Jelang Ramadhan: Penanggalan Hijriyah dan Masehi

Kamis, 7 Oktober 2004M
22 Syaban 1425H

Sepekan lagi bulan Ramadhan 1425 tiba. Bulan ujian seorang muslim sekaligus bulan penuh berkah, berkah dalam konteks ritual keagamaan juga berkah dalam konteks perekonomian khususnya di Indonesia, sebab pada bulan ini transaksi jual-beli serta perputaran zakat sangat tinggi.

Satu isu yang selalu mewarnai bulan ini adalah perdebatan tentang jatuhnya 1 Ramadhan dan 1 Syawwal terhadap perhitungan kalender Masehi. Organisasi keagamaan masing-masing mengeluarkan fatwanya dan pemerintah melalui Depag memutuskan pula secara nasional.

Perbedaan Kalender Solar dan Lunar

Kalender Masehi yang menghitung penanggalan berdasarkan revolusi bumi terhadap matahari dan menetapkan awal hari pada pukul 00:00, ditetapkan duabelas bulan dengan jumlah hari yang tetap kecuali pada tahun kabisat di mana bulan Februari menjadi 29 hari.

Umumnya dari pukul 00:00 sampai sekitar pukul 8 atau 9 disebut pagi hari, kemudian siang hari sampai pukul 3 atau 4, sore hari sampai matahari terbenam dan sisanya adalah malam hari sampai kembali ke pukul 00:00.

Kalender Hijriyah menghitung penanggalan berdasarkan revolusi bulan terhadap bumi dan menetapkan pergantian hari pada waktu bulan terbit, ditetapkan dalam satu bulan bisa 29 hari atau 30 hari karena tepatnya revolusi bulan adalah berada di antara 29 dan 30 hari.

Hari yang baru pada penanggalan Hijriyah adalah pada saat matahari tenggelam di ufuk barat atau disebut dengan waktu Maghrib. Jadi hari dalam kalender Hijriyah adalah dimulai dari malam (dalam Al-Quran malam selalu disebut terlebih dahulu kemudian siang). Sampai fajar menyingsing tetap disebut malam, dalam ritual ibadah muslim kita kenal malam dibagi tiga di mana sepertiga malam akhir adalah waktu yang baik untuk tarawih dan sahur, tidak tertutup tarawih dan sahur dikerjakan di sepertiga malam awal selepas waktu Isya, tapi sebaiknya jangan sahur selepas Isya karena waktu puasa anda menjadi terlalu panjang. Fajar menyingsing adalah tanda waktu Subuh, siang matahari tepat di atas kepala kita (khusus di daerah tropis) adalah waktu Dzuhur dan kembali Maghrib pada waktu matahari terbenam. Antara Subuh sampai dengan matahari mulai meninggi biasa disebut dengan pagi dan ketika matahari mulai merendah (waktu Ashar) sampai terbenam disebut sore hari.

Dalam Ilmu Fiqih (Ilmu tentang peribadatan dalam Islam) kita dilarang sholat dalam kondisi matahari sedang terbit, matahari sedang berada tepat di atas kepala kita dan matahari sedang terbenam, inilah sebabnya waktu sholat digeser beberapa menit setelah kondisi di atas.

Rukyat

Dalam penentuan bulan baru dikenal dua cara yang sama-sama diakui kebenarannya, meskipun ada dampak terjadinya perbedaan. Sebenarnya perbedaan ini tidak menjadi masalah selama hanya berkaitan secara individu saja, namun pada awal bulan Syawwal ada ritual yang harus dijalankan secara bersama-sama yaitu sholat Idul Fithri, hal ini memicu perdebatan dan mungkin pertentangan di dalam umat Islam itu sendiri. Dalam masyarakat bernegara hal ini juga menjadi isu penting karena hari raya Idul Fithri dikemas secara sosial menjadi Perayaan Lebaran.

Metoda yang pertama adalah Rukyat, yaitu melihat bulan terbit pada tanggal 29 bulan Hijriyah untuk menentukan malam tersebut (yang juga hari baru) sudah masuk ke dalam bulan baru atau tidak. Bulan baru ditetapkan apabila bulan terbit berada di atas horison, saya tak tahu parameter ketepatan dan toleransinya seperti berapa derajat ketinggian bulan di atas horison yang sah sebagai bulan baru. Ada yang mengatakan 2 derajat bahkan 5 derajat, bagi mata saya yang terbatas kemampuannya tak bisa saya lihat perbedaan 2 atau 5 derajat.

