampaikan apa yang ada di pikiranku. terbatasi sama sifat2ku yang keras dan kalo ngomong suka nggak mikir. ada perasaan takut orang lain benci kita… yap! takut orang lain benci…
trauma yang mendalam dari sebuah kejadian yang (sebenernya) sepele. membekas begitu dalam dalam pikiran dan perasaanku…
membuat aku terlalu takut untuk menentang, terlalu takut untuk mengatakan hal2 yang ada dalam benakku.
kenapa aku nggak pernah membuat keributan, bertengkar, ngomongin seadanya …. apapun yang membuatku nggak nyaman… aku nggak bisa ngeluarin, karena aku terlalu takut untuk dibenci…
yaaaah… di film GIE itu, di poster2nya ada kalimat SHG yang membuatku sadar kalo kita harus punya keberanian, “Lebih baik saya diasingkan daripada hidup dalam kemunafikan…”.
Huuuh… sounds good bgt! salut deh buwat SHG! (^_^)d
Rabu, 10 Agustus 2005 @ 21:18
soe hok gie..nama seorang manusia yang telah menemukan sejatinya manusia, akan cita-cita, hidup dan tujuan hidup. Benar2 seorang pemberani, idealis, bijaksana dan yang terpenting bagi saya adalah beliau itu spiritualis sejati, bukan agamis.
Kamis, 11 Agustus 2005 @ 9:28
gua nyari bukunya dari lulus sma taon ‘99- gua cari ke salatiga. ketemu kakaknya segala dan LSM Geni. buku CSD emang sulit dicari. tp dapet juga.. Orang Tionghoa harus -wajib- berani, saya juga orang Tiong Hoa. ‘Gie’ belum mati, lagi. Tunggu ‘Gie’ bangkit ya!
Kamis, 11 Agustus 2005 @ 11:06
Gie…. soe hok gie….. iya khan?
dia emang hebat, terutama dibidangnya.
banyak yang berkhayal, tentang seandainya Gie masih ada dijaman sekarang. atau ada Gie Gie lain dijaman sekarang.
berarti sungguh hebat kamu Gie……
namun semoga kematianmu tidaklah membuat orang-orang terhanyut dalam kesedihan yang dalam. atau bahkan terhanyut dalam khayalan-khayalan yang konyol.
semoga apa yang telah kau perbuat sepanjang hidupmu dulu menjadi bermanfaat bagi setiap orang/rakyat indonesia gitu loh….
Jumat, 12 Agustus 2005 @ 15:46
saya sih tidak tau tentang seorang soe hok gie, hanya karena mau di buat filmnya saya jadi sedikit tau, saya sangat senang miles akan memproduksi film yang bisa dibilang film heroic yg menceritakan seorang pahlawan yang belum di kenal banyak org, khusunya bagi mahasiswa yang kritik akan keadaan bangsanya, dengan biaya yg cukup wah(15 milyar)tentu film ini merupakan tontonan yang menarik dan penuh dengan sejarah seorang soe hok gie yg belum banyak orang tau.saya cukup senang dengan film2 indonesia yg berkembang dewasa ini apalagi dgn film yg satu ini, moga2 pembuat2 film sering buat film yg heroik seperti ini dan sekaligus mendidik seperti ini, smoga film ini sukses baik secara komerisil, penghargaan maupun misi yg ingin disampaikannya, Amin.Saya sangat bangga dengan mba Mira Lesamana, Riri riza dan yang lainnya yg masih mempertahankan idealisnya dalam dunianya yaitu ‘FILM’(tentunya bangsa ini juga bangga punya mba Mira dan Mas Riri.Sekali lagi maju terus Film Indonesiaku, saya akan terus mendukungmu walau dengan hanya sebagai penonton setiamu di bioskop.
Jumat, 12 Agustus 2005 @ 15:55
memang di dalam perjuangan ada sebuah konsekuensi yang harus kita ambil “ikut arus” atau “melawan arus”.
hidup dengan idelaisme adalah sangat baik, namun kita harus berani mengambil resiko seperti yang pernha dikatakan oleh seorang “tokoh sepanjang masa, Yesus”:JIKA KAMU MAU MENGIKUT AKU, KAMU HARUS MENINGGALKAN KELUARGAMU.
Artinya kita harus berani menerima apa saja yang akan terjadi kepada kita. “tidak pernah ada jaln yang lurus bung!”
Namun, yang menjadi sebuah pernyataan bagi saya adalh:
“Gie mati muda” apakah memang karena dia keracunan?
atau kah dia dibunuh oleh teman politiknya dahulu, yang sekarang menjadi lawan politik nya setelah tumbangnya “SOEKARNO”. WAJARKAH KEMATIANNYA ITU?
“SAYA MENANTANG SIAPA SAJA YANG BISA MEMBUKTIKAN KETIDAKBENARAN INI”
saya ragu 1000 % atas kematian nya.
semoga.
Minggu, 14 Agustus 2005 @ 21:49
kapan yah film tentang abu bakar baasyir akan dibuat?
ada yang berani?
Selasa, 16 Agustus 2005 @ 13:16
GIE itu… mmm.. apa ya? Seorang idealis yang sudah mampat dengan ide-denya dan mencoba untuk bangkit ke dunia nyata dengan menjadi seorang realis.
Persis seperti kita-kita yang suka muak dengan kenyataan dan menumpahkan kekesalan lewat blog ini.
Rabu, 17 Agustus 2005 @ 20:30
saya membaca catatan harian seorang demonstran dlm keadaan saya tidak tau siapa soe hok gie itu. waktu itu saya baru lulus smu. dan buku itu saya pinjam dari om saya. tiga halaman membacanya, sa ya benar2 jatuh cinta pada seorang soe hok gie.ketika saya dikaruniai seorang putra, ingin saya beri nama soe hok gie. tapi tidak jadi karena saya bkn etnis cina. mungkin soe akan merasa sedih sekali membaca tulisan saya barusan. saya yg nota bene orang malang merasa sedih kenapa soe harus meniggal di malang. di kemudian hari saya tau ayah saya rekan kerja herman lantang di papua dulu.dan kemudian seorang soe hok gie menjadi dikenal oleh seluruh bangsa _saya rasa mira dan nico turut andil dalam hal ini.sampai2 suami saya yang dulu mangkel liat saya setiap hari baca buku kumal sekarang ngotot ngajak nonton pilmnya. saya pengen nulis panjang lebar. sekarang ini saya dan putra kecil saya lagi di warnet setelah 2 tahun lebih gak pernah nyentuh internet gara2 tukang travel goblok. dari ungaran jam 6 berangkat ke mlg. setelah dioper ke salatiga, ktnya berangkat jam 10. dasar edan
Jumat, 19 Agustus 2005 @ 9:55
Kenalan dg Gie memang belum lama, ya stlh nonton filmnya. Jadi tertarik dg profilenya deh. Gue baru baca Catatan Seorang DEmostran dan desertasi John Maxwell. Gue rasa kl ‘cuma’ baca CSD aja kita ngga akan kenal Soe dg segala pemikirannya. Perlu data dn infomasi pelengkap seperti desertasi John Maxwell. Dan masih perlu baca buku2nya, tulisan2nya di koran dan surat2nya utk sahabat2. Menyambung lidah yang lain bahwa selain CSD dan buku yg udah ada. Kyknya saat ini, saat semngat mengenal Soe sdg mjd trend, adl momentum yg tepat utk menampilkan tulusan2 dan surat2 Soe.
Terima kasih tuk Miles yg dah nampilin Soe, meski masih ada kekurangan (tapi lebih banyk nilai plusnya, yaitu menumbuhkan minat anak muda agar lahir Soe Hok-gie yg baru, disaat perjuangan reformasi agak melenceng.
Oleh karena itu, mungkin Miles menampilkan Nicolas Saputra. Trend terhadap Soe akan membawa anak muda lebih paham politik dan lebih peka pd keadaan sosial bangsa.
Lebih jauh gue tulis di blog http://muika.blogs.friendster.com/chibi/
Sdgkan, review biografinya masih di kepala, belum sempet tertulis
Senang kenalan dg Soe mania…
Sabtu, 20 Agustus 2005 @ 10:34
Hem…pertama tau nama ini pas di semeru.Ada prasasti bertuliskan Soe Hok Gie.Tak ada kesan khusus waktu itu. karna emang banyak prasasti utk mengenang sohabat2 yg gugur di sana(ceilee).Tapi pas heboh nama itu di TV, aku jadi terusik utk tau lebih jaug ttg dia.Hem…sosok yg seharusnya ada di jaman seperti ini. Mungki kalo soe hok gie masih idup..pasti jadi presiden…Hihihii
Sabtu, 20 Agustus 2005 @ 19:01
GIE? baru aku kenal namanya lebih kurang 4 taon lalu pas masih kelas 1 SMU, itu juga karena kebetulan novel yang aku baca ada nyinggung2 soal CDS. Tapi gara2 itu, 4 taon pula aku “berkelana” dari satu perpustakaan ke perpustakaan lainnya buat nyari itu CDS. Alhamdulillah tiba2 LP3ES nerbitin itu buku lagi. Kesan aku…… Gie tu COOL banget. Harusnya dia tu jadi panutan semua mahasiswa yang ngakunya AKTIVIS. Jangan omdo.. kayak Gie, dong! Dia berbuat sesuatu, and he make it! Sayang dia mati muda. Tapi ga papa…orang lurus kayak dia emang ga boleh lama2 hidup di dunia yang kotor ini. Ntar dia terkontaminasi kayak beberapa rekan seperjuanganya taon 66 dulu.
By the way…kalo ada manusia lurus kayak Gie di zaman sekarang ini, aku gak yakin dia bakal bertahan. Tapi selalu ada harapan! Mari semua anak bangsa berusaha, at least mencoba buat jadi seseorang yang tangguh, tahan banting, dan bertahan pada idealisme untuk membangun negara dan bangsa ke arah yang lebih baek. Dan moga2 Ibu Pertiwi masih punya stock manusia2 kayak Gie di dalam rahimnya, AMIN…..
Kulihat mega menggantung di puncak Mahameru, kala senja
Terpampang siluet kelam sosok pendekar pembela yang tertindas
Meneriakkan yel yel kebangkitan
Bagi seribu…Tidak! Jutaan telinga dan mata dari segala penjuru
Dan di saat ajal Sang Surya, tinggal ia berguman…
“Perjuangan Belumlah Usai..”
Senin, 22 Agustus 2005 @ 8:48
kalo pemeran Soe Hok Gie dalam film Gie bukan Nico, akankah komentar2 muncul seheboh ini? akan banyakkah yang menonton?
bukan beranggapan negatif terhadap film Gie karya Mbak Riri Reza. aku cuma penasaran aja. trus kira2 sampai ga ya pesan-pesan moral film itu ke penontonnya?
btw, hidup film indonesia….!
Senin, 22 Agustus 2005 @ 16:25
GIE kuliah di UI fakultas apa yah? Salut sama perjuangannya!
Semoga beliau bisa beristirahat dengan tenang setelah makamnya dibongkar pasang. Amin.
Senin, 22 Agustus 2005 @ 21:52
he is really amazing person, his brilliant mind helpfull for the teenagern for flourishing their mind. as a big nation we are waiting for a person like him. gie bravo to you. Requescant in Pacem, I love you so much. even though I do not know you but I feel so close to you.
