Sumpah Pemuda

Kamis, 28 Oktober 2004M
14 Ramadhan 1425H

Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 menghasilkan sebuah sumpah yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Salah satu isi dari sumpah itu adalah tentang bahasa. Pada saat kongres hanya sedikit para pemuda tersebut lancar berbahasa Indonesia, yang paling fasih saat itu hanyalah Muhammad Yamin.

Jauh sebelum Sumpah Pemuda warga Tionghoa sudah lebih dulu menggunakan bahasa Melayu di akhir abad ke-19, bahkan termasuk penggunaan aksara Latin sebagai pengganti aksara Arab, terutama dalam surat kabar seperti Soerat Kabar Bahasa Melaijoe (1856), Soerat Chabar Betawi (1858), Selompret Melajoe (1860), dan Bintang Soerabaja (1860).

Di masa Pergerakan Kebangsaan setelah era Kebangkitan Nasional beredar dua surat kabar yang cukup penting yaitu Keng Po dan Sin Po. Surat kabar Sin Po adalah surat kabar yang pertama menuliskan Indonesia menggantikan nomenklatur Hindia-Belanda atau Nederlandsch-Indie.

Sejarah Indonesia di masa tersebut lebih menyenangkan untuk ditelaah dalam bentuk fiksi dengan membaca Tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer, khususnya pada buku kedua Anak Semua Bangsa. Novel Remy Sylado Kembang Jepun pun mengambil setting sejarah yang sama.

Catatan Yang Mungkin Terkait