Untuk metoda ini digunakan teknologi teropong bintang seperti di Boscha Lembang atau yang lainnya (saya tidak tahu teropong bintang di Indonesia di mana lagi ya?), selain penggunaan teknologi ini juga ada parameter lain yang bisa memengaruhi misalnya kondisi cuaca yang buruk akan mengganggu proses penglihatan meskipun menggunakan lensa yang bisa melakukan zoom sebesar-besarnya.

Hisab

Metoda yang kedua adalah Hisab, yaitu perhitungan matematika astronomi. Awal ilmu astronomi ini disebut sebagai Ilmu Falaq oleh ilmuwan-ilmuwan muslim dahulu. Ilmuwan muslim dahulu dengan keterbatasan alat hitung mulai menggunakan peredaran bintang sebagai patokan navigasi dan patokan penentuan hal lain yang berkaitan.

Ilmuwan muslim pada awal-awal tahun Hijrah melakukan hisab dengan cara sederhana yaitu sistem tabular. Sistem ini mengurutkan dua belas bulan di mana angka bulan ganjil memiliki 30 hari dan angka bulan genap 29 hari. Tabulasi ini memiliki deviasi setiap 12 tahun sehingga bulan terakhir setiap kelipatan 12 tahun menjadi 30 hari (bisa dianalogikan dengan tahun kabisat di mana setiap empat tahun sekali satu tahun digenapkan menjadi 366 hari karena ada deviasi 1/4 hari setiap tahunnya).

Saya tidak tahu perhitungan seperti apa sekarang, mungkin rekan-rekan dari disiplin ilmu Astronomi ada yang bisa memberi masukan. Yang pasti hisab ini memiliki presisi yang tinggi, bisa kita lihat ilmuwan menentukan terjadinya gerhana dengan tepat bahkan sampai ke dalam orde detik sebelum gerhana itu terjadi. Oh ya, logika saya mulai menerima hal ini sewaktu kecil menyaksikan gerhana matahari total pada 11 Juni 1983 (wow, saya masih ingat!)

Metoda Mana Yang Harus Dipilih?

Dari dua metoda tersebut mana yang kita pilih? Terserah anda, anda memiliki kebebasan untuk memilih salah satu karena kedua-duanya sampai saat ini adalah benar secara syariat. Saya sendiri lebih berpihak kepada perhitungan hisab atas pertimbangan logika, dengan berpihak pada hisab ini semoga saya benar dalam menyeimbangkan diri sebagai manusia yang memiliki spiritual keagamaan dan manusia yang memiliki akal dan pikiran (bukan berarti yang berpihak pada rukyat tidak berpikir atau tidak logis).

Mari merenungkan diri, ini hanya sebagian kecil tanda-tanda dari Yang Mahakuasa supaya manusia menggunakan akal dan pikiran untuk melakukan sesuatu yang sifatnya ritual keagamaan. Yang penting anda tahu dan mengerti apa yang sering diperdebatkan ummat mengenai penanggalan ini supaya kita tidak taqlid (menurut saja apa kata alim/ulama tanpa berpikir sama sekali). Dan yang paling penting janganlah kita terpecah belah!

Popularity: 8% [?]

Catatan Yang Mungkin Terkait

Tidak ada isian yang terkait |

Komentar

18 komentar untuk catatan 'Jelang Ramadhan: Penanggalan Hijriyah dan Masehi'

  1. #1
    gravatar
    WordPress 1.5.2

    [...] Setiap tahun sering terjadi perhelatan antara penganut hisab dengan penganut rukyat dalam penentuan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawwal, seharusnya itu terjadi setiap bulan di setiap akhir bulan dalam menentukan tanggal 1 setiap bulan Hijriyah. Entah mengapa tidak terjadi setiap bulan, tanya kenapa? [...]