Selasa, 23 Agustus 2005 @ 9:40
laki-laki idealis yang agak sulit ditemukan zaman ini
Selasa, 23 Agustus 2005 @ 9:43
gie adalah gie, jg diletakkan terlalu tinggi
Selasa, 23 Agustus 2005 @ 10:13
Gie…sebuah pilihan yang sulit untuk hidup di republik ini, baik masa SHG maupun skrg…Ini soal pilihan hidup, soal logika, soal 1 -1 = 0, atau 1+1=2..ga banyak yang bisa dilakukan orang yang akrab dengan kegelisahan di republik ini, kita pilih jalan yang satu, harus siap korbankan yang lain..it’s just simple as it is..The point is: never give up, just keep forward for what the way that you takes…just keep Gie’s spirit alive…
Selasa, 23 Agustus 2005 @ 10:15
yang diperlukan RI sekarang?yah dari merauke sampai sabang, orang2 kaya Gie, RI ga perlu SBY, JK, dan semua bajingan politik yang pernah menodai negara kita…RI cuma butuh Gie kali yeeeee….mimpi kali ye…
Rabu, 24 Agustus 2005 @ 17:17
S H G gile beneeerrr.smua org bisa jd kaya gie – kalo ga percaya – tanya gie – gieeh
S H G adalah anak yg pinter-perkataan dan perpuatanya adalah merupakan perpaduan antara hasil kuliah dan pengalamanya.ga’ada salahnya iktut2an kayak Gie tapi jgn setengah2.syukur2 bisa lebih baik karena bgm manapun jg aku adalah aku dan dengan kondisi serta plobematika yg berbeda ANDA HRUS TAHU ITU!catatan Gie adalah ctatan yg keluar dr akal sehatnya.bgmnana dgn aku.!how to think N’t how to believeee
gw bloomm pernah nonton Giee cm baca sinopsisnya dr beberapa sumber h3h3h3
Kamis, 25 Agustus 2005 @ 17:27
Saya mengenal Soe Hok Gie baru-baru ini, setelah saya membaca buku Catatan Seorang Demonstran. Setelah saya membaca buku tersebut, saya sangat tertarik dengan sosok Soe Hok Gie ini, ternyata ada orang yang punya idealisme seperti itu, banyak sekali pemikiran Soe yang sepaham dengan saya. Buku Catatan seorang demonstran adalah kewajiban bagi orang yang punya cita-cita idealisme tinggi terhadap Indonesia.
Bagi saya Soe adalah seorang role model dan menjadi teladan bagi saya.
Minggu, 28 Agustus 2005 @ 3:39
saya suka gaya loe gie, tetapi terasing dari kemunafikan di dunia sama aja masuk neraka duluan!, revolusi tetap berdarah khan salam revolusioner.
Minggu, 28 Agustus 2005 @ 14:43
Gie.. tak mau menyerah pada kemunafikan dan terus berdiri melawan deru perubahan zaman yang makin ganas. Pemikiran dan tingkah lakunya menunjukkan arti dari seorang manusia biasa.. Manusia pada arti yang sesungguhnya…
Minggu, 28 Agustus 2005 @ 19:35
Buat yang ga setuju ma Niko, napa seh? Toh itu film, kalo ga puas bikin aja ndiri
Senin, 29 Agustus 2005 @ 11:46
Ada banyak sekali wisewords, quote atau kata2 bijak yang bisa dikutip dari tokoh Soe Hok Gie, namun apakah kita hanya akan mengutipnya saja tanpa bisa memahami, dan apakah kata2 itu hanya akan dipahami tanpa dilaksanakan/diamalkan dalam kehidupan kita?
Percuma donk kalo cuma hafal trus memahami tapi tidak melakukan apa2, kalaupun tumbuh semangat kebangsaan dan dalam diri kita setelah membaca dan menonton film tentang Gie tapi terus nggak ngapa ngapain, lantas apa menfaatnya bagi bangsa ini, nggak bakalan ada yang berubah!
Sosok Gie memang pantas dikagumi, tapi aku percaya Gie di alam sana akan lebih senang bila perjuangan dan idealismenya dilanjutkan oleh generasi saat ini dibandingkan hanya dikagumi, dipuji-puji dan dijadikan pop icon.
Siapapun bisa jadi Soe Hok Gie untuk masa kini. Kita tidak harus menjadi mahasiswa untuk bisa berjuang. Kesempatan selalu ada, kemauan dan keberanian yang kadang tidak ada. Teman2, apa kalian berani?
Rabu, 31 Agustus 2005 @ 8:59
Soe Hok Gie? Siapa sih yang gak mau seperti dia? Seandainya para pemimpin bangsa kita seperti dia, dijamin, gak bakalan ada korupsi en diskkriminasi!
Jujur, sebagai orang se-warna kulit dengannya, gua bangga. Akhirnya ada anak muda zaman 60an yang berhasil mmenjadi panutan bagi suatu bangsa pada masa kini, walaupun beliau gak berhasil masuk ke dalam buku sejarah bangsa ini.
Hanya saja, gua kecewa sama penerbit buku Catatan Seorang Demonstran, karena mmereka lebih mementingkan penjualan dan popularitas serta komersialitas, dan sama sekali tidak mencerminkan sikap maupun sifat SHG itu sendiri. Lihat saja sampul halamannya. Ini sudah merupakan “Pembohongan Publik”.
Apakah karena wajah SHG kurang “menjual” sehingga penerbit lebih memilih foto seorang aktor, Nicholas Saputra? Apabila hal ini tidak dikoreksi, maka hal-hal seperti ini dikhawatirkan akan mengalami pengulangan kembali.
Janganlah kita seperti pemerintahan OrBa yang melulu membohongi rakyatnya. Dan saya rasa SHG pun tidak setuju akan pembohongan publik seperti itu, apalagi ini manyangkut sejarah dan boleh dibilang, semacam biografi seorang tokoh nasional.
Sekali lagi, saya salut pada SHG, bbeliau telah menyadarkan sebagian anak muda negeri ini, bahwa, orang yang sewarna kulit dengannya, tidaklah melulu konglomerat atau pun orang kaya, maupun koruptor, tetapi banyak pula yang melarat dan setia serta memiliki nasionalisme yang tinggi, sama seperti kebanyakan anak muda negeri ini yang mencintai tanah kelahirannya!
Semoga saja, dibawah kepemimpinan SBY, pemerintahan negeri ini menjadi lebih baik, leih adil, cukup tegas, dan semakin bbersih dari tanga para koruptor!
Rabu, 31 Agustus 2005 @ 12:40
merdeka …………….
adakah ruh-ruh Soe Hok Gie melekat dalam semangat mahasiswa sekarang ini?
seorang lelaki yang hidup dalam dunia perjuangan adakah sekarang ini semangat Gie diikuti oleh pemuda2x
saya pun baru melihat garapan bukunya Gie, yang ditampilkan sosok Aktor nicolaas, wah ini seh menghilangkan esensi sebenarnya dari sosok Gie,
siapapun yang membacanya, siapapun yang menonton SHG pasti akan merasa bayangan antara kehidupan seorang selebritis Nicol, dengan kehidupan seorang aktivis jalanan…….. aduh tolong deh di tarik dari pasaran buku tersebut… ini namanya pembunuhan karakter seorang aktivis Soe Hok Gie…
semoga filmnya gie menjadi sentuhan terhadap pemuda2 serta mahasiswa yang hedonis22
Kamis, 1 September 2005 @ 12:55
Soe is the best
Kamis, 1 September 2005 @ 14:58
“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”
TOP ABIS
Kamis, 1 September 2005 @ 19:37
soe adalah seorang yang berhasil menyumbangkan pemikiran pemikiran terhadap bangsanya. semua orang bisa mengambil manfaat dari kisah perjuangannya. semoga kita bisa berjuang untuk masa depan yang lebih baik lagi.
Kamis, 1 September 2005 @ 23:35
Shg.adalah salah satu dari bagian dari pejuang muda indonesia…
tapi kenyataannya pengharapan indonesia yang merdeka 100% yang ia idamkan salah di interpretasikan oleh anak muda sekarang. berjuang bukan gaya hidup tetapi berjuang adalah pilihan hidup……hidup rakyat indonesia
Sabtu, 3 September 2005 @ 19:39
Mahasiswa adalah….suatu agent perubahan dan suatu agent sosial kontrol…!
Sabtu, 3 September 2005 @ 19:43
Idealisme menjadikan prinsip kehidupan…
Minggu, 4 September 2005 @ 20:42
saya sebenernya tidak mengenal sosok gie, saya baru mendalami kisahnya setelah ada tugas sekolah.ketika saya mencari soe hok gie dalam situs pencariaan di internet, sya kaget ternyata gie adalah sosok yang begitu akrab dan terkenal dalam masyarakat. Saya kagum pada gie karena kepekaannya terhadap masalah- masalah yang ada langsung dia nyatakan dalam perbuatan, tidak seperti saya atau segelintir orang yang hanya bisa melihat atau merasa peduli tetapi tidak dapat mengungkapkannya. Gie adalah seseorang yang berani dan berpegang teguh pada idelismenya, tetapi gie belum memperhatikan dampak dari perjuangannya. perjuangnya adalah suatu yang baik, tapi dampaknya lebih buruk dari sebelumnya. gie adalah pejuang sejati melawan ketidakadilan dan hanya alam yang bisa menenangkannya
Senin, 5 September 2005 @ 16:49
GIE..seorang pemuda idealis yang konsisten akan prinsip2nya.Namun, sayangnya ia tidak membangun basis sehingga seringkali putusasa, frustrasi, dan merasa berjuang sendirian.Kata2 dlm diary-nya: “Nasib baik adlh tidak dilahirkan, apabila dilahirkan mati muda dan “Berbahagialah mereka yang mati muda” benar2 menggambarkan kefrustrasian tersebut.
Selasa, 6 September 2005 @ 18:38
Saya membaca buku catatan demonstran Gie ketika SMA. Yang saya ambil pelajaran dari Gie adalah konsistensi Gie yang teguh mengkritik keras terhadap apapun bentuk penindasan struktural yang dialami rakyat Indonesia, sampai Gie kemudian menemukan bentuk keperpihakan idiologisnya menjelang kematiannya. Tahun 1990 Gie mengispirasi saya masuk gerakan untuk melawan dan menkritik pemerintahan orde baru yang saat itu sangat otoriter.
Sabtu, 10 September 2005 @ 19:33
saya senang sosok soe hok gie karena ia dapat servive di dalam kehidupan yang sanagt sengsara bagi orang lain yang tidak teguh pendirian, sangat hebat, apalagi kalau suadah ketemu dan ngobrol sama om Badil(wartawan senior kompas) saya tambah terkesan dengan idalisme, kecerdasannya, dan keberanianya mengatakan “tidak” pada semua ketidak adilan
Minggu, 11 September 2005 @ 3:04
soe hok gie adalah seorang akivis yang sangat kritis .Ia pernah melihat seorang pengemis di depan istana Negara, Menurutnya itu merupakan pemandangan yang sangat kontras sekali .Bagaimana tidak, pembantuny di dalam enak2an dengan selirnya-selirnya malah majikanya di luar mencari sesuap nasi hingga siang bolong.ia pun merasa kalau tokoh yang diyang mejandi pelopor kemerdekaan tidak pernah memandang ke bawah .
Minggu, 11 September 2005 @ 17:36
Minta tolooong….
