Konsumsi Teknologi
Rabu, 6 Oktober 2004M
21 Syaban 1425H
- Tracking System
- International phone card
Teknologi semakin berkembang, sangat pesat untuk diikuti, diikuti dalam arti diserap, dikonsumsi atau diproduksi sendiri. Sangat pesat dibandingkan satu-dua dasawarsa yang lalu. Seperti apa posisi kita sebagai individu terhadap teknologi tersebut?
Mengkonsumsi Teknologi
Segmen ini paling banyak tidak hanya di Indonesia, juga di dunia. Mengkonsumsi teknologi memang paling mudah dikerjakan, apalagi jika memiliki sumber dayanya (baca: uang) dan sekarang menjadi parameter gaya hidup untuk kelompok orang tertentu. Yang paling banyak didukung industri adalah perangkat elektronik rumah tangga dan komunikasi, terciptalah rantai ketergantungan yang cukup kompleks; pengguna, carrier, operator, regulator, content provider, out source provider dan tentunya PLN.
Segmen konsumen ini kini semakin bergeser secara demografis terutama di segmen usia ke bawah, tingkat volumenya semakin tinggi dalam mengkonsumsi teknologi. Dulu sedikit mahasiswa yang berkendaraan roda empat ke kampus, kini semakin banyak, dulu ponsel hanya dimiliki segelintir orang, kini anak SD pun berkalung ponsel warna-warni, dulu yang punya rekening bank dan ATM lebih terbatas, kini sangat banyak — jika tak punya cenderung aneh, dan masih banyak lagi yang semuanya mengelilingi aktivitas kita sehari-hari.
Tingkat konsumsi ini beragam tapi bisa difokuskan dalam dua hal, yaitu yang butuh dan yang ingin, sesuai dengan parameternya kebutuhan versus keinginan. Sebagai kebutuhan kita semua bisa menerima tingkat konsumsi ini yang menyertai kebutuhan dasar sandang, pangan dan papan. Sebagai keinginan sepertinya masih banyak yang mengkonsumsi teknologi hanya karena faktor keinginan, tak ingin ketinggalan jaman, tak ingin tidak trendy, tak ingin tidak gaya dsb., intinya adalah gaya hidup atau lifestyle.
Tidak terlewat saya pribadi pun terpengaruh dengan lifestyle ini. Awal Maret 2003 saya mulai menggunakan ponsel karena banyak yang memberi saran, banyak yang menyindir (terima kasih, saya anggap itu pujian atas kesibukan dan mobilitas aktivitas saya) dan tentunya juga karena saya pribadi butuh alat komunikasi tersebut plus sedang ketiban rejeki di luar penghasilan saya saat itu. Faktor lifestyle tersebut membuat saya membeli handset yang canggih saat itu (saat ini pun masih canggih lho!) atas saran para geek dan freak di bidang gadgets. Hal yang lain adalah kamera digital best-buy atas saran Eko yang dibeli dengan kartu kredit sehari sebelum Lebaran, faktor lifestylenya sedikit karena memang butuh untuk dokumentasi pribadi dan keluarga, serta keisengan dan hobi fotografi. Kartu kredit pun saya apply atas kebutuhan (tak ada bunga jika anda tahu menggesek kartu kredit secara tepat) dan usaha membantu teman yang baru menjadi marketing kartu kredit saat itu.
Memang seperti itulah hidup di kota yang cenderung metropolis, ada banyak benturan antara kebutuhan dan keinginan.
Menyerap Teknologi
Tingkat yang lebih tinggi setelah mengkonsumsi teknologi adalah menyerap teknologi. Menyerap di sini artinya membuat inovasi dan mengalih teknologi untuk tujuan efisiensi baik di tingkat konsumsi maupun di tingkat produksinya. Penyerapan teknologi ini sulit karena berkaitan juga dengan faktor non-teknis seperti tingkah laku (behaviour) dan kesadaran masyarakat. Tak luput pula penyerapan teknologi menjadi sesuatu yang salah kaprah karena kepentingan tertentu yang sulit diterima, misalnya beberapa tahun lalu Pemkot Bandung menyerap teknologi ATCS untuk lalu lintas di Bandung, setinggi apakah skala kebutuhannya sehingga tiba-tiba banyak perempatan jalan yang lebih banyak kosongnya dipasang lampu lalu-lintas? Masihkah sistem itu berjalan baik sampai sekarang? Kenyataannya lalu lintas Bandung masih semrawut!
