Budaya dan Etika Dunia Global

Jumat, 17 September 2004M
02 Syaban 1425H

Mendekati tahun 2000 Teknologi Informasi menjadi trend, secara teknis saya berkecimpung di dunia informasi digital sejak 1994 di kampus bergabung ke dalam jaringan internet modem radio 9600bps. Seiring perkembangan dan penetrasi TI tersebut ke masyarakat muncul pula visi dan budaya dalam menggunakan TI ke dalam bisnis. Dari sini muncullah salah kaprah atau kondisi yang negatif karena masyarakat kita kurang aware terhadap konsep dalam melakukan lompatan dan percepatan penyerapan TI tersebut.

Individu atau lembaga mulai menyerap internet sebagai tools sebagai media komunikasi dan periklanan karena murah dan bisa menjangkau dunia global. Di sini mulai terjadi hal-hal negatif seperti SPAM. Tanpa TI kita mengenal periklanan di media cetak maupun media elektronik televisi dan radio, konsepnya adalah seseorang/lembaga mem-broadcast dan masyarakat tanpa merasa terganggu bisa melihat/mendengar iklan tersebut. Bentuk lain iklan non-TI yang juga kita kecam adalah penawaran yang dikirimkan ke rumah padahal kita tak pernah meminta hal tersebut. Begitu pula di internet, analoginya sama yaitu pengguna internet tidak ingin rumahnya (baca: mailbox) dipaksa dikirim penawaran oleh orang tidak dikenal.

Layaknya periklanan yang dikirim ke rumah selama disepakati oleh kita bukan masalah, misalnya seperti kita mendaftar katalog dan bulletin sebuah produk secara berkala. Saya pikir di internet pun sama, saya tak akan protes menerima email dari satu iklan berkala, announcement atau pun bentuk lainnya karena saya telah sepakat untuk menerima email tersebut, misalnya kita subscribe ke situs tertentu supaya kita menerima email secara berkala dalam bentuk pengumuman atau review.

Konsep kesepakatan menerima email tersebut di dalam dunia web adalah push technology. Konsep ini muncul sekitar tahun 1998, dengan melakukan konfigurasi tertentu pada komputer kita dan informasi akan datang sendirinya tanpa perlu kita yang aktif mengambilnya.

Dari segi teknis email SPAM memang sering terjadi karena kebocoran relay SMTP, hal ini dikurangi dengan berbagai cara seperti restriksi relay, POP before SMTP dan sekarang sedang berkembang konsep Sender Policy Framework (SPF).

Dari segi etika dan pelaku bisnis solusinya hanya satu yaitu share/publish melalui web atau media online, dan push jika memang ada kesepakatan individu penerima dengan pelaku bisnis.

Kita memang butuh lompatan dan percepatan untuk mengejar ketinggalan, namun kita juga harus aware terhadap etika dan budaya, apalagi orang timur dikenal dengan kesantunannya.

Popularity: 3% [?]

Catatan Yang Mungkin Terkait

Tidak ada isian yang terkait |

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.