Ada yang tau
alamat email ato alamat riilnya milesfilm, rumah produksi fil gie?
kasi tau ya… tenkyuuu.
Senin, 12 September 2005 @ 9:11
Saya bener2 salut thp perjuangan seorang Gie,
memang benar kalo seorang mahasiswa harus kritis(wajib)soalnya masa depan bangsa ini ada ditangan kaum muda.
Bagi saya meniru perjuangan Gie pada jaman sekarang sebagai seorang mahasiswa adalah menghasilkan suatu karya yang bisa digunakan oleh rakyat banyak, itulah salah satu bentuk perjuangan seorang mahasiswa.
Kritis sih harus, tapi kalo cuman menuntut terus tanpa memberikan solusi itu sama aja otak u dang…
Selasa, 13 September 2005 @ 13:33
saya sangat setuju dengan semua pemikirannya, kadang saya berfikir kita sebagai mahasiswa ini merupakan solusi atau masalah untuk negara kita ini, saya rasa kita masih indetik dengan”kita adalah masalah” apakah kita bisa menjadi solusi untuk bangsa ini, jawab pertanyaan ini di dalam hati kalian semua wahai teman-temanku…!kita harus bersatu dan tetap pada pendirian kita, lebih baik kita disingkirkan dari pada harus menyerah pada kemunafikan, tanamkan itu saja sudah cukup, ayo jangan takut kalau bukan kita yang merubah bangsa ini siapa lagi, ayo kita buat perubahan..!
Selasa, 13 September 2005 @ 19:54
GIE MENURUT GW ORANG YANG PUNYA PENDIRIAN kuat dan punya pemikiran yang bagus banget, gw salut ama keberanian nya dan cara dia menuangkan pendapat melalui tulisan, asli gw suka banget ma karakternya, cma satu yang gw ga setuju mengenai pendapat nya yang mengenai “nasib terbaik adalah tidak pernah di lahirkan”sebab kita dilahirkan dengan tujuan dan maksud TUHAN……THANKS
Kamis, 15 September 2005 @ 11:27
Soe Hok Gie
Hmm… Mungkin menarik buat masa kuliah. Buat masa sekarang ini, lebih banyak hal menarik dari sekedar idealisme dan romantisme masa rennaisance seperti ini.
Banyak hal yang harus dipikirkan ulang lagi. Tapi, nampaknya dia orang yang cukup keras dan kuat memegang prinsip, dan sangat kritis tidak pandang bulu, Soekarno aja dilibas mennn!
Mungkin kalo aku jadi temen kuliahnya, mungkin aku akan sebal sama kelakuan dia yang sok idealis dan perfeksionis. Tp dia juga mungkin akan sebal dan tidak peduli sama aku yang opportunis dan hipokrit ( Seperti sebagian besar KITA kan? )
Dan dia akan tetap jalan sendirian, orang senang atau benci..
Kadang ….dipikir pikir. .apa beda antara bebal dan genius? apakah orang jenius akan jadi bebal? apakah kita yg merasa normal dan santun ini akan menghargai orang seperti mereka?
Jangan jangan mereka akan kita singkirkan dalam hidup kita!
Kamis, 15 September 2005 @ 12:16
Soe…
gw tau dy dr temen gw. trus dy minjemin buku “catatan seorang demonstran” ke gw.
pertama gw baca, gw takut & malu. takut klo nanti gw bkl nemuin hal2 yg beda kenyataan dr yg gw tau. dan ternyata yg gw takutin bener!
bahagianya jd Soe, wlpn impiannya untuk mnjadikan bangsa ini mjd lbh baik ga pernah kesampaian, tp stidaknya ad 1 yg bs, yaitu Mati muda & di tempat yg paling di cintainya. bukannya itu salah satu impian Soe?
seorang pemuda yg mgkn cm ada 1 diantara 250juta manusia Indonesia.
sangat miris jika melihat bgmn hidupnya.
wktu hidup udah susah, sewaktu matipun jg susah.
mgkn apa yg dy cita2kan ga akn pernah tercapai.
jgn menangis disana ya Soe….
Sabtu, 17 September 2005 @ 19:15
aku blom nonton filmnya neh!! kok gie lama amat baru nyampe di kalimantan… dah kebelet nih! pengen bandingin gie dalam imagi ku ama gie_nya Nico. gila…..dah nunggu 2 bulan lebih, nih… klo mo nonton yang bajakan mah, banyak. tapi ko rasanya g etis ya?
Sabtu, 17 September 2005 @ 22:52
Kematian Gie sangat misterius. Yaitu ketika trasisi pemikiran Gie dari prisip politik lama menuju prinsip2 politik Gie baru justru mulai menunjukkan keberpihakan ideologisnya. Hal ini yang musti menjadi renungan kita.
Rabu, 21 September 2005 @ 14:41
[...] Catatan: Untuk buku yang lama seukuran 11×17 (lebar x panjang), sedangkan buku yang baru seukuran 14×20. Serta sampul depan yang baru berganti menjadi gambar Nicholas ‘Gie’ Saputra, ini menimbulkan joke untuk judul berganti menjadi ‘Catatan seorang Nicholas’ kelakar Jay. [...]
Jumat, 23 September 2005 @ 8:25
hahah…SHG, Sep LAhg..!kwkwkw…
Jumat, 23 September 2005 @ 8:44
menurut saya gie itu org yg tidak tahu usaha yang keras bahkan kerjaannya hanya bersantai saja yaaa kaan ya begitulah orang indonesia, maunya bersantai terus, ya nggak majulah utang terus
Jumat, 23 September 2005 @ 19:57
sangatttt luarbiasa!! semangat soe hok gie akan terus hidup digenerasi muda, yaitu kita, generasi yang akan suatu saat mengubah negara kita!! jasadnya boleh menyatu dengan oksigen yang ada dibumi(kan dikremasi, red) tetapi SEMANGATNYA AKAN TERUSSSSSSS HIDUPPPP!
semoga diantara kita, anak-anak muda, bakalan tumbuh seorang soe hok gie yang barooo lage…
Sabtu, 24 September 2005 @ 19:41
GIE, mungkin sudah mati tapi cita-citanya untuk merubah indonesia kearah yang lebih baik masih tetap ada di hati para mahasiswa indonesia yang idealis, tanpa perlu berpikir bagaimana nasibnya setelah perubahan itu, apa ikut gerbong ataupun tidak tak masalah baginya karena yang ingin ia capai hanya membuat indonesia yang lebih baik untuk anak-cucunya kelak.Jadi bagi mahasiswa yang sering turun kejalan untuk menyuarakan aspirasi rakyat untuk teruslah berjuang karena hanya kita para mahasiswa indonesia yang akan menjadi tumpuan rakyat indonesi
Sabtu, 24 September 2005 @ 23:43
salam pembebasan,
pada saat pertama kali baca bukunya yang berjudul catatan harian seorang demonstran kyaknya monoton banget, maklum karna saya sendiri gak terlalu suka dengan biografi apa lagi baca buku harian orang lain.
tapi setelah baca bukunya yang di bawah lentera merah, orang -orang di persimpangan jalan, dan satu lagi lupa deh. hebat juga orang ini yang jelas daripada baca buku harian, yang jelas soe hok gie memberikan kepada kita sejarah kejatuhan orla dan masuknya orba lewat pak harto yang saat ini mulai terkuak siapa dalang 66 walaupun belum detail.
tapi yang banyak terjadi kontroversi adalah jalur gerkan dia dsebagai seorang mahasiswa yang seakan koboy yang datang bila ada masalah pergi bila sudah aman itu yang kurang aku seoakati, ketika mahasiswa sudah masuk pada basis massa yang ada secara tidak langsung harus bertanggung jawab untuk meneruskan perjuangan ini, jadi sebagai kaum intelektual mempunyai andil untuk penerusan perjuangan ini bukan langsung pergi entah kemana terus massa dampingan di biarkan begitu saja dan dimanfaatkan oknum lain saya kira tidak,
mahasiswa, tani, buruh, nelayan, miskot bersatu tak bisa di kalahkan
Rabu, 28 September 2005 @ 13:46
pengen sekali baca dan nonton filmnya …. memang jiwa pemuda yang penuh semangat ….
Kamis, 6 Oktober 2005 @ 19:02
[...] Sosok Adrian di sini digambarkan seperti sosok Soe Hok Gie yang diperankan oleh Nicholas Saputra dalam film Gie. [...]
Minggu, 9 Oktober 2005 @ 10:55
Hi #132 saya adalah #259
tulisan anda mencerahkan pagi hari saya, terima kasih untuk membuat saya tertawa
Senin, 10 Oktober 2005 @ 21:03
AKU BUKAN INGIN HIDUP DENGAN KEBANGGAN AKU INGIN BERMAKNA BAGI BANYAK ORANG, AKU MEMANG TAK PERLU DTERBANG DANG MENGASINGKAN DIRI KE ILALALANG SETIDAKNYA DITEMPAT RAMAI MASIH BANYAK YANG BISA AKU HAYATI BILA MEMANG MEMANDANG POSITIF SEMUA ITU
Rabu, 12 Oktober 2005 @ 10:42
gie emang tokoh sang demonstran aku salut sekaligus prihatin atas nasip yang di alaminya, andaikan masih ada GIE disini akan ku ajak dia tuk DEMO BBM, mungkin dengan bantuanya SBY dapat terbuka hatinya, \”HIDUPKAN DEMONSTRASI BESAR BESARAN DI INDONESIA KABARI SAUDARAMU DI SOLO\”
Kamis, 20 Oktober 2005 @ 20:11
gie….adalah sosok aktivis yang takkan pernah terlupakan. bukan saja karena tulisan – tulisannya yang mampu membuat gempar dan membakar semangat mahasiswa. tapi juga karena jiwanya. rasa keberpihakan pada rakyat itulah yang patut diacungi jempol. GIE AKAN TETAP HIDUP DALAM SANUBARIKU
Senin, 7 November 2005 @ 23:02
wah…suprise banget. jadi ingat masa SMA dulu, jadi kangen baca buku langka yang susah dicari di perpustakaan sekolah, krn gak semua siswa mau baca. berat kali yaa..
sudah kurang lebih 7 tahun telah berlalu sejak membaca buku yang lusuh itu tapi sarat dengan nilai2 bahasa2 yang lugas dan terkadang puitis.Saya & suami jadi nostalgia lagi deh. kok VCD SHG belum beredar ya… Gimana miles ….?
Kamis, 10 November 2005 @ 15:42
Gie.. sebagai nasionalis sejati keturunan china, kita harus bangkit untuk mengangkat nama baik bangsa Indonesia, banyak diantara suku keturunan yang lupa bahwa mereka makan dan minum lalu mati dibumi pertiwi ini..
ayo jangan perburuk nasib bangsa ini dengan perbuatan tercela, jaga akhlak dan terus tingkatkan kepedulian terhadap sesama..
