Raden Dewi Sartika
Sabtu, 4 Desember 2004M
21 Syawwal 1425H
- Tracking System
- International phone card
Dewi Sartika adalah potret nyata dari kealpaan kita untuk menempatkan seseorang dalam penghormatan yang proporsional; selayaknya dengan sumbangsih yang telah ia persembahkan yang lebih berharga dibandingkan perjuangan Kartini.

Menurut Nina Lubis — seorang sejarawan dari Sastra Unpad, jika perjuangan emansipasi perempuan yang digelorakan R.A. Kartini hanya sebatas ide atau gagasan, Dewi Sartika justru dengan pelaksanaannya langsung. “Dewi Sartika mah jeung prakna. Ia benar-benar mendirikan insitusi pendidikan pertama bagi kaum perempuan di negeri ini. Tidak saja dengan pikiran dan tenaga, tetapi juga dengan biaya sendiri” katanya.
Dewi Sartika adalah keturunan ménak dari Raden Rangga Somanagara dengan Raden Ayu Rajapermas yang dilahirkan 4 Desember 1884 di Bandung, yang juga merupakan keturunan Raden Aria Adipati Wiranatakusumah VI, cucu dari the founding father Bandung. Tujuh tahun setelah Uwi (panggilan Dewi Sartika) lahir, Rangga Somanagara dilantik menjadi Patih Bandung.
Sebagai keluarga berdarah biru Dewi Sartika menyempatkan sekolah tingkat dasar Eerste Klasse School, tentunya selain bahasa Belanda bahasa Inggris pun dipelajarinya.
Sebagai keluarga ménak Dewi Sartika melihat sendiri kemelaratan yang ada di sekeliling karena penjajahan Belanda, dan bertutur “Menurut pendapat saya, barangkali dalam hal ini bagi wanita tidak akan sangat banyak berbeda dengan pria. Disamping pendidikan yang baik, ia harus dibekali pelajaran dengan sekolah yang bermutu. Perluasan pengetahuan akan berpengaruh kepada moral wanita pribumi. Pengetahuan tersebut hanya diperolehnya dari sekolah”.
Pada tahun 1902 Dewi Sartika memulai memberikan pengajaran membaca, menulis dan keterampilan lainnya kepada sanak keluarganya di belakang rumah ibunya. Kegiatan tersebut tecium oleh C. Den Hammer, pejabat Inspektur Pengajaran Hindia Belanda di Bandung. Pada awalnya Den Hammer menilai kegiatan Dewi Sartika sebagai suatu kegiatan liar yang membahayakan dan patut dicurigai.
Ternyata niat mendirikan sekolah wanita tersebut sulit dan Den Hammer mengusulkan untuk meminta bantuan Bupati Bandung Raden Adipati Martanegara. Untuk Dewi Sartika hal ini pun sulit karena ayahnya dibuang ke Ternate hingga wafat karena menentang pelantikan Martanegara sebagai bupati.
Tapi akhirnya Dewi Sartika memberanikan diri berbicara dengan bupati yang kemudian dirembukkan terlebih dahulu oleh bupati dengan sahabat dan jajaran pemerintahannya.
“Nya atuh Uwi, ari Uwi panting jeung keukeuh hayang mah, mugi-mugi baé dimakbul ku Allah nu ngawasa sakuliah alam, urang nyoba-nyoba nyieun sakola sakumaha kahayang Uwi. Pikeun nyegah bisi aya ka teu ngeunah di akhir, sekolah téh hadé lamun di pendopo waé heula. Lamun katanyaan henteu aya naon-naon, pék baé pindah ka tempat séjén”. Akhirnya itulah yang dikatakan bupati Martanegara kepada Dewi Sartika hingga pada tanggal 16 Januari 1904 didirikanlah Sakola Istri di Paséban Barat pendopo kabupaten dengan pengajar Dewi Sartika dibantu oleh Nyi Poerwa dan Nyi Oewid untuk mengelola 60 murid wanita.
Setahun berikutnya sekolah tersebut terpaksa dipindah ke Ciguriang Kebon Cau atas biaya pribadi dan bantuan bupati karena muridnya semakin banyak. Kemudian Dewi Sartika menikah dengan seorang guru Eerste Klasse School Raden Kanduruan Agah Suriawinata dari Karang Pamulang meskipun sebelumnya sempat dilamar oleh Pangeran Djajadiningrat dari Banten tapi ditolak.
