Menemani Richard Stallman

Senin, 25 Oktober 2004M
10 Ramadhan 1425H

Jumat sore saya, Priyadi, Ananda, John, dan rekan-rekan Unpas Bandung mengadakan rapat persiapan di QCollege Jl. Supratman. Sore itu RMS sedang bersiap-siap berangkat dari UBL Jakarta menuju Bandung. Setelah maghrib berbagi tugas masing-masing. Sambil menunggu Pak Andika dan Dicky yang masih dalam perjalanan ke Bandung kami makan malam di kantin Selasih 2.

Pukul 9 lebih Pak Andika dan Ananda bergabung kemudian meneruskan pembicaraan materi presentasi untuk besok sebelum RMS memberikan pidatonya. Karena materi dari tim Oracle tidak kunjung datang maka diputuskanlah materi tentang menghitung nilai cost pembuatan Free Software yang akan disampaikan oleh Pak Andika.

Pukul 11 Dicky tiba di Bandung dan bersiap-siap menyambut RMS yang diantar tim UBL dengan dua kendaraan ke hotel Patrajasa Dago. RMS tiba di hotel Patrajasa sekitar pukul 12 malam dengan tampang lelah. Setelah menyegarkan suasana sedikit ditentukan pagi hari RMS akan dijemput pukul 10 untuk pergi ke toko buku dan toko musik.

Sabtu pagi pukul 10 saya dan Dicky datang ke hotel dan ternyata RMS baru bangun tidur, dan dia sendiri kaget tidurnya nyenyak. Pukul 11 lebih RMS sudah siap dan dibawa ke DiscTarra. Sebelumnya RMS meminta akses internet di kantor saya untuk mengecek email. Di kantor saya perdengarkan lagu Sunda Idjah Hadidjah dengan alunan kecapi suling. Dia tertarik!

“Saya dapat 261 email!”, katanya setelah selesai online ke internet. Kemudian kami berangkat ke DiscTarra. Deretan CD tradisional dia jelajahi satu persatu, setelah memilih beberapa pramuniaga DiscTarra menawarkan untuk mencoba CD yang akan dibeli. Kemudian tumpukan CD dibawa ke bagian kasir dan dicoba bukan dengan headphone tapi disetel ke sound system toko tersebut. Satu persatu CD disetel mulai dari gamelan Sunda, Kecapi Suling, Angklung, Gending Jawa, Bali, Kolintang hingga musik Tapanuli. Untuk satu CD dia mendengarkan hampir semua track-nya, cukup membuat geger toko DiscTarra, beberapa pengunjung bahkan sampai mengorek-ngorek kuping tanda kurang nyaman tapi tak bisa protes. Hampir dua jam RMS memilih-milih dan akhirnya sekitar 8 CD dia beli.

Pukul 2 RMS kami ajak makan (RMS-nya, saya dan Dicky nggak lah yaw!) ke rumah makan Dago Panyawangan. Satu persatu menu RMS tanyakan dan dengan sabar kami jawab penjelasannya, juga oleh para pelayan. Akhirnya RMS memesan Soto Bandung, Tumis Kangkung, Udang serta minuman Es Cendol. Ternyata dia suka banget Soto Bandung dan Es Cendol.

Pukul 3 kurang siap berangkat ke Aula Barat namun RMS meminta ke hotel dulu karena ada yang ketinggalan, yaitu baju Saint IGNUciusnya. Sampai di Aula Barat peserta masih dalam istirahat ashar dan kemudian pukul 3.30 acara kembali dimulai dengan dipandu oleh Budi Rahardjo sebagai moderator.

Pidato RMS menggunakan bahasa Inggris yang lantang, jelas dan tanpa cacat, selain kadang-kadang diselingi bahasa Indonesia. Oh ya, sempat ditanyakan RMS mulai belajar bahasa Indonesia karena guru sulingnya tidak bisa berbahasa Inggris, dan sulingnya tak pernah lepas dari saku celananya. Sayang RMS tak bersedia menunjukkan permainan sulingnya di acara seminar.

Lepas maghrib RMS diantar bareng-bareng dengan tim UBL kembali ke hotel dan RMS ingin segera ke Jakarta untuk pergi ke Bali secepatnya. Setelah disepakati bersama RMS diajak makan malam kembali di Dago Panyawangan. Kali ini dia makan perkedel kentang dan Ulukutek Leunca, perkedel dia habiskan tapi leuncanya bersisa.

Setelah makan RMS ingin mengirim email dulu, setelah itu tim KLuB dan tim UBL berserah terima untuk menemani RMS. Sekitar pukul 9 RMS dan tim UBL kembali ke Jakarta dan tim di Bandung pun bubar untuk istirahat.

Sebagian foto-foto bisa dilihat di galeri ini.

Catatan Yang Mungkin Terkait

Tidak ada isian yang terkait |

Komentar

4 komentar untuk catatan 'Menemani Richard Stallman'

  1. #1
    gravatar

    Keren laporannya. I wish I were there.
    Thanks Oom Jay:)

  2. #2
    gravatar

    Berita pertama tentang kunjungan RMS di Bandung yang saya baca. Sip!

  3. #3
    gravatar

    kayaknya ini masih di jakarta:

    Most of them didn’t eat, they just watched, as it is Ramadan. I took the opportunity to explain to them in Indonesian that MacDonalds’ “fast food” is meant for helping people fast–not for eating.

    pada ketawa gak yah?

  4. #4
    gravatar

    Most of them didn’t eat, they just watched, as it is Ramadan. I took the opportunity to explain to them in Indonesian that MacDonalds’ “fast food” is meant for helping people fast–not for eating

    ini pernyataan diulang2 terus… waktu pertama kali datang, di atas mimbar, terus anak2 bl juga cerita gitu…:)

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.