-Go giem lo-
Minggu, 13 November 2005 @ 16:42
Soe Hok Gie merupakan orang paling keras di Indonesia. Selalu jujur dalam berpikir dan mengutarakan pendapat tetang orang lain, tidak takut meskipun akan berakibat fatal karena ucannya jika orang yang dikritiknya benar. Hampir semua kritikannya tentang seseorang betul. Seorang pelajar sangat baik apabila mau mengikuti jejak Gie. Bukan hanya mahasiswa, anak SD, SMP, Kakek2, Nenek2, siapa saja pun bisa. ingat “LEBIH BAIK DIASINGKAN DARIPADA MATI DALAM KEMUNAFIKAN”
Minggu, 13 November 2005 @ 16:52
Sekarang gue mau komentar tentang film GIE yang diperankan nicolas saputra. sebenarnya nico tidak layak memainkan aktifis muda seperti gie. gie adalah orang yang keras, nico bukanlah orang yang keras dan bukan orang yang berani mengkritik habis-habisan. Gie hanya bisa diperankan oleh gie sendiri. tidak ada yang bisa mencontoh gie, baik hanya bohongan.
tapi, saya sangat bangga terhadap “RIRI RIZA”, sutradara film gie. ia dapat membuat gie itu seperti hadir dalam film itu. GOod for RIRI RIZA, teruslah berkarya
Minggu, 4 Desember 2005 @ 5:09
share our heart
Rabu, 7 Desember 2005 @ 22:31
I ALWAYS BE GELISAH
AND UNABLE TO LIVE IN PEACE
Rabu, 28 Desember 2005 @ 8:37
Andai semua pemuda Indonesia dilahirkan mempunyai kepatriotan seperti Gie.
Selasa, 10 Januari 2006 @ 9:26
salut coy!
budayakan kemahasiswaan kita..
Rabu, 18 Januari 2006 @ 13:47
sumpah aku ngefans abis sm si nicho tp………..
asli aku gak suka banget klo cover CSD covernya si nicho….
jadi aneeeeeeeeeeh…..
Jumat, 20 Januari 2006 @ 7:24
Saya terkesan sekali setelah membaca buku CSD.Tapi ada satu kesalahan fatal SHG menurut saya. Yaitu dia seorang Atheis.
Di buku CSD ada sebagian catatan yang hilang (sekitar tahun 65 pada saat G30S)ada yang tahu tentang ini?
Minggu, 22 Januari 2006 @ 14:15
Soe Hok Gie. Wow……. Kekaguman yang gak bisa Gw katakan, seakan lidah ini tak dapat bergerak, hanya dapat menggambarkan Sebuah Hati yang sedalam samudra, sebuah pikiran yang setinggi langit yang biru melintas di cakrawala Indonesia’ku… Jiwa seorang pemuda Indonesia yang sepatutnya menjadi contoh atau setidaknya menjadi sumber motivasi untuk Pemuda-Pemudi saat ini.
Berjuanglah “MAHASISWA INDONESIA’Ku” Masa depan Negeri berada di Pundakmu…
“Jadilah pohon OAK yang berani menantang angin”
Be Our Dream..
Mimpi tentang Indonesia, di mana
ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan
berkata – stop semua kemunafikan, stop
semua pembunuhan atas nama apa pun.
Tak ada rasa benci pada siapa pun,
agama apa pun, dan bangsa apa pun.
Dan melupakan perang dan kebencian,
dan hanya sibuk dengan pembangunan
Indonesia yang lebih baik.
Hanya mereka yang berani menuntut
haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau
mahasiswa Indonesia tidak berani
menuntut haknya, biarlah mereka ditindas
sampai akhir zaman “MAHASISWA
BUKANLAH KERBAU” Pemuda adalah
penentu masa depan bangsa…. Majulah
Indonesiaku
Minggu, 29 Januari 2006 @ 19:51
Shg……….pemikiranmu membuatku u terus tetap BERJUANG!!
Minggu, 12 Februari 2006 @ 23:45
Gie adalah seorg indonesia yg betul2 indonesia.
Gie adalah seorg yg tau apa tujuan hidupnya dan hidup utk mencapai tujuannya.
Berapa org sih di dunia ini yg tau apa tujuan hidupnya dan fokus sepenuh ati utk mencapainya?
Gie adalah patriot sejati yg tanpa kompromi terhadap kemunafikan.
Ibu Pertiwi yg tercinta kapan putera puteri Mu yg laen mempunyai karakter dan pemikiran seperti Putra KebanggaanMu ini. Bangsa Indonesia memerlukanmu SGH.
Senin, 13 Februari 2006 @ 12:09
SALUT….mungkin hanya itu ungkapan yang bisa gw ungkapkan untuk soe hoek gie. kita gak akan pernah mengira di negara yang penuh dengan kemunafikan ini akan lahir seorang soe hoek gie yang benar-benar super. mungkin bisa dibilang gw sok teu soale belum pernah ktemu orangnya tapi bisa ngomong gitu. tapi memang pada era kebobrokan moral seperti saat ini, kita benar2 butuh seorang Gie baru yang pastuii sangat diharapkan oleh bangsa ini khususnya para generasi muda.
TERIMAKASIH GIE…. mungkin hanya ini yang bisa aku sampaikan. Namun yang pasti, entah kelak akan muncul Gie2 yang baru yang akan melanjutkan perjuanganmu.
INDONESIA MENUNGGU SOE HOEK GIE2 BARUUU…………..
Selasa, 14 Februari 2006 @ 9:55
Gie…..waktu itu anak muda yang paling idealis, mati muda juga membuat Gie tambah idealis ato juga sebuah keberutungan karena gak perlu lama-lama liat Bangsanya HANCUR PELAN!, sepakat sama Maxwell Gie sebenarnya anak muda yangberlatar belakang tidak terlalu hebat, teman muda sekarng juga bisa jadi Gie2 yang lain, Gie juga dibesarkan oleh Moment/ kondii waktu itu (karena pahlawan lahir dalam keadaan yang paling sulit, bukan pada keadaan yang biasa-biasa saja), Temen-temen yuk… belajar jadi Gie yang berikutnya..biar gak persis yah mirip2 aja lah Idealisnya gak apa2. Ingat! Gie sangat tidak percaya dengan Slogan, karena sesuatu tidak akan pernah lahir dari sebuah slogan, jadi…………….(yah gitu decH)
Selasa, 14 Februari 2006 @ 19:38
Andaikan ia masih hidup………….
Rabu, 15 Februari 2006 @ 16:45
I just heard about soe hok gie and after i’ve read the synopsis about the movie, it makes me wanted to know him more and more. Dia seorang pemuda yang begitu berani dan di saat dia memperjuangkan cita-citanya dia berani berkorban berhabis-habisan. I respect him and I am so glad to know him even though through his movie.
Kapan this movie di screenkan di MALAYSIA?
congrat’s to all the productions crew. This movie give me a very good impact to be a better person.
Jumat, 17 Februari 2006 @ 3:29
Ass.Wr.Wb.
Cerita Soe Hok Gie memang bagus, mungkin filmnya juga bagus.
Namun melihat animo remaja saat ini yang lebih tertarik dengan film
barat mungkin, soe akan menjadi pesaing.
saya harap soe hok gie jadi pilihan remaja saat ini
Jumat, 17 Februari 2006 @ 8:49
banyak yang orang tua kita yang belum mengenal hok gie. padahal mereka ada di tahun itu. mungkin rezim orde baru sempat mengubur realita semangat hok gie agar tidak terpancar dan terkubur bersama jasadnya. tapi ralita lain juga membongkar semangat nya sehingga terpancar lagi …thanks for reformation n this revolutioner.
Jumat, 24 Februari 2006 @ 13:10
Soe hok gie adalah jagoan pembela kebenaran! tahan banting….. andaikan pemuda dan pemudi Indonesia seperti dia, mungkin revolusi sosial akan berhasil. lebih baik diasingkan daripada hidup dalam kemunafikan!
Sabtu, 25 Februari 2006 @ 17:27
Gie……
seorang pemuda yg sangat idealis.
Cerdas.
Berwawasan.
Takdir telah merenggutmu dari kemunafikan dunia.
Engkau telah tenang bersama kedamaian sesungguhnya.
Engkau telah mendapatkan kebebasan abadi.
Bersama alam.
Engkau akan tetap hidup walaupun engkau tak ada.
Jejak-jejak langkahmu di MandalaWangi
akan ku ukir kembali.
Hanya untukmu.
Sabtu, 25 Februari 2006 @ 17:29
Gie….
Manusia luar biasa!
Minggu, 26 Februari 2006 @ 9:55
SHG salah satu icon marxisme diindonesia, hati -hati berlebihan dalam memujanya anda akan terkena pengaruh dengan apa yang namanya perang pemikiran ….. mengapa kita tidak menjadi diri sendiri saja ..setuju …..
Senin, 27 Februari 2006 @ 22:31
Soe seorang inspirator bagi gw. Moga – moga aja gw minimal bisa ga nambah kehancuran bangsa kita ini.
Selasa, 28 Februari 2006 @ 15:20
sosok Gie bener – bener gambaran anak muda Indonesia yang Idealis nggak kemakan ma jaman. sayang saat ini negeri tercinta lebih banyak dihuni oleh anak mami yang manja setengah mati.
Rabu, 1 Maret 2006 @ 13:50
GIE IS THE REAL DEMONSTRAN, I HOPE, BORN THE LAST GIE
Rabu, 1 Maret 2006 @ 15:41
“Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“
i love this lyric… why don’t we have wings to fly with?
Kamis, 2 Maret 2006 @ 23:23
#286 ikon marxisme matamu!
Kamis, 9 Maret 2006 @ 15:14
gie, gua salut banget. semoga elu tenang dialam sana.
mungkin gua bukan seperti elu, tapi gua ada jiwa seperti elu yang bermain dengan perasaan kehidupan alam.
Jumat, 10 Maret 2006 @ 16:40
“kembalilah makhluk kecil dari ketiadaanmu” itu julukan seorang demonstran yang berjiwa patriotisme dan anti komunis bagi seorang Gie. Gie sejak kecil benci dengan ketidakadilan dan ingin memajukan bangsanya hingga saat ini tujuannya belum tercapai. Di zaman pembangunan ini pemerintah seperti “Buruh Tua”, kaum intelektual korup yang sedang memperbodoh bangsa. Penerus Bangsa harus melakukan perubahan itu “kita”.
Jumat, 10 Maret 2006 @ 20:25
gue suka sikap gie!melawan dengan kata!karena kata bisa jadi sajak yang indah, dan kata juga bisa sebagai pedang!
Jumat, 10 Maret 2006 @ 21:32
Jujur aja gue cuma anak sma kls 3 yg gak tau n’ cuma denger2 doank ttg dunia politik.
Tapi abiz gue nonton n’ baca novel Soe Hok Gi, gue jadi tahu arti pemberontakan yang benar dan pembebasan dari tirani pengekang idup kita…
Soe Hok Gie bener2 bikin gue berpikir untuk melakukan apa yang berguna bt bangsa gue
Mgkn gue cuma anak sma yg sok tau n’ pengen ikut2an doank, tapi lubuk hati gue ngatain bahwa “lo kudu bisa nerusin cita2 dan perjuangan Gie” yaitu ngebebasin bangsa kita dari korupsi dan kapitalisme petinggi kita
Gue kudu berbuat sesuatu untuk nerusin cita2nya
pahlawan marxisme yang bikin gue kagum ini mungkin emang 1 dari 1000 orang, tapi gue pingin jadi penerus selanjutnya
kata Gie “kita bisa merdeka karena melakukan pemberontakan” jadi gue gak ragu buat nerusin cita2nya
Hidup Gie…..!!
Minggu, 12 Maret 2006 @ 2:21
Soe, Seorang Tokoh Idealis Yang Terjebak Pada Sebuah Politik Praktis Yang Diperankan Oleh Militer (Bener Gak Sih).