  2. #2
    gravatar
    WordPress 2.0.2

    [...] Jadi, meskipun penanggalan bulan berdasarkan peredaran bulan namun karena parameter equinox dan solstice di atas; bulan pada kalender China selalu tidak jauh beriringan dengan penanggalan Masehi (berbeda dengan kalender Hijriyah yang hanya mengacu ke peredaran bulan saja). Sebagai contoh nyata perayaan Tahun Baru kalender China selalu berada di antara akhir bulan Januari hingga minggu ketiga Februari. [...]

  3. #3
    gravatar
    Internet Explorer 6.0 Windows XP

    Mas, saya usul agar perhitungan Kalender Pendidikan dari mulai SD, SMP, SMA, sd Perguruan Tinggi di Negara Republik Indonesia, pakai perhitungan Hijriyah. Jadi, selalu setiap tahunnya, Libur Ramadhan & Idulfitri sekaligus sebagai Libur Kenaikan Kelas/Naik Tingkat. Jadi, anak-anak dapat merayakan Lebaran dgn gembira, pada saat sudah selesai masa sekolah/perkuliahan. Jadi dapat Mudik ke kampung halamannya dengan tenang, tidak ada beban pikiran Ujian di sekolah. Utk kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan, pelaksanaannya pas Libur Naik Kelas. Jadi, Ujian Akhir Sekolah & Nasional selalu dilakukan 1 minggu sebelum datangnya Bulan Suci Ramadhan. Jadi, awal tahun ajaran baru dimulai setelah Perayaan Lebaran Idulfitri (Syawal). Semester 1 (satu) dimulai dari Syawal sampai Rabiulawal. Semester 2(dua), dimulai dari Rabiulakhir sampai Sya’ban.Jadi, Libur Puasa tidak kagok (tanggung). Masalah anggaran pendidikan negara, bisa diatur. Malah jadi lebih terencana. Karena adanya Zakat Fitrah di bulan Ramadhan. Utk sekolah berbasis Kristen (non Islam), tidak masalah dgn penerapan kelender hijriyah ini. Libur Natal % Tahun Baru tetap Libur. Hanya proses waktu belajarnya aja ditarik ke hijriyah. Jumlah Hari Belajar Efektif pun tidak akan berkurang. Malah bertambah. Saya sudah hitung. Silahkan coba!. Tidak ada lagi Ujian atau ulangan pada saat Bulan Puasa, yang mana belajar tidak efektif. Lebih baik, Bulan Ramadhan diisi kegiatan peningkatan akhlak, spiritual, moral, agama dari siswa dan mahasiswa. Mahasiswa seluruh PTN & PTS dapat mudik ke kampung halamannya dengan tenang (pada saat Libur Kenaikan Tinggkat/Libur alih semester). Tujuannya agar siswa & mahasiswa setiap menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan hatinya akan selalu gembira dan dapat merayakan Hari Raya Idulfitri dengan ceria bersama keluarga. Amiin. Semoga usulan saya ini banyak memberikan dampak positif dan banyak yang mendukungnya bagi kepentingan bangsa dan negara tercinta kita Republik Indonesia ini.

  4. #4
    gravatar
    Internet Explorer 6.0 Windows XP

    Mas, dari Fitran lagi. Kebetulan saya orang Matematika UNPAD. Saya juga sedang buat Tugas Akhir tentang sistem kalender ini. Saya punya pikiran. Kita tahu bahwa perbedaan antara kalender Masehi dan Hijriyah setiap tahunnya bergeser 11 hari atau 10 hari. Hijriyah lebih cepat bergerak mencapai 1 tahunnya dari pada masehi. Sehingga setiap kurun waktu 32 tahun secara masehi atau 33 tahun secara hijriyah, Tahun Hijriyah selalu bergeser / melompat 1 tahun lebih cepat. Artinya, Hijriyah menyusul / menyalip tahun masehi. Contoh waktu tahun 2000 M, terjadi Hari Raya Idulfitri 2 kali. Yaitu, tanggal 7 Januari 2000 M dan tanggal 27 Desember 2000 M. Atau, utk tahun 2006 M ini Iduladha/Idulqurban terjadi 2 kali juga. Yaitu, tanggal 10 Januari 2006 M dan 31 Desember 2006 M nanti dekat-dekat dengan Natal & Tahun Baru lagi (akan rame). Atau, utk ilmiahnya pada saat pergantian tahun Hijriyah, yaitu pada tanggal 9 Januari 2008 M = 1 Muharram 1429 H, dan tanggal 30 Desember 2008 M = 1 Muharram 1430 H. Terlihat bahwa dalam 1 tahun Masehi, dalam hal ini nanti tahun 2008 M, Tahun Hijriyah akan berganti tahun sebanyak 2 kali. Kejadian seperti ini akan berulang setiap 32 tahun Masehi=33 tahun Hijriyah.
    Akibatnya, lama-lama dalam kurun waktu tertentu, tahun kalender Hijriyah akan sama dengan tahun Masehi. Nah, disini saya akan simulasikan ke dalam pemrograman komputer dengan menggunakan bahasa C++. Tapi, saya tidak akan menyebutkan. Karena ini menjadi bahan Tugas Akhir saya. Do’akan agar saya lulus di Matematika UNPAD Bandung. Amin Ya Allah Ya Rabbal’Alamin.