Di bidang komunikasi data (internet) justru sektor swasta kelas bawah menyerap teknologi karena faktor kebutuhan yang lebih signifikan, yaitu pita wireless ISM. Ternyata kini penyerapan teknologi tersebut terbentur regulasi pemerintah Postel yang tak pernah selesai. Kabar terakhir malah terjadi sweeping ISP tak berijin di mana kalau diusut lebih dalam adalah banyak ISP yang menggunakan wireless ISM dan proses perijinan yang terkatung-katung.
Di bidang entertainment banyak rumah produksi menyerap konsep opera sabun dan teknologi sinetron, dibandingkan dengan teknologi film layar lebar yang sangat jauh biayanya. Yang disayangkan adalah kualitas materi yang banyak pihak mengatakan tidak mendidik. Selain sinetron penyerapan teknologi juga dilakukan para sineas dengan membuat sinema layar lebar secara digital karena lebih murah dibandingkan dengan film seluloid. Saya lihat sinema layar lebar masih mempertahankan kualitas materi filmnya dibandingkan dengan sinetron. Semoga bisa tetap berkualitas lebih dari jamannya Piala Citra FFI dulu!
Memproduksi Teknologi
Tingkat ini adalah yang paling sulit, baik secara individu maupun korporasi. Invensi dan inovasi membutuhkan pertimbangan yang tinggi dalam skala industri. Dalam tingkat ini Indonesia lebih banyak gagalnya dibandingkan dengan keberhasilannya. Produksi teknologi dalam skala nasional memang diregulasi oleh pemerintah, baik untuk kepentingan ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Kenyataannya dalam dua dekade terakhir yang lebih banyak adalah investor mancanegara menanam modal di dalam negeri ini, kita lihat banyaknya fabrikasi dan assembly di Kabupaten Bandung atau seputaran Jabotabek. Bukan berarti ini tak menguntungkan, tapi nilai kemajuan bangsa Indonesia yang menurun sebab semakin banyaknya pabrik seperti di atas menunjukkan investor asing melihat Indonesia sebagai tempat yang murah dengan tenaga kerja yang murah.
Anjuran pemerintah dulu (lupa tahun berapa) untuk memakai produk dalam negeri semakin berkurang kualitasnya. Masyarakat pun tak bisa dipaksa memakai produksi dalam negeri jika kualitasnya tidak memadai. PT INTI yang memasok pesawat telepon pun umumnya langsung diganti oleh penggunanya dengan pesawat lain yang lebih baik dan bermerek (jelas di sini faktor brand produk lokal sudah kalah duluan).
Di luar faktor brand saya cukup bangga dengan produksi dan SOHO di Bandung, baik itu fashion maupun makanan. Sangat berkembang hingga julukan kota wisata belanja semakin nyata dan gaya hidup dengan atribut dari Bandung lebih berkesan.
Faktor brand memang cenderung menjadi parameter konsumen dan hal ini yang kurang dimiliki Indonesia. Kita bisa memproduksi tapi tak pandai menciptakan brand dan image, sehingga rupiah yang mengalir menjadi dolar ke luar negeri sebagai pembayaran lisensi masih cukup tinggi. Semoga volume lisensi tersebut masih tetap lebih kecil dari peredaran rupiah di dalam negeri. Semoga tidak hanya Teh Botol dan sigaret kretek yang memajukan produk teknologi dan perekonomian bangsa ini.
Senin, 16 Oktober 2006 @ 11:39
Using
keberapa yah gue ?