Jujur Aja Sekarang Ini Sudah NGGAK ADA Lagi Seorang Tokoh Mahasiswa Yang Bisa Meniru Dan Bahkan Sama Seperti Dia. Meski Berbeda Agama saya Sangat Salut dan Ingin Sekali Meneruskan Perjuangan Dia.
Bagi Teman-Teman Yang Masih Punya Idealisme Mahasiswa Sebagai Agen Of Change Mari Kita Bangun Kembali Idealisme Mahasiswa Yang Sebenarnya.
Jika Ada Yang Tertarik, Mari Kita Buat Forum Tentang Mahasiswa Yang Idealisme.
Saya Masih Mencari Format Yang Tepat dan Pas Untuk Melakukan Hal Itu. Jika Ada Yang Bisa Membantu, Kirim Email Ke Almabruri@Yahoo.Com
Kita Buka Lembaran Baru Bagi Mahasiswa Yang Anti Kolonialisme dsb.
“SOE TETAP DIHATI PARA MAHASISWA YANG PEDULI DENGAN MUSTAD ‘AFIN”
Anti Kemapanan Terhadap Sistem Yang Tak Beres.
Hidup Mahasiswa……..!
Hidup Rakyat…….!!
Hidup SOE Dihati Kita…..!
Rabu, 15 Maret 2006 @ 4:51
SOE Hok Gie adalah contoh yg konkrit tentang ke tidak puasan dan ke tidak adilan system demokrasi yg ada di NKRI!! Mudah mudahan dgn ini semua kita bisa belajar dgn lebih terbuka dalam pikiran dan sikap untuk membina tingkat ke demokrasian di INDONESIA YG SUDAH LAMA TIDAK NAIK2 KELAS!!! alias demokrasi anak SD! bisa nya teriak teriak doang.
Marilah dgn bersama kita belajar lebih baik lagi tentang bagaimana seharusnya system demokrasi di jalankan tanpa harus membedakan suku, keturunan, ras, agama dan tetek bengek peninggalan feodal! di negara kesatuan kita yg kita cinta.
Cobalah belajar lebih dalam lagi sebelum kita bertindak apakah tindakan2 kita mencerminkan sikap demokrasi yg sehat atau hanya sebagai koar2 belaka di jalan jalan!.
Saya salut terhadap mahasiswa yg boleh di bilang sebagai megaphone nya rakyat, tapi sebagai kader2 Soe Hok Gie berikut nya hendak nya tingkat intelijensi nya juga di tingkat kan untuk mendukung suara hati rakyat!Demi tercapai nya cita2 DEMOKRASI YG KITA IDAM IDAM KAN!.
Senin, 20 Maret 2006 @ 9:52
kesukaan gue naik gunung dulu gue pernah dateng ke semeru, bareng anak2 mapala gue, dan entah kenapa semua temen-temen gue mimpi ada orang yang manggil2 gie…gie…gieeeeeee…. itu terjadi setelah gue keliling2 di semeru. dulu gue ga tau apa yach.. gie ” nama orang?, nama makanan? ato apa!$%@&*!, gue ga tau karena jujur gue ga suka baca jadi gue ga tau
setelah gue pulang dari semeru tiba2 temen gue ngajak ke gramedia buat beli alat2 kantor, di sana gue nemuin buku tentang “SOE HOK GIE” dan dengan terpaksa gue baca soalnya gue inget ada kata2 “Gie..” setelah gue coba baca ternyata gie adalah “seorang mahasiswa yang tanpa lelah mencoba untuk membangkitkan bangsa dari keterpurukan”. setelah gue baca itu semua, gue ga tau apa maksud mimpi2 itu
tapi setelah kejadian itu gue jadi suka baca, nulis. Dan memulai untuk menulis di “blog” dan gue lebih bebas setelah gue belajar tentang pemberontakan dan pembebasan dari ketidakadilan
Rabu, 22 Maret 2006 @ 13:43
GIE ADALAH SOSOK PEMUDA HARAPAN BANGSA…
AND TENTUNYA “pARA PEMUDA yg HIDUP di ZAMAN SEKARANG!”
SEBUAH INSPIRASI YANG DATANG DARI TUHAN UNTUK PERUBAHAN!
Rabu, 22 Maret 2006 @ 14:00
GIE…DIA ADALAH SOSOK YANG DAPAT DIBANGGAKAN “BAGI PEMUDA YANG HIDUP DI ZAMAN SEKARANG..BTW GUE PENGEN JG TUH SEPERTI DIA..WOIII ANAK BANGSA!! AYO BUAT PERUBAHN TOEK NEGERI INI!
J9N BWT SIA2 ‘PERJUANGAN Soe Hok Gie’
oppy_torres_mHsSwA_INDONUSA_eSa_Un99uL
Rabu, 22 Maret 2006 @ 15:29
Salute buat GIE, dan Nicholas Saputra, serta Lagu Donna nya
Kamis, 23 Maret 2006 @ 15:40
Kasian pak soe ini….
Idealismenya tergla jaman dan hanya jadi pemanis tidur para hedonis.
Kamis, 23 Maret 2006 @ 21:31
Assalamu’alaikum,
sy berpendapat ttg soe hok gie,
dy org na tdk memandang bulu dan sy semenjak smp sudah mengagumi tokoh seperti dy,
dan yg sy suka dr gie: kata” na sangat hebat,
pha Lg ma kata” na: ” lebih baik mati dari pada menyerah d’ dalam kemunafikan ” . dan meskipun dy berbeda agama tp pemikiran na utk smua na .
Kamis, 23 Maret 2006 @ 21:56
Soe hok gie seorang demonstran yg ga’ pernah puas melihat pemerintah yg suka maenin rakyat na,
Kamis, 23 Maret 2006 @ 23:41
aku cuma bilang terima kasih untuk sang pembuat ide.., kenapa harus ada sosok soe hok gie tahun ini, hanya saran / kritik
darimana dapat idenya? dan kenapa harus beliau yang di tampilkan, pasti ada sosok lain di balik adanya tokoh soe hok gie tahun ini..
akan lebih ex..m bila ia di tampilkan saja tahun depan!
aku tunggu ya..
terima kasih
Jumat, 24 Maret 2006 @ 12:47
GIE……hmmm, bagus juga kalo pemuda masa kini tidak terkungkung dalam kekalutan politik yang pelik. Seperti yang selalu diisyaratkan seorang Soe Hok Gie, prinsip hidup adalah hal terbaik yang kita meliki. Trus?mengapa takut untuk memperjuangkannya!!
Jumat, 24 Maret 2006 @ 14:10
Gie menjadi simbol perjuangan. Perjuangan tanpa tersekat dalam kelompok/golonganisme yang sempit. Dia ingin meneruskan falsafah garam. Garam itu sangat sederhana. Yang diketahui darinya hanyalah menggarami tanpa harus nampak secara kasat mata kepada para tamu.
Thanks Gie
Sabtu, 25 Maret 2006 @ 17:55
soe jiwamu akan aku kenang selalu kemunafikan di abad ini semakin parah
Selasa, 28 Maret 2006 @ 9:41
Gie.. Manusia yang sadar bahwa dirinya Manusia..
Selasa, 28 Maret 2006 @ 15:56
the best created of human
Jumat, 31 Maret 2006 @ 15:43
gie akan selalu hidup dalam imajinasi para penerus bangsa, dikala teman-teman seperjuangannya yang meneriakkan demokrasi luluh bersama pangkat yang diberikan politisi2 pemerintah, dia tetap dijalur yang diyakininya yaitu menentang ketidak adilan dengan caranya sendiri.
semoga para mahasiswa tidak lupa dengan janji2 mereka saat bergerak melawan ketidak adilan pemerintah dan tidak silau akan pangkat2 yang akan diberikan pada mereka oleh pemerintah dan meniru gie dalam menjalan kan sumpahnya sebagai mahasiswa
……………..viva demokrasi indonesia……………………………………
Minggu, 2 April 2006 @ 12:53
Andaikan masih ada orang seperti Soe Hok Gie di era sekarang ini, pasti Indonesia sudah jauh berubah menjadi lebih maju dari sekarang.
Senin, 3 April 2006 @ 8:35
soe hok gie
kami mendukungmu……….
Selasa, 4 April 2006 @ 16:11
soe hok gie adalah seorang yang berjiwa besar. yang tidak bisa hidup tanpa sehari saja memperotes pemerintah… saya setuju dengan apa yang dikatakan dalam film soe hok gie “kita merdeka karena soekarno, bung hatta berani memmperotes” sehingga kita merdeka pada sekarang ini… soe hok gie adalah orang yang paling saya kagumi…. sebab pemikiran saya tentang apa yang terjadi pada masa lampau hampir sama dengan pemikiran saya… dan jalan hidup dia dengan saya hampir sama…
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
Aku hanya bisa berkata
“Lebih baik diasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan”
Jumat, 7 April 2006 @ 15:45
sedikit menyedihkan tapi cukup untuk membangkitkan semangat jiwa muda yang telah terkubur lama. membangkitkan kita yang tertidur, membukakan mata kita yang buta akan realita apa yang ada. saluuuuut…. buat gie
Jumat, 7 April 2006 @ 23:58
Aku dari Malaysia..
Student of UiTM, Shah Alam..currently studying Mass Communication & Media Studies..
Aku mula mengenali Soe Hok Gie pada tahun 2005.
Aku mengenalnya dari buku biography nya.
Menyentuh hati kerasku.
Perihal jalan fikirannya. Hati yang mahukan damai. Hati yang penuh cinta..pada diri, manusia, alam, negaranya..
Semoga rohnya akan slalu bahagia di sana…
Minggu, 9 April 2006 @ 22:41
Beliau telah tiada 37 tahun lalu, namun semangat dan jiwa nasionalismenya tak pernah pudar. kita, sebagai penerus bangsa memang tak di tuntut menjadi dia, tapi kita dituntut untuk memiliki semangatnya.
Hidup So Hok Gie ……..!
You are my hero.
Minggu, 16 April 2006 @ 19:53
ADA SATU ADEGAN DIDALAM FILM INI… (MUNGKIN SAYA EMANG KURANG NGERTI KALI)… PAS KETIKA TERJADI DEMO, GIE ADA KAN SAAT ITU.. TAPI GIE MALAH.. DIEM… NGELIATIN YANG DEMO… TRUS PERGI (KAYAK YANG NGUMPET GITU) GITU AJA SAMBIL LIATIN YANG DEMO…
KO SAYA RASA ANEH SIH?!
Jumat, 21 April 2006 @ 15:52
gie….
sosok pemuda ang kritis dan realistis dalam menghadapi problematika indonesia saat itu. sosok pemuda yang inginkan segala perubahan mengenai penindasan pola pikir masa orba.
eh……..adegan ciuman tuh juga beneran ada dalam kehidupan gie sesungguhnya? ehm, menyentuh kalbu bok!