  5. #5
    gravatar
    WordPress 2.0.2

    [...] Setiap tahun sering terjadi perhelatan antara penganut hisab dengan penganut rukyat dalam penentuan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawwal, seharusnya itu terjadi setiap bulan di setiap akhir bulan dalam menentukan tanggal 1 setiap bulan Hijriyah. Entah mengapa tidak terjadi setiap bulan, tanya kenapa? [...]

  6. #6
    gravatar
    WordPress 2.0.4

    [...] Keteraturan peredaran bulan pun menjadi dasar perhitungan penanggalan, seperti kalender Cina, Jawa, hingga kalender Hijriyah. Para nelayan secara empiris menghindari air laut pasang karena faktor gravitasi bulan, selain angin darat dan angin laut yang secara teratur bergantian antara siang dan malam. Mereka tak tahu ilmunya, tapi mereka menjiwai gerak alam secara turun temurun. Sastrawan pun mengabadikan purnama dalam karyanya, seperti Candra Kirana, meskipun para perempuan kini sudah tak suka bila wajahnya disebut seperti bulan purnama. Tak terhitung musisi lainnya mengabadikan indahnya bulan dalam lagu-lagu mereka. Bahkan hingga dalam film, seperti metafora pada Bulan Tertusuk Ilalang. [...]

  7. #7
    gravatar
    Internet Explorer 6.0 Windows 98

    Bencana Terus Menimpa Saatnya Untuk Merenungkan Diri Menjelang Bulan Ramadhan.
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seseorang hamba kenikmatan dunia yang disukainya atas perbuatan maksiatnya, maka itu adalah suatu permulaan azab yang diberikan secara berangsur-angsur”.
    Kemudian nabi Muhammad membaca ayat: “Maka takala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”. (Al An’m:44) (HR Ahmad Az Zuhri). Dan 1. Jika harta hanya beredar diantara orang-orang tertentu, 2. Amanah sudah dirampas, 3. Zakat sudah diutang, 4. Mengajar sudah bukan karena agama, 5. Suami sudah tunduk kepada istrinya, 6. Anak sudah durhaka kepada ibunya, 7. Orang sudah melakukan kolusi, 8. Anak sudah meremehkan ayahnya, 9. Orang-orang sudah meninggikan suara Masjid, 10. Orang fasik sudah dimuliakan, 11. Pemimpin sudah rendah budinya, 12. Orang menghormati karena takut kejahatannya, 13. Penyanyi wanita dengan alat musiknya sudah menjadi kegemarannya, 14. Minuman keras sudah menjadi biasa, 15. Umat yang sekarang mengutuk umat sebelumnya (yang istiqomah), Maka tunggulah kedatangan bencana berupa: angin merah, gempa bumi, tanah longsor, penyakit yang bisa mengubah wajah, dan hujan batu, (HR. Ahmad dan Thabrani). “Bila zina dan riba telah dilakukan secara terbuka di suatu negeri, mereka telah mengarahkan adzab Allah kepada diri mereka”. (HR Thabrani dan Hakim). “Umatku masih dalam keadaan baik selagi perbuatan zina tidak melanda mereka. Allah akan menurunkan siksa_Nya kepada mereka semua” (HR Ahmad). “Telah nampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tanga manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagai (akibat) dari perbuatan mereka, agar mereka kembali”, (QS, 30:41) Mari kita merenung sejenak, bermusahasabah dan segera kembali kepada Allah.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
    salam
    wahyudi
    korban gempa