November 1910 Perkumpulan Kautamaan Istri akhirnya dibentuk dengan tujuan memperluas sekolah ke luar Bandung, sekaligus nama sekolah berubah menjadi Sakola Kautamaan Istri dengan mengadaptasi kurikulum Tweede Klasse School.
Pada tanggal 16 Januari 1939 Dewi Sartika mendapat Bintang Emas dari Pemerintah Belanda sebagai penghargaan atas jasa-jasanya bagi masyarakat, sebelumnya juga memperoleh Bintang Perak dari Pemerintah Belanda sebagai penghargaan atas jasa-jasanya. Selanjutnya pada tanggal 1 Desember 1966 Presiden Soekarno menetapkan Dewi Sartika sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Dewi Sartika meninggal pada tanggal 11 September 1947 dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana dipemakaman Cigagadon, Desa Rahayu, Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dipindahkan ke kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar Bandung.
– Disadur dari Indonesia Media dan Pikiran Rakyat.
Minggu, 5 Desember 2004 @ 16:43
Using
Katanya, bangsa yang besar adalah bangsa yang ingat jasa pahlawannya. Trims buat mengingatkan jasa Dewi Sartika (soalnya saya lupa:)
Kang Jay, saya jadi ingat cerita dosen sewaktu beliau berkunjung ke U. Virginia yang didirikan oleh Jefferson. Di sana tidak ada papan nama Dr. Anu di ruangan dosen-dosen, yang ada cukup Mr. Anu saja. Ketika ditanya mengapa? Jawabnya adalah karena Thomas Jefferson pun bukan Dr. maka kita cukup Mr. saja:) Sedemikian besar penghargaan mereka kepada pahlawan bangsa walau mungkin caranya agak ‘norak’ ;)
oiya, tapi rasanya tidak adil membandingkan Kartini dengan Dewi Sartika karena tantangan yang dihadapi mereka (sependek pengetahuan saya) berbeda.
Minggu, 5 Desember 2004 @ 16:55
Using
Saya pribadi bukan menganggap ‘tidak adil’, hanya masalah proporsi. Dewi Sartika lahir 5 tahun kemudian setelah Kartini (masih satu jaman di tempat yang berbeda). Tahun lalu saya sempat menulis sedikit tentang Kartini. Jika Kartini punya pemikiran (melalui surat-suratnya) atas masa depan dan emansipasi wanita Indonesia, maka Dewi Sartika punya karya nyata dalam bentuk sekolah formal.
Sabtu, 11 Desember 2004 @ 23:57
Using
Saya pernah mendengar orasi dari Mahbub Djunaedi, penulis produktif dari Bandung dan tokoh papan atas PBNU zaman Orba, yang meminta “keadilan” juga dalam pandangan masyarakat kita antara kedua tokoh wanita tsb. Menurut dia (koreksi jika salah), Kartini lebih ditonjolkan oleh pemerintah Hindia Belanda karena “lebih lunak”. Barangkali karena perjuangan Kartini baru sebatas ide ya?
Sabtu, 29 Januari 2005 @ 10:09
Using
Kalau saja tak ada yang berinisiatif menerbitkan surat-surat Kartini, masyarakat Indonesia tetap memandang Kartini sebagai pribadi yang care dengan lingkungan. seperti juga Dewi Sartika, Kartini juga mengaplikasikan ide-idenya, mendirikan sekolah untuk gadis-gadis di lingkungannya.juga peduli dengan masyarakat Jepara pada masa itu.
Membanding-bandingkan mereka bukan hal yang bijak, tetapi seharusnya semua informasi kesejarahan harus diungkap secara gamblang, sebagai pembelajaran bangsa Indonesia.Jadi memang bukan hanya Kartini saja yang peduli pada perempuan, masih banyak lagi pemikiran setelahnya yang harus dihargai.
Bangsa yang Besar adalah bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya, saya sepakat dengan ungkapan ini.
Kamis, 21 April 2005 @ 23:16
Using
21 April – Kenapa bukan Hari Perempuan?
Kenapa bukan Hari Perempuan?
“Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, …
Selasa, 3 Mei 2005 @ 16:52
Using
Informasi tentang Dewi Sartika ini sangat menarik perhatian saya. Karena kebanyakan orang hanya menganggap Raden Ajeng Kartini lah yg membuat para perempuan menjadi maju dan sebenarnya Raden Dewi Sartika juga begitu… Saya juga mendapatkan berbagai informasi-informasi tentang Dewi Sartika….