Jumat, 21 April 2006 @ 22:48
saya adalah seorang pengagum soe hok gie.Bagi saya dia adalah seorang aktifis mahasiswa yang sangat disegani pada masanya.soe merupakan sebuah spirit bagi saya untuk menjalani kehidaupan sebagai seorang mahasiswa.Mungkin saya ma soe..memiliki kesamaan dalam hal hobi, aku juga suka naik gunung seperti soe, pencinta alam merupakan jiwa saya.aku sendiri naik gunung sudah sangat sering, mungkin gunung seputaran jawa timur sudah 60% aku daki, hanya satu keinginan saya yaitu niak semeru!tapi saat ini semeru masih ditutup untuk pendakian.jadi saya harus menunda rasaku itu.salam buat seluruh manusia yang suka ama perjuangan soe hok gie dimanapun kalian berada
Senin, 24 April 2006 @ 19:47
Dasar bego ni Priyadi goblok
Selasa, 25 April 2006 @ 4:03
(hi ..kenalin saya alumni jur.Sejarah UPI bdg dan FIKOM Humas.Unpad)what the helll?kenapa org segreat SHG bener2 dihidden?swear! saya baru tau bahkan denger SHG 3 hari kemarin di acara Metro TV telling SHG in memoriam atao apa(lupa nama acaranya)baca comment temen2 diatas sejarah SMP, SMA gapernah mencatatnya bahkan sayapun slama kuliah di sejarah UPI/IKIP bdg ato jg di FIKOM unpad bener2 ga pernah denger namanya dsamping mngkn jarang baca jg he222 X, tapi walo skarang baru saya search…ternyata Beliau memang pantas dapat julukan pahlawan, diabadikan walo memang mungkin hanya bisa kita patri dalam benak dan hati setiap generasi bangsa Indonesia. Sungguh bukan masalahin SARA tapi memang mungkin sebagai orang keturunan saya salut!dengan apa yang telah Beliau korbankan, tanpa memandang bahwa dia bukan pure Indon, SHG adalah SHG dia telah memilihnya, menyitir yang ditulisnya diatas dari quote yunani berbahagialah dia yang mati muda, Gie memang tidak sia2 walaupun meninggal dalam usia muda namun segala apa yang diperjuangkannya takkan pernah mati…sekarang hari ini pabila dia masih ada mungkin Gie masih akan tersenyum walaupun masih ada yang mengganjal dihatinya “Bumi pertiwiku elok kian elok malah, tapi mungkinkah penghuninya pun kian elok?!entahlah….maffkan Gie ini mungkin bukan salahmu Pertiwi kini sedang dilanda duka yang berkepanjangan, duka moral yang parah….korupsi?KKN? akh itu hanya sebagian kecil ..entah siapa yang harus bertanggung jawab.tq.
Jumat, 28 April 2006 @ 20:21
SOE HOK GIE!aku bukannya ngikut ato apa nulis-nulis soal Gie tapi ini bener-bener ungkapan dari seorang aku.aku dulu sama sekali nggak tau apa-apa tentang sosok Gie, heran deh kok sudah pada tau tentang Gie dari SMP ato SMA bahkan filmnya diputer pun yang lain pada ribut pengen nonton tapi aku biasa-biasa aja(aku cuman tau, ooo..nicholas yang jadi tokoh Gie dan ceritanya pun aku nggak tau tentang apa katanya seh “berat”).Tapi sekitar bulan februari kemaren pas nganterin temen ketaman bacaan aku nggak sengaja nemu bukunya “Memoar Biru Gie” karyanya Agus Santosa dan nggak tau kenapa aku pengen pinjem buku itu.Aku nggak tau juga kenapa waktu baca tulisan Andreas Harefa “manusia pembelajar” aku ngerasa tertohok sekali(itu aja baru tulisan seorang Andrias Harefa belum baca langsung buku tentang CSD, kalo sekarang seh udah punya).Disitu aku ngerasa bahwa “status” aku seorang mahasiswa bener-bener dipertanyakan.Bagaimana mungkin seseorang dengan “status”yang sama tapi mempunyai pola pikir yang berbeda. Aku malu!Aku jadi inget kata-kata seniorku pada materi tentang organisasi bahwa secara nggak langsung kita ini memang dibentuk menjadi otomat-otomat(robot)kampus yang taunya cuma kuliah, kost-kostan dan pacaran!aku nggak bisa jelasin, yang jelas buku ini bener-bener istilahnya membuka pikiran aku.Aku tidak benar-benar menyanjung seorang Gie karena dia juga punya kelemahan (no body’s perfect) tapi aku benar-benar menghargai idealismenya, keberaniannya dan kejujurannya.Memang benar bahwa hidup diIndonesia ini hanya ada 2 pilihan, IDEALIS ato APATIS!! THANKS, GIE…
Kamis, 4 Mei 2006 @ 14:26
“JIKA HATIMU MERASA GELISAH MELIHAT KETIDAKADILAN DISEKITAR KITA MAKA KAMU ADALAH SAHABATKU…”
Sabtu, 6 Mei 2006 @ 23:38
SUATU KOMENTAR UNTUK “GIE”
Tahun 2005, dunia perfilman indonesia kembali menorehkan sejarah lewat sebuah karya anak bangsa yang berjudul “Gie”. Film yang diperankan oleh aktor papan atas Indonesia yaitu Nicholas Saputra ini, langsung mendapat perhatian oleh sebagian masyarakat indonesia.
Film ini menceritakan tentang seorang tokoh mahasiswa yang aktif dalam kehidupan organisasi di kampus. Gie, dengan nama lengkap Soe Hok Gie, pada saat itu merupakan pusat sentralistik rekan-rekannya dalam kegiatan di Kampus. Soe Hok Gie terlahir dari keturunan Tionghoa atau bangsa Chinese. Di film ini juga Gie mendapat kesempatan untuk bertemu secara langsung dengan bapak Presiden Soekarno dalam program Asimilasi atau pembauran suku bangsa, tapi tidak semua dalam cerita film itu mengandung sesuatu yang benar. Ada beberapa hal yang keliru, hal inilah yang akan saya coba bahas dalam tulisan saya kali ini.
1. Sosok gie pada film ini dikesankan sebagai tokoh yang menolak semua kebijakan dari Presiden Soekarno. Sosok idealis Gie digambarkan kecewa dengan teguran Bung Karno yang mengomentari jas yang Gie pakai di Istana Negara, timbul pertanyaan, apakah seorang Gie tidak tahan atas komentar yang disampaikan oleh Bung Karno mengenai pakaiannya lalu timbul dendam dan mengakibatkan sosok Gie sangat membenci Soekarno? Di film ini, telah digambarkan dengan jelas tokoh Gie yang keliru.
2. Seorang rekan Gie, semasa kecilnya dulu sempat berpisah dengan Gie, dipertemukan kembali setelah Gie dewasa, rekan tersebut telah bekerja pada Partai Komunis Indonesia. Gie kembali mengingatkan rekannya untuk tidak bergabung di partai tersebut. Rasa kesetiakawanan yang tinggi, tapi disini Gie tidak memberikan solusi pekerjaan kepada rekan tersebut lalu timbul sebuah opini bahwa sosok Gie hanya mampu berpendapat saja.
3. Pernyataan yang menyudutkan bahwa Sosok Rekan Kecil Gie yang Tionghoa tersebut menggambarkan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) memiliki basis massa yang besar di suku Tionghoa, pertanyaannya apakah suku China merupakan anggota terbesar dari Partai Komunis Indonesia (PKI)? Jika Jawabannya Tidak, maka tidaklah adil untuk menggambarkan suatu suku/etnis dalam kekhilafan sejarah bangsa ini.
4. Dalam beberapa kali pertemuan/debat mahasiswa, sosok Rekan Gie yang lain yaitu Jaka, digambarkan sebagai seorang aktivis dari organisasi PMKRI yang mengajak Gie untuk bergabung ke organisasi tersebut, dalam gambaran film, dinyatakan bahwa Gie menolak untuk bergabung tapi tidak dalam pernyataan tegas disini gie hanya mengomentari lewat buku hariannya saja. Sosok Jaka juga digambarkan sebagai tokoh aktivis mahasiswa yang setelah mendapat jabatan di pemerintahan tidak lagi konsisten terhadap perjuangan moral mahasiswa. Gambaran ini jelas menyesatkan bahwa aktivis mahasiswa di organisasi extra kampus hanya mengejar jabatan tertentu, setelah itu diam!
5. Dalam beberapa adegan sempat digambarkan bahwa aktivis GMNI sangat dekat sekali dengan kekerasan. Ini terbukti, saat menyampaikan pendapat di rapat kemahasiswaan, sosok Gie diserang oleh beberapa orang yang tidak senang dengan pernyataannya. Ini jelas keliru, siapa tokohnya pun tidak jelas yang menyerang sosok Gie.
6. Sosok Gie juga digambarkan dengan sosok misterius, beberapa kali pertemuan dengan anak buah dari Sosok Soemitro, siapa Soemitro? Di adegan film ini digambarkan bahwa Soemitro merupakan orang-orang dari Partai Sosialis Indonesia. Jelas sekali ada sebuah perselingkuhan politik antara Gie dan PSI, benar tidaknya tergantung anda yang menerjemahkan film ini.
7. Di film ini, Gie juga sempat menulis tentang artikel yang diperoleh dari seorang sumber di Pemerintahan mengenai pembantaian anggota PKI di Pantai Uluwatu Pulau Bali. Kebenaran sejarah ini perlu dibuktikan kembali agar tidak menimbulkan fitnah di kemudian hari.
8. Setelah tumbangnya Orde Baru, Gie di gambarkan mengunjungi seorang rekan dekat dan menanyakan kabarnya. Setelah itu rekan menanyakan ke Gie apakah dia telah merubah nama Chinanya menjadi nama pribumi, Gie menjawab tidak, kenapa Gie tidak menjelaskan argumen mengenai kebijakan yang keliru terhadap suku China di masa itu? Gie terperangkap pada sebuah dinamika di mana peraturan mengenai nama-nama individu suku China diharuskan mengganti dengan nama yang lebih Pribumi? Dan Gie tidak memprotes sedikitpun, padahal Gie adalah utusan dari Pemuda Suku China yang mengikuti Program asimilasi di era Soekarno.
9. Ada gambaran yang keliru setelah berjuang mahasiswa mendapatkan kebebasan untuk mengikuti budaya barat dengan adanya adegan Party di film ini. Ini menggambarkan bahwa pada era Soekarno budaya barat tidak dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Budaya hura-hura telah ditunjukan Gie dengan mengikuti budaya barat, hal ini menjadi sebuah kekhilafan sejarah, yang sekarang kita rasakan dengan adanya majalah Playboy Indonesia. Lalu timbul pertanyaan, Warisan siapa ini?
10. Kematian sosok Gie di Puncak Semeru masih merupakan suatu tingkat kemisteriusan tingkat tinggi. Di film ini tidak dijabarkan dengan jelas perihal kematian “Gie”. Penonton dapat saja berasumsi bahwa kematian Gie suatu rekayasa yang dibuat dengan menjebak Gie di Puncak Gunung. Rekayasa ini dapat saja dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak senang akan tulisan Gie di Orde Baru maupun Pihak yang sakit hati akan tulisannya dalam mempengaruhi pergerakan mahasiswa di Indonesia di tahun 1966.
Kematian yang misterius membuat Gie sebagai tokoh Idealisme yang di khianati oleh bangsa ini sendiri. Banyak hal yang dapat dipelajari di film ini.