  8. #8
    gravatar
    WordPress 2.0.4

    [...] Lagu di atas tentu sudah tak asing, sebuah karya yang dilantunkan sejak tiga puluh tahunan yang lalu oleh Sam, Acil, Jaka dan Iin Parlina yang tenar sebagai grup Bimbo dari Bandung. Konon lagu tersebut diciptakan bersama penyair Taufiq Ismail. Sebuah syair lagu yang berpesan kepada kita tentang sebuah kesempatan, sebuah kesempatan yang harus kita renungkan sebelum datangnya akhir Ramadhan. Puasa sebagai kata yang umum terhadap shaum dalam Al-Quran menjadi sebuah syariat utama keislaman, sebulan lamanya perintah wajib tersebut harus dijalankan dalam setiap tahun kalender Hijriyah. [...]

  9. #9
    gravatar
    Internet Explorer 6.0 Windows XP

    Saya sangat bangga dengan penanggalan Hijriyah. Setelah dibanding2kan dengan kalender agama/bangsa lain, kalender Islam paling felksibel dan akurat. Mereka menggabungkan antara lunar dan solar. Sehingga hari2 besar mereka jatuh pada sekitar hari tertentu setiap tahun. Misalnya, Imlek di akhir Januari-awal Februari. Tahun baru Persia, pasti 23 Maret. Nyepi sekitar Mei. Tapi Lebaran atau hari2 besar lainnya? Mereka ‘jalan-jalan’. Kadang2 kita lebaran di musim hujan di Desember. Berdamping dengan Natal. Kadang kita lebaran kekeringan di Agustus, bersenggolan dengan proklamasi. Pokoknya dinamis.

    Makanya, orang Islam kebingungan, ketika 5 Oktober 1582 jatuh pada (maaf sekedar contoh, karena saya tak ingat itung2annya)
    2 Rajab 1003 H. Tapi besoknya sudah menjadi 16 Oktober 1582, karena diubah oleh Paus Gregorius, menjadi 3 Rajab 1003 H.
    Ada yang salah dengan kalender solar. Tapi tidak akan terjadi pada hijriyah.

  10. #10
    gravatar
    Internet Explorer 6.0 Windows XP

    saya tertarik dengan usulan -mas/bpk jay adalah julian- untuk “diadu” atau disamakan persepsi untuk menentukan tanggal 1 setiap bulan dalam tahun hijriah, khususnya untuk kelompok2 yg selalu berbeda untuk menentukan awal bulan. alangkah indahnya kalau tidak ada perbedaan dalam penentuan awal bulan.

    teman2 diatas ada menanyakan konversi tahun masehi ke tahun hijriah, tentu kalau ada perbedaan penentuan awal bulan pasti akan berbeda hasil konversinya. Apalagi kalau kita ingin mengkonversi tanggal yg belum terjadi, hari atau tahun yg akan datang.

    diatas juga ada rekan (mas/bpk fitran) yg ingin membuat program C++ untuk mensimulasikan konversi masehi ke hijriah (atau sebaliknya), tentunya kalau masih ada perbedaan penentuan awal bulan seperti di indonesia ini akan sulit untuk tepat. Karena bisa saja tepat menurut versi MUI tapi belum tentu tepat menurut versi NU, Muhammadiyah atau lainnya.

    pada puasa tahun ini ada sebagian yg puasa 29 hari tapi shalat ied hari selasa. jadi ada kekosongan di hari senin tanggal 23 Oktober 2006 ini. Salah siapa ini?
    Semoga hal ini didengar oleh mereka petinggi umat negri ini.

