Mengutuk!

Kamis, 9 September 2004M
23 Rajab 1425H

Saya muak dengan kata mengutuk. Seolah-olah mengutuk hanyalah bahasa di bibir saja bagi para pejabat-pejabat dalam bersikap kepada pelaku teror dan agresi. Bertuahkah kutukan para pejabat tersebut?

Kami tak butuh kutukan para pejabat!

Kata-kata kutukan sekarang sudah lebih dekat sebagai eufimisme dari cacian, makian, umpatan dan kekesalan emosi lainnya yang tak terlampiaskan menjadi aksi yang real dan proaktif.

Popularity: 2% [?]

Catatan Yang Mungkin Terkait

Tidak ada isian yang terkait |

Komentar

5 komentar untuk catatan 'Mengutuk!'

  1. #1
    gravatar

    Setuju.

    Kalau hanya marah dan mengumpat, itu tidak produktif, dan malah rugi menimpa kita sendiri.

    Ayo melawan!

    Melawan kezaliman.
    Melawan ketidakadilan.
    Melawan kemiskinan.
    Melawan kebodohan.
    Melawan tindakan destruktif orang-orang picik.

  2. #2
    gravatar

    Betul! Dikit-dikit sesumbar ‘mengutuk’… sok banget.. emangnya siapa dan sesakti apa sampai bisa main kutuk segala?

    Ditambah lagi ucapan sejumlah pihak yang langsung membela diri, padahal belum dituduh sebagai dalangnya… plis deh.. ge-er banget..:P

  3. #3
    gravatar

    Ketika orang sedang terdesak dan tidak berdaya, hanya kata itulah yang ampuh untuk mengungkapkan ketidakberdayaanya.

  4. #4
    gravatar

    aku heran ada apa dng Indonesia ini, ada 3 ucapan yang selalu dimainkan oleh orang – orang besar bangsa ini:(
    1. kesalahan prosedur
    2. ngengutuk
    3. pancemaran nama baik

    apa semua itu standar dari produk nenek sihir yang suka eksperiment? dan kalau ada yang salah langsung bilang kesalahan prosedur? kemudian kalau diusik bilang mencemarkan nama baik, atau bahkan mengutuk atas tindakan orang lain? HANYA ITU? ah kalau selamanya seperti itu bangsa ini akan terus dan terus ketinggalan dengan bangsa – bangsa lain.

    apa tindakan yang diambil adalah suatu yang penting, bukan sekedar berbicara, mengucapkan mantra kutukan. kalau begitu saya juga bisa, si roy (hi roy!) juga bisa mengucapkan kutukan – kutukan yang biasa dilontarkan dimilis – milis, nggak usah jauh2 anak ESDE aja diajarkan untuk mengucapkan mengutuk.

    kalau memang tidak bisa melakukan tindakan setidaknya camkan, hayati, dari sana lambat laun akan ada sedikit tindakan. gimana mo ngerasain macet kalau mereka lewat selalu dibersihkan dahulu jalan yang akan dilewati; gimana mau ngerasain BBM naek kalo mereka selalu mendapat jatah BBM; gimana mau merasakan pendididikan/sekolah yang TIDAK baik kalau ANAK-ANAK MEREKA sekolah diluar negeri.

    rasakan…. hayati…. lalu bertindak
    jangan cuma datang dan kemudian mengutuk. memangnya nenek sihir?

    belum lagi dengan pencemaran nama baik? apa yang baik? dimata siapa mereka itu baik? kalangan pribadi? kalangan luas? maling triak maling itu biasa. yang nggak biasa itu petugas yang triak maling dan tidak ada tindakan apa – apa:(

    maap jay, blogmu jadi limpahan hati nurani

  5. #5
    gravatar
    Mozilla Firefox 2.0.0.2 Windows XP

    sokso padahal belum tentu bener

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.