Minggu, 14 Mei 2006 @ 11:49
asli filmnya seru apalagi dengan puisi2nya ypd akhir acara…..waw that’s good movie for me, gw jadi bisa kenal pemerintahan jaman dulu yg bengis dan kotor…”aku bersamamu orang2 malang”kata2 itu yg membuatku terbangun, “aku tak ingin menjadi pohon oak tapi aku ingin menjadi pohin bambu yang berani menentang angin…….HIDUP GIE, namamu akn selalu terkenang di sela2 kehidupan pemerintah yg masih bengis dan kotor……
Selasa, 16 Mei 2006 @ 9:16
wahhhhh, ., .., .gie adalah seorang yang punya dedikasi tinggi terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan juga negaranya……….
dia punya suatun keyakinan dan kebanggaan atas dirinya sendiriiiii dan itu jarang sekali dipunyai manusia jaman sekarang yang terlalu sibuk dengan kegemerlapan dinia dan tidak memperdulikan lingkungan nya itulah yang keluar dari MUlut-mulut generasi bangsa kedepan, ., .,
seharusnya dengan adanya tulisan yang dibuat gie mahasiswa haruanya lebih kritis lagi dalam mengakoreksi pemrintah, agar tidak di bodoh-bodohin trus
Selasa, 23 Mei 2006 @ 10:56
gw suka salut ma GIE, puisi-puisinya itu looo
Kamis, 25 Mei 2006 @ 10:44
kalau tidak ada penggerak pertama di indonesia ini seperti gie, tidak akan pernah di tau sebuah perubahan yang akan terjadi untuk bangsa indonesia, sekali lagi aku bangga dengan gie, berkat seorang gie lembaga pecinta alam di indonesia mampu mengiringi perjalanan sda yang dalam pengelolaan adil dan berkelanjutan. untukmu saudara kami. gie
Senin, 29 Mei 2006 @ 16:01
Dona… dona.. dona..
(by Joan Baez)
Rabu, 31 Mei 2006 @ 17:18
Indonesia dahulu, bukanlah indonesia yang sekarang. yang setiap gerakan mahasiswa didasari oleh nafas perjuangan, seperti yang dilakukan oleh kakak Gie. tapi melainkan mahasiswa sekarang hanyalah sebuah simbol-simbol dibalik kepentingan individu semata. apakah ini akan berlarut sampai negeri ini hancur?
tanyalah pada hani nurani kalian masing-masing yang merasa dirinya sebagai siswsa tertinggi.
Senin, 5 Juni 2006 @ 1:20
bagus cuman agak gak dapet profil humanis indonesiannya gitu seh
Senin, 5 Juni 2006 @ 1:23
bagus ya gitu
Kamis, 8 Juni 2006 @ 10:38
Sampai sejauh ini yang saya tau dari gerakan Gie dalam memperjuangkan hal-hal yang dia yakini adalah tanpa mengikut sertakan kegiatan-kegiatan yang malah menjadi momok ketakutan bagi orang2 sekitarnya.
Sayangnya kegiatan demonstrasi mahasiswa yang sering kita dengar ini menjadi suatu sumber ketakutan yang mengancam keamanan dan ketentraman masyarakat disekitarnya.
Saya setuju kalo suara mahasiswa tidak boleh dibungkam, tapi mohon semua mahasiswa yang melakukan itu setidaknya memastikan tidak akan ada aksi pengrusakan yang merusak aset umum (ingat bahwa aset umum itu milik kita semua bukan milik pemerintahan yang korup tapi milik rakyat).
Saya dukung sekali gerakan GIE yang kiritis tapi tidak membawa dampak kerugian bagi yang tidak bersalah. Semangat, Sikap, dan Cita-cita GIE patut terus ditanam demi Bangsa kita ini.
Salam Nasionalisme
Sabtu, 17 Juni 2006 @ 3:59
Review yang bagus, Soe Hok Gie dan Catatan seorang Demonstrannya memberi banyak pengaruh untuk saya.
Senin, 19 Juni 2006 @ 13:37
Gue sih pernah denger nama Gie di SMA, tapi cuma dikit. Sebatas bahwa Soe Hok Gie itu udah jadi salah satu orang yang berpengaruh bagi negeri ini.
Akhir2 ini, nama Gie makin mentereng aja, apalagi setelah Mbak Mira bikin film ‘GIE’. Gambar Gie udah banyak tersebar di mana2.
Tapi, ada yang gue sesalin. Orang2 sekarang (memang ga’ semuanya) cuma mengatasnamakan kebesaran nama Gie, malah ada yang menyandingkannya dengan Che Guevara. Yang gue ingin tuh, jiwa idealis n’ realis dari Gie tuh bisa terendap di jiwa bangsa ini. Khususnya di kalangan mahasiswa.
Gue juga suka beberapa puisi Gie, sangat tertarik sekali. Tapi aku kurang sumber, jadi kalo ada yang punya kirimi gue dunk ke guegiegen@plasa/yahoo.com
In the end, gue ga’ pernah akan jadi Gie kedua. Tapi setidaknya Soe Hok Gie adalah orang yang paling mempengaruhi pemikiran dan hidup gue.
‘Gie, kamu tak sendirian’
Selasa, 27 Juni 2006 @ 20:25
idealisme gie adalah idealis pemuda yang resah dengan realitas sekitarnya…
membaca pemikiran serta memahami tulisan, dan mengerti sejarah hidup gie bukan berarti menjadikan kita ingin menjadi seorang idealis partikelir.
Realitas kadang lebih fiksi daripada cerita fiksi sekalipun, sedangkan Cerita fiksi adalah realitas sebenarnya….
Indonesia merangkak…dan dengan kualitas pemudanya sekarang akan terus merangkak sampai meninggalkan bekas di lantai yang berpasir….
semangat gie adalah semagat orisinil pemuda indonesia…….
Kamis, 29 Juni 2006 @ 11:43
Che sama dengan Ghe dan Gie sama dengan Che….kenapa orang2 seperti mereka yg memiliki hati patriot yg besar tidak dilahirkan di era seperti sekarang ini, tetapi yg dilahirkan dan ditumbuhkan pada saat ini adalah ORANG2 yg Memiliki KEMUNAFIK hati yg begitu besar dan sifat RASISME yg begitu di BANGGA2kan Oleh orang2 dan kaum2 yang sering berpakaian BerWARNA PUTIH dengan penutup KAIN diatas kepalanya dengan meneriakkan ” Hal2 yang Baik tetapi berkantongkan Rasis dan kemunafikan “….Diberkatilah setiap orang yang memiliki hati dan jiwa patriotisme yang Besar….Hasta La Victoria Siampre..
Kamis, 6 Juli 2006 @ 13:54
Gie adalah manusia biasa….
tapi kita harus ingat…
hal-hal yang ‘SPEKTAKULER’…
hanya dapat dilakukan siapa….
cuma manusia biasa…
yang bisa melakukannya…
yang terjadi sekarang…
hal yang spektakuler…
hanya dilakukan…
oleh aktivis….
yang berlindung…
dibawah bendera organisasi…
dimana sosok GIE…
yang kita kagumi…
hanya berdiri…
dengan dua kakinya…
“APAKAH IDEALIS SELALU TERBUANG
LAHIR ITU HARUS MATI ITU TAKDIR”
Jumat, 14 Juli 2006 @ 21:17
[...] Salah satu penggambaran favorit saya tentang Gie ditulis oleh John Maxwell, seorang professor dari Australia yang pernah menulis thesis tentang dirinya, dan kebetulan dikutip di blog milik Jay: “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” [...]
Minggu, 16 Juli 2006 @ 12:16
[...] Salah satu penggambaran favorit saya tentang Gie ditulis oleh John Maxwell, seorang professor dari Australia yang pernah menulis thesis tentang dirinya, dan kebetulan dikutip di blog milik Jay: “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” [...]
Selasa, 18 Juli 2006 @ 20:10
mmmmm…pelm nya emg keren…penuh makna….salut bwt produser ma kru nya, mmmm……bukunya yg catatan seorang demonstran masih ada g ya di toko buku, pengen beli…blm baca je, hehehe
Rabu, 19 Juli 2006 @ 12:41
Gila ini postingan, umurnya udah 3 tahun; tapi masih dikomentari terus! Salut!
Sabtu, 22 Juli 2006 @ 14:12
GIE; AKU YAKIN SEKARANG DIA TAHU BAHWA BUKU DAPAT MEMBAWA KITA KE SURGA ATAU NERAKA. BANYAK HAL, REFERENSI YANG HARUS KITA CARI. AKU HARAP KITA SEMUA DAPAT BELAJAR DARI SETIAP SISI NEGATIF DAN POSITIF DARI SOE. BELAJAR DENGAN PRINSIP HIDUPNYA OBJEKTIF DAN KRITIS, WALAU KEPADA IDOLA KITA. SEPERTI SOE KE SOEKARNO.
Minggu, 23 Juli 2006 @ 16:18
aq tw SOE HOK GIE qra2 bru staun yg lalu. sempet bc buku “catatan seorang demonstran”nya di perpus skul. Tpi, sayang bgt, beberapa halamannya ada yg hilang…duh pdhal pengeeeen bgt baca buku tu secara utuh! Smua org perlu bgt jadiin buku tu sbg sumber inspirasi hidup di jmn kyk skrg…. HIDUP SOE HOK GIE!! ada salam hormat dari seluruh siswa SMAN 3 DENPASAR………….. We wanted 2 b like u, sir….
Rabu, 2 Agustus 2006 @ 12:05
Gie memang sosok mahsiswa idealis yang berpaham sosialis kiri sehingga kadang pola pikirnya sulit dimengerti
Kamis, 3 Agustus 2006 @ 4:26
Kasihan Gie…
Seorang yang anti terhadap ketidakadilan, KKN, kemunafikan, dan mungkin kapitalisme ternyata telah dimanfaatkan oleh kaum kapitalis untuk meraup keuntungan besar. Apa yang telah dituliskan Gie dalam artikel-artikelnya dengan susah payah dan penuh dengan tantangan tidak digunakan untuk mengubah pola pikir kaum muda. Pemilik modal telah mengkomersialisasikan buku-bukunya, bahkan perjalanan Gie juga telah di filmkan yang pada dasarnya bertujuan untuk mengakumulasikan modal.
Kamis, 3 Agustus 2006 @ 23:59
GIE, revolusi anda takkan pernah terwujud. Pemikiran2 kaum muda, kaum intelektual, kaum mahasiswa sekarang sudah dikesampingkan dengan pembodohan dan issue2 yg bersemintel politik. Amarah sudah mulai dikedepankan dalam rezim yg baru ini. Kita telah terhasut oleh karena itu. Pemikiran anda, gie, tentang revolusi NKRI sudah hampir mati, tapi kita belum sirna. Asap memenuhi ruangan bertekanan tinggi, sesak napas kaum muda hanya tinggal menunggu mati. Bersatulah kaum muda INDONESIA, jangan takut mati dalam suatu perjuangan, rebutlah dengan nurani dan permikiran2 yg revolusioner dan terbaik untuk bunda pertiwi, walau nyawa taruhannya.
Filsafat mengatakan belajarlah dari alam, karena itu adalah guru yg paling baik.
biarkan dingin menjadi selimut keabadian. debu menjadi pengharum tubuhmu. keringat menjadi bukti kegigihanmu. Tinggilah menjadi SAMBHARABHUDARA. Dan raihlah SAGARMATHA-MU.