  11. #11
    gravatar
    Internet Explorer 6.0 Windows XP

    ass wr wb,
    mas bisa bantu gak ? saya lagi butuh jadwal waktu sholat lima waktu karena saya tinggal didaerah yang terisolir daerah kota sehingga susah untuk tentukan jadwal waktu sholat yang tepat. saya kebetulan diamanahi sebagai ketua pengurus masjid. daerah kami desa bumi pratama mandira kecamatan mesuji di sungai menang kabupaten ogan komering ilir propinsi sumatera selatan. posisi Bujur 105′ 44′ 17,3″ dan Lintang 04′ 01′ 17″ trima kasih ya mas
    Wassalam
    ABI ZAKI

  12. #12
    gravatar
    Opera 9.02 Windows XP

    seharusnya penanggalan yang ada memang lebih baik menikuti penanggalan hijriyah

  13. #13
    gravatar
    Mozilla Firefox 2.0.0.3 Ubuntu Linux

    Kalender Masehi yang menghitung penanggalan berdasarkan revolusi matahari terhadap bumi

    gag kebalik ohm? bukannya revolusi bumi terhadap matahari. matahari diam, bumi yg mengitari matahari.

    Kalender Hijriyah menghitung penanggalan berdasarkan revolusi bulan terhadap bumi

    benar, bumi diam, bulan yang mengitari bumi

  14. #14
    gravatar
    Internet Explorer 6.0 Windows XP

    Bagi pengikut hisab hakiki yang berdasarkan wujud hilal, dimana di wilayah Indonesia Tengah-Indonesia Timur hilal belum wujud pada 11 Oktober 2007, maka 1 Syawal 1428 jatuhnya pada 13 Oktober 2007; dan bagi wilayah Indonesia Tengah-Indonesia Barat hilal sudah wujud, maka 1 syawal nya jatuh pada 12 Oktober 2007. Maka pengikut hisab hakai haru konsekwen dengan sifat ke-hakaki-annya tersebut maka di Indonesia dengan kondisi tertentu penguasa hisab hakiki harus menentapkan 2 hari raya idul fitri hari pertama bagi daerah yang wujud hlal dan hari kedua bagi yang belum wujud hilal. Sebab jika hanya menetapkan 1 hari saja untuk 1 syawal berdasarkan wilayah yang sudah wujud hilal, maka ke hakiki-annya hilang. Sebab bagi sesuatu yang bersifat hakaki tidak ada kata mungkin, atau daerah abu-abu, atau bilangan pecahan, yang ada hanya: Ya atau Tidak, Hitam atau Putih, Nol atau Satu.
    Terimakasih, dari : Munir Hasbullah

  15. #15
    gravatar
    Mozilla Firefox 2.0.0.5 Windows XP

    mas bisa minta tolong g? saya ingin tahu pada tanggal 4 suro tepatnya hari selasa pada tahun 1984 itu sebenarnya kalo di kalender masehinya bertepatan pada tanggal berapa ya mas? kalo bisa sekalian kirimin kalendernya ya…terimakasih banyak!!

  16. #16
    gravatar
    Internet Explorer 7.0 Windows XP

    Kenapa sich penanggalan untuk masehi tidak dijelaskan secara jelas??kita jd bingung nich

  17. #17
    gravatar
    WordPress MU

    [...] Lagu di atas tentu sudah tak asing, sebuah karya yang dilantunkan sejak tiga puluh tahunan yang lalu oleh Sam, Acil, Jaka dan Iin Parlina yang tenar sebagai grup Bimbo dari Bandung. Konon lagu tersebut diciptakan bersama penyair Taufiq Ismail. Sebuah syair lagu yang berpesan kepada kita tentang sebuah kesempatan, sebuah kesempatan yang harus kita renungkan sebelum datangnya akhir Ramadhan. Puasa sebagai kata yang umum terhadap shaum dalam Al-Quran menjadi sebuah syariat utama keislaman, sebulan lamanya perintah wajib tersebut harus dijalankan dalam setiap tahun kalender Hijriyah. [...]

  18. #18
    gravatar
    WordPress MU

    [...] dan Candramawat | 10 tahun web browser | Kebasian Informasi Oposisi Mars | Kalibrasi arah kiblat | Jelang Ramadhan: Penanggalan Hijriyah dan Masehi | Arsip Catatan | Kenapa Bandung Panas? | Bulan Purnama | Wujudul Hilal | auliarochma @ 5:11 am [...]

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.