Minggu, 4 Desember 2005 @ 22:29
Using
Wah, terima kasih! Sekarang saya tahu sekilas tentang sejarahnya.
Selamat Hari Peringatan Raden Dewi Sartika!
Jumat, 26 Mei 2006 @ 15:23
Using
perempuan yes…..!
Minggu, 28 Mei 2006 @ 0:36
Using
[...] Sejarah telah mencatat R.A. Kartini memperjuangkan emansipasi melalui tulisan-tulisannya, begitu juga dengan R. Dewi Sartika melalui Sekolah Kautamaan Istri-nya. Keduanya muncul di akhir abad ke-19 dalam masa kolonial Tanam Paksa. Sedikit banyak perjuangan kedua pahlawan perempuan tersebut mempengaruhi politik Hindia Belanda hingga mengeluarkan Politik Etis, membalas budi dengan mencoba berterima kepada rakyat melalui kelonggaran pribumi bersekolah selain pembenahan irigasi dan emigrasi. Kedua pahlawan perempuan tersebut memberdayakan kesempatan hingga munculnya kesempatan membuat sekolah bahkan membuat kelompok politik pada dasa warsa pertama abad ke-20. [...]
Sabtu, 9 September 2006 @ 12:48
Using
gambar kurang kengkap
Jumat, 22 September 2006 @ 18:40
Using
SAYANG SEKALI SAMPAI SEKARANG PEREMPUAN MASIH DIRENDAHKAN PADAHAL PEREMPUAN SAMA DERAJATNYA DENGAN LAKI LAKI
Selasa, 6 November 2007 @ 12:04
Using
hidup dewi sartika no kartini
Senin, 3 Desember 2007 @ 13:15
Using
wahhhh gila keren banget artikelnya……………….TAPI AKU PENGEN YANG LEBIH LENGKAP karnaaku pelajar yang butuh bahan yang lebihlengkap.,.,.,.,,.peach,pease.love the hero forever
Kamis, 20 Desember 2007 @ 9:13
Using
Sebetulnya masih ada lagi perempua-perempuan hebat yang lain, seperti pendiri sekolah Putri Kayu Tanam dan Rasuna Said dari Sumatra Barat, Marta Tiahahu (?) di Maluku, Kapten Malahayati di Aceh,dan masih banyak lagi. Saya yakin banyak yang masih belum tahu sejarahnya (termasuk saya tahunya cuma sepintas saja). Tetapi mengapa cuma Kartini sayja yang diagung-agungkan? Jadi gak adil kan… Padahal perjuagan mereka tidak hanya surat-suratan, tetapi ada yang mengorbankan nyawanya.
Salam
Liasa
Senin, 24 Desember 2007 @ 20:36
Using
Inilah tooh pejuang kaum perempuan yang terlupakan, bahkan sengaja di kubur.
Ayo urang Banudng urang earkeun pajuang urang bara lea teh
Kamis, 29 Januari 2009 @ 13:54
Using
artikelnya keren… jadinya, artikel ini saya print untuk tugas… thx yua..
Minggu, 1 November 2009 @ 14:40
Using
bagi w sih dewi sartika mati matian belain RI ini,makanya kita harus cinta dan sayang pada INDONESIA kita i Luvee u dewi sartika
Minggu, 1 November 2009 @ 14:46
Using
gw sih cuma bisa bilang “Terima Kasih”.karna dewi sartika telah ngebelain Indonesia merdeka, sampai sampai nyawanya di korbankan . KiTa hrs janji cinta dan sayang pada Indonesia Merdeka
Kamis, 11 Maret 2010 @ 13:18
Using
trimz..ya..
udah memberikan informasi tentang dewi sartika..
bisa lebih banyak lagi tentang beliau…siapa nnek,atau kakek, orangtuanya, kakaknya, adeknya..siapa???(namanya)
berpa saudara..asal-usulnya…
tolong ya..
bisa dikirimkan via email saya???
i love her so much…
(DEWI SARTIKA)
Rabu, 6 Juli 2011 @ 23:47
Using
Bangsa yang Besar adalah bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya.
Untungnya apa membandingkan Kartini dengan Dewi Sartika?Beliau berdua dan pahlawan2 wanita yang lain saya anggap sebagai pahlawan semua pada massanya.jd kita hormati bukan di perdebatkan,yang penting kita do’akan mereka semua tenang di alam sana.