Di Bawah Lindungan Ka’bah
Minggu, 21 November 2004M
07 Syawwal 1425H
- International phone card
- Baufinanzierung
- Tracking System
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
“… Maksud yang engkau terangkan itu, amat saya setujui, itulah suatu maksud yang baik, sebab itu adalah suatu hikayat dan kejadian yang mendukakan dan merawankan pikiran, yang kerap kali benar kejadian dalam kalangan pemuda-pemudi kita.”

Jaman SMP dulu karya Haji Abdul Malik Karim Amarullah (HAMKA) berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah ini menjadi salah satu tugas mata pelajaran bahasa Indonesia untuk dibaca para siswa. Kurikulum saat itu mengajarkan siswa membaca-baca karya sastra angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru, pertengahan tahun delapanpuluhan memang sangat sedikit karya sastra yang baru dicetak dan layak menjadi acuan dalam pelajaran bahasa saat itu (kalaupun ada tentu sudah dibreidel seperti karya Tetralogi Pramoedya Ananta Toer atau karya Arswendo Atmowiloto Senopati Pamungkas yang mungkin dianggap hanya sebatas dongeng).
Membaca gaya bahasa HAMKA dalam buku tipis 74 halaman ini ternyata lebih sulit dibanding dulu waktu sekolah di mana gaya bahasa dan kosakata waktu itu belum banyak diracuni slang seperti sekarang misalnya istilah lu gua, so what gitu loh!, kemane aje?, apa kabar bokap nyokap? dan sebagainya.
Di Bawah Lindungan Ka’bah bercerita tentang kisah cinta Hamid dan Zainab yang tak terucapkan hingga mereka berpisah jarak Sumatera dan Mekkah. Hamid menyerahkan diri di kota Mekkah dan Zainab menanti tak tentu, keduanya sama-sama tak mengetahui saling memikirkan dan saling menanti. Berakhir tragis seperti hikayat Layla Majnun tanpa ada unsur kegilaan namun penuh dengan makna religius.
“Hidupmu yang tiada mengenal putus asa, kesabaran dan ketenangan hatimu menanggung sengsara, dapatlah menjadi tamsil dan ibarat kepada kami.
Engkau telah mengambil jalan yang lurus dan jujur di dalam memupuk dan mempertahankan cinta.”
Update:
Saya belum pernah nonton film karya sutradara Asrul Sani dengan judul yang sama, Di Bawah Lindungan Ka’bah (1981), dibintangi Camelia Malik dan Cok Simbara.
Popularity: 4% [?]
Minggu, 21 November 2004 @ 20:59
ah selingan yg menyenangkan kali ya baca buku2x bp atau pujangga baru lagi.. atheis tah jay, yg nulis orang sunda, ada bakat atheis emang orang2x sunda heheh
Sabtu, 17 Desember 2005 @ 10:11
menarik sekali karya sastra, hingga aku tertawa kok ada orang yang bisa mikir beda dan kadang tak pernah terpikirkan manusia lain. Jayalah terus “kawan”.
Penindasan, kemiskinan, kelaparan, buruknya pelayanan publik, ketidakadilan oleh penguasa dan SBY & Yusuf kalla yang tidak becus ngurus bangsa in, belum berakhir hilang dari bangsa ini.
Sabtu, 25 November 2006 @ 14:58
berjalanlah, berlarilah, melesatlah untuk menghujam kepongahan hati yang sering muncul dari penguasa. tak ada kata lembek untuk sebuah perjuang ke arah kebijakan yang bijak.
Jumat, 16 Februari 2007 @ 11:25
mengalah adalah keberanian sabar adalah awal dari kemenangan sesuatu yang indah harus dikorbankan jika kau menginginkan sesuatu yang lebih baik
Jumat, 16 Februari 2007 @ 11:27
iya,bagus kok…
kita emang hrus berkorban bwd cinta
Kamis, 22 November 2007 @ 14:35
cerita di bawah lindungan ka’bah adalah cerita yang sangat perlu dibaca anak2 usia SMA, sehingga mereka mempunyai kehalusan budi pekerti
Minggu, 2 Maret 2008 @ 22:55
Punya e-book Di Bawah Lindungan Ka’bah’ atau link nya ? saya butuh sekali,Please………..
Rabu, 23 Juli 2008 @ 14:19
tolong bilangin ke rumah produksi film agar novel dibawah lindungan ka’bah difilmkan soalny novel itu benar2 bagus
Kamis, 18 Desember 2008 @ 20:18
punya e-book buku “di bawah lindungnan Ka’bah”, link, saya juga butuh…
Jumat, 24 April 2009 @ 14:04
saya ada …. kalau mau email ke zaini.muhammad@gmail.com