Tahun 1799 VOC mengalami kebangkrutan sehingga wilayah kekuasaannya di nusantara diambilalih oleh pemerintah Belanda. Saat itu Bandung dipimpin oleh Bupati R.A. Wiranatakusumah II.
Tahun 1808 Belanda mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di nusantara setelah ditinggalkan VOC.
Tahun 1809 bupati memerintahkan pemindahan ibukota dari Karapyak ke daerah pinggiran sungai Cikapundung (alun-alun sekarang) yang waktu itu masih hutan tapi sudah ada permukiman di sebelah utara.
Tahun 1810 Daendels menancapkan tongkat di pinggir sungai Cikapundung yang berseberangan dengan alun-alun sekarang. “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun!”). Sekarang tempat itu menjadi titik pusat atau KM 0 kota Bandung. 25 Mei 1810 Daendels meminta bupati Bandung dan Parakanmuncang memindahkan ibukota ke wilayah tersebut.
25 September 1810 Daendels mengeluarkan surat keputusan pindahnya ibukota Bandung dan sekaligus pengangkatan Raden Suria sebagai Patih Parakanmuncang. Sejak peristiwa tersebut 25 September dijadikan sebagai hari jadi kota Bandung dan R.A. Wiranatakusumah sebagai the founding father. Sekarang nama tersebut diabadikan menggantikan jalan Cipaganti, di mana wilayah ini menjadi rumah tinggal bupati sewaktu ibukota berpindah ke alun-alun sekarang.
Baca selengkapnya »