Selasa, 15 Agustus 2006 @ 13:34
MANA GENERTION OF NEW “SOE HOK GIE”
DIJAMAN SEKARANG SUDAH TIDAK ADA LAGI JIWA SOE HOK GIE DI ANTARA MAHASISWA-MAHASISWA INDONESIA! MAHASISWA-MAHASISWA SEKARANG, KEBANYAKAN MENETEK DARI IBUNYA SAJA. MANA NASIONALIS KALIAN PARA MAHASISWA! MAHASISWA SEKARANG CUMA KEBANYAKAN PETANTANG-PETENTENG DAN HANYA IKUT-IKUTAN SAJA TANPA TAHU TUJUAN UTAMA INDONESIA MERDEKA. DAN ARTINYA TUNGGAL EKA. (JAMAN SEKARANG SUDAH KEBANYAKAN, PEMIKIRAN GOLONGAN SAJA [AGAMA, RAS, DAN HOBI]) KASIHAN INDONESIA SUDAH BENAR-BENAR MATI DIANTARA RELUNG-RELUNG IMPIAN SOE HOK GIE.
Kamis, 17 Agustus 2006 @ 9:37
Gie ….
Bukan sosok yang hanya harus diagungkan, tapi sosok yang harus dicontoh teladannya dan mengambil refleksi dari sikapnya yang selalu membangun negeri ini tanpa melihat agama, golongan, ras.
Semua hanya omong kosong yang dilakukan oleh pemerintah, hanya sekian persen, itu pun tidak lebih dari satu persen dalam rencana membangun negeri ini.
Kali ini saya berandai, andai bapak Gie masih hidup, saya akan memilihnya menjadi menteri kesejahteraan rakyat, bukan presiden. presiden hanyalah pemikir tanpa ideologi.
Terima kasih,
Jumat, 18 Agustus 2006 @ 2:03
BanGkitLAh GiE-Gie MasSa Kini…
DimAna KaLIaN?
Jumat, 18 Agustus 2006 @ 2:18
TaKkaN aDA KeBenaRAn tAnpa DiaWaLi pEmbEronTakaN…..
NegaRa iNi tErLaLu kOtor uNtuK BisA di RubAh Dgn CarA yAng NorMaL…
KarEna SemUa PemiMpin Dan TiaP eLemEnt Di NegaRa iNi SudaH tiDak NorMaL….TerMasuK SayA, Dan AndA!!
AkaNkah Kita HanYa DiaM dAn mEnuNgGu MaTi saJa?!?!
TanYa, Dan cOba PahAMi Apa Yg Ada Di oTak GiE…..
KeBenaRan Dan KebERaNIan TeLah MAti BersAma GiE…..
KapAnkaH Kita MemBAnGkiTkan KemBaLI………..
Jumat, 18 Agustus 2006 @ 10:36
sosok yang sangat inspiratif… kuat, berkarakter, idealis. jiwa nasionalis dan patriotiknya sudah jarang kita temukan sekarang… tinggal kita yang muda, yang harusnya masih berkarya dan melanjutkan kebenaran yang dulu mati-matian diperjuangkan Gie. woooyyy… pade kemaneeee….!jangan jadi bisu, karena engkau dibungkam. mulut dibungkam, biar pena yang bicara. salam revolusi…
Jumat, 18 Agustus 2006 @ 11:06
to make a change… we need sacrifice… like Gie who dare to stand alone without any back-up from political party. go Gie! although Gie has been dead for along time a go… i hope his spirit enter to all of us and make us aware that indonesia is nothing without our struggle. get this chalenge!
Jumat, 18 Agustus 2006 @ 11:26
Sehabis baca dan nonton filmnya saya jadi merenung, seandainya dia masih ada apakah idealis masih spt waktu itu? kejadian2 di negri ini membuat saya agak apatis, kita bisa lihat orang2 sehabis era gie yg masih hidup yg dulu perjuangan sama dgn dia tapi sekarang? Seandainya saya menteri pendidikan saya wajibkan para mahasiswa baru utk menonton film dan membaca buku ttg dia bahkan ini lebih bermaanfaat dari pada plonco utk menciptakan mahasiswa2 berhati harimau lahir batin dan selamanya bukan hanya waktu dikampus juga setelah diwisuda .Setelah puluhan tahun dia dipanggilNYA baru kita tau apa Maksud yg diatas untuk memanggilnya di usia muda, setelah melihat opera di negri ini dimana banyak yg dulunya harimau sekarang jd ayam malahan jd kutuk busuk utk bangsanya sendiri
Jumat, 18 Agustus 2006 @ 15:29
Gw CuMa mo UcaPin:
” SLama kebebasan masa ada kita masih msH bisa bersuara “.
Jumat, 18 Agustus 2006 @ 20:57
yaaaaah…. knp ya di negeri ini ga ad org yg Gie lg, coba ada pst die bkl dianggap teroris kali ye… Lo emang udah ga ada, tp semangat demonstran lo yg bnr pasti msh ad di jiwa2 mahasiswa2 sekarng ini
Sabtu, 19 Agustus 2006 @ 8:14
Memang sosok Soe Hok Gie adalah sebuah fenomena baru bagi kami generasu muda yang saat ini yang sangat membutuhkan seorang figur yang sangat perlu dijadikan penutan.
KEPADA TEMAN-TEMAN MARI KITA DUKUNG CITA-CITA LUHUR SOE HOK GIE
Sabtu, 19 Agustus 2006 @ 13:45
ada yabg tahu nggak di mana buku “gie” yang original masih ada?
Sabtu, 19 Agustus 2006 @ 13:50
Sayang, ya di usia indonesia yang uda 61 tahun ini, indonesia masih belum bisa berevolusi….
padahal, Frenz….waktu 61 tahun bagi negara seperti kita rasa-rasanya udah cukup untuk berevolusi menjadi negara merdeka yang bener-bener “MERDEKA” dalam arti nggak ada pengkorupsian lagi….tapi sekarang dlam satu taun…..orang-orang petinggi di Indonesia pasti harus ada yang korupsi…..
Padahal kalau film soe hok gie ini ditonton ama pejabat negara, …
harusnya mereka tahu kalau dari jaman dulu, …………..masih ada orang yang ingin banget Indonesia merdeka dari yang namanya “Nepotisme”tapi sampai sekarang, ….61 tahun merdeka, ..
kayaknya nepotisme dan korupsi, Kolusi masih berjaya!
Sabtu, 19 Agustus 2006 @ 14:44
Semula aku nggak pernah tahu siapa Soe Hok Gie.. tapi setelah nonton film GIE.. wah gila bener.. Kapan lagi ada anak muda kayak dia. Seharusnya ada Gie..Gie yang lain di jaman seperti ini… Aku terharu nonton film-nya. Gie..Gie…
Senin, 21 Agustus 2006 @ 15:59
Medan, 21 Agustus 2006.
Aku menonton film GIE ( Soe Hok Gie )sendirian di depan komputer.
banyak makna yang ku tangkap dari sosok idealis Gie yang menentang sistem politikus tua yang hanya mementingkan perut sendiri dan sampai sekarang orang-orang tersebut masih banyak yang jadi pemimpin di negeri antah berantah indonesia.
Aku juga melihat bagaimana mahasiswa sekarang yang sok idealis dan sok patriotis serta nasionalis tapi hatinya matrealistis.
Mei 1998 awal kejatuhan Soeharto dan awal kebangkitan generasi muda intelektual yang belum memahami arti dari nilai perjuangan dan kemanusiaan.
Demontrasi secara pasaran sering dilakukan mahasiswa dengan dalih menyalurkan aspirasi rakyat kecil tapi kenyataannya banyak dari mereka yang mendapat upeti ataupun iming2 tertentu bila orang / instansi yang di demon dapat di goyang.
Sosok Soe Hok Gie begitu langka di tanah air indonesia, aku rasa warisan budaya mental bobrok koruptor dan pengkhianat yang mengaku pahlawan banyak yang sudah merasuki para intelektual indonesia.
Yakinlah suatu saat nanti indonesia bakal di jajah bangsa asing dan di pecah-belah menjadi negara boneka bila generasi mudanya masih bergejolak dengan materi dan selalu menghalalkan segala cara.
Sudah saatnya kita dengan hati lurus dan bersih menganti politikus-politikus tua dan kotor untuk membangun bangsa dengan semangat yang lebih nasionalis ketimbang pejabat sekarang yg katanya pahlawan.
saran buat intelektual2 muda indonesia jadilah oposisi buat pemerintah dan jangan mencari posisi di pemerintah tapi bila dapat posisi bagus jangan lupakan perjuangan rakyat kecil yang menyambung hidup dengan nyawa.
maju terus mahasiswa yang punya hati bersih, bangun negeri dan bangsa ini dengan otak yang bersih tegakkan hukum seadil-adilnya walaupun keadilan itu masih dalam bayang-bayang.
Musuh nomor satu bangsa indonesia adalah KORUPTOR.
80 % pejabat seluruh indonesia Koruptor.
10 % adalah penjilat.
5 % plin-plan.
5 % adalah pengkhianat.
Hukum indonesia adalah sandiwara.
Semoga bukan hanya mahasiswa yang menonton film ini tapi seluruh pejabat indonesia harus menonton film ini.
Senin, 21 Agustus 2006 @ 16:43
Apakah indonesia sudah merdeka.
17 Agustus 2006…..
61 tahun katanya indonesia merdeka.
benarkah indonesia merdeka?
apakah arti dari merdeka?
siapakah yang menikmati kemerdekaan itu?
masih banyak antrian sembako..
berjejer orang2 untuk mendapatkan minyak tanah.
aku lihat seperti zaman perjuangan dulu.
ekonomi sulit…mobil mewah berkeliaran..
krisis moneter..orang kaya bolak-balik luar negeri..
sang pencipta marah…
alam murka melihat kemunafikan..
bencana melanda indonesia..
simpatik dunia muncul….
bantuan mengalir..tapi pejabat makin kaya…
apakah bantuan kemanusiaan larinya kepejabat?
Soe Hok Gie sang pencinta alam..
lihatlah sekarang indonesia kita..
bencana di mana-mana…
tsunami melanda…gempa menguncang..banjir menghancurkan.
Soe Hok gie sang demontrans…
lihat mahasiswa indonesia sekarang..
banyak menyuarakan kepentingan orang2 kaya..
banyak menyuarakan kepentigan golongan2 tertentu..
akankah ini terus berlanjut…
semoga indonesia tidak lelah untuk maju dalam palsu.
wak laboe.
http://www.smeckmania.com
Senin, 21 Agustus 2006 @ 19:47
perjuanag belum berakhir
Selasa, 22 Agustus 2006 @ 9:36
buat mile aku dikirimi lagu genjer genjer dong ama
Rabu, 23 Agustus 2006 @ 12:08
Mas Julian, apakah buku-bukunya Soe Hok Gie masih ada di pasaran saya mau mencari. Punya rekomendasi tempat jual buku-buku tersebut
Rabu, 23 Agustus 2006 @ 13:48
wah hebat sosok Gie ini.Aku baru menyadari begitu besar makna kemerdekaan ini setelah aku melihat film Gie.Aku juga bisa menegenali siapa diri ini dan kelebihan diriku ini hanya dengan melihat filmnya saja.Seandainya aku hidup pada masa itu pasti aku akan aktif dalam mengikuti kegiatan Mapala yang didirikan Soe Hok Gie. MERDEKAAAAAA
Kamis, 24 Agustus 2006 @ 10:16
Soe Hok Gie…
harusnya jadi contoh tu..buat mahasiswa2 hari ini…
yang kebanyakan lebih mikirin diri sendiri..
klo masih ada yang tersisa…seperti Soe Hok Gie..mungkin negara kita g sekacau hari ini..
semoga semangat dan kritisnya Soe Hok Gie lahir kembali dari buku & filmnya yang dah beredar luas saat ini…