Email Jaman Dulu
Minggu, 18 Juli 2004M
01 Jumadil Akhir 1425H
- Tracking System
- International phone card
Tak sengaja saya menemukan arsip email saya tahun 1996 dalam diskusi Orientasi Studi di milis apakabar@clark.net Email tersebut adalah interaksi pertama saya di mailing list setelah menginstall jaringan komputer Arsitektur ITB dengan mail server Mercury di atas Novell Netware 3.12 dan disambungkan ke backbone coaxial RG8 (thick ethernet/yellow cable) ke jaringan ITBnet. Saat itu jaringan ITBnet tersambung ke internet global dengan 28.8Kbps modem, dipakai beramai-ramai oleh beberapa jurusan *wow, sekarang personal user saja minimal menggunakan modem 56Kbps*.
Yey, ternyata salah satu email tersebut saya mengirimnya di hari Valentine!
Date: Wed, 14 Feb 1996 00:05:43 GMT+07
From: Yulian Firdaus Hendriyana JAY @ ar.itb.ac.id
To: apakabar @ clark.net
Subject: Orientasi Studi ITB Jangan Dilarang
Orientasi studi di ITB bagi mahasiswa baru bersifat khas. Ini berdasarkan atas pengalaman pribadi setelah mengalami sebagai peserta OS, sebagai panitia OS dan sebagai “swasta”.
Sewaktu menjadi peserta OS, waktu itu pelaksanaannya pada liburan semester II, saya ikuti dengan keinginan saya pribadi karena bukan keharusan himpunan, jurusan maupun ITB. Pada waktu itu OS yang saya alami bisa dianggap ilegal oleh ITB (tidak ada persetujuan proposal oleh PD III), namun pihak himpunan tetap menjalankan acara itu. Acara tersebut tetap saya ikuti dengan pertimbangan saya sudah kuliah dua semester, waktu yang cukup untuk memahami kondisi pribadi dan angkatan. Setahun tersebut sudah terkondisi oleh mentoring himpunan, unit, TPB Games dan TPB Fair.
Setahun kemudian saya ikut aktif dalam kepanitiaan OS di himpunan. Di sini saya melihat sendiri bagaimana pengurus menghasilkan program kaderisasi dari proses mentoring selama tiga bulan dan proses OS itu sendiri. Saya mengalami sendiri bagaimana tim materi mempersiapkan materi yang akan diterima peserta OS, dan saya lihat ini bukan proses main-main seorang senior terhadap mahasiwa baru. Materi OS bukan hasil segelintir orang di kepanitiaan, materi ini telah diuji dalam hearing dan presentasi kepada seluruh anggota himpunan juga kepada anggota Madya (anggota yang telah diwisuda). Pada pelaksanaan semua yang meng-OS berada di bawah komando panitia sesuai dengan perannya masing-masing, panitia dan ‘swasta’. Sebelum memulai acara ada briefing dan yang namanya ‘swasta’ pun wajib ikut briefing supaya dalam acara tidak ada penyimpangan materi dan teknis lapangan. Jelas ini bukan ajang balas dendam. Di-OS itu memang cape tapi lebih cape menjadi panitia OS. Peserta pulang jam 12 malam, panitia masih harus evaluasi dan rapat untuk acara esok pagi.
Peserta percaya kepada panitia. Swasta, sebuah figur yang ditakuti oleh peserta. Kondisi ini bukan sebuah kesempatan untuk membabat habis peserta oleh swasta tapi sebagai kondisi yang tepat untuk memasukkan materi kepada peserta. Soal kontak fisik dan penggojlokan, saya mengalami dan melihat sendiri semua berada dalam batas dan wajar.
Sejauh ini saya belum melihat kerugian dalam proses OS, dan ekses yang terjadi selalu diblow-up oleh pers, mereka cuma melihat luarnya saja, jalan-jongkok, push-up, merayap dll.
From: “Yulian Firdaus Hendriyana” JAY @ ar.itb.ac.id
Organization: Teknik Arsitektur ITB
To: apakabar @ clark.net
Date: Fri, 16 Feb 1996 05:56:06 GMT+07
Subject: Re: IN: Re – Orientasi Studi ITB
Tanggapan atas pendapat saudara Yohannes.
Saya setuju bentuk perploncoan harus dihapuskan dalam OS dan ini saya lihat terus diupayakan dari tahun ke tahun. Saya sendiri pun mendengar dari teman-teman angkatan 80-an sampai saya di-OS tahun 1993 tentang perploncoan yang terjadi dan ekses-eksesnya.
Tapi ketika saya masuk ITB saya bingung, setelah P4 kok tidak ada apa-apa sedang universitas lain ada OS, waktu itu saya masih berpendapat mahasiswa baru biasanya diplonco. Yang ada hanya sambutan dari himpunan dengan perkataan “Selamat datang anggota Mula IMA Gunadharma”, dan saya nggak mengerti dengan sambutan ini.
Sampai akhirnya saya mengikuti OS saya mengalami perlakuan yang bersifat tekanan mental dan fisik. Saya juga ngedumel mengapa saya diperlakukan begini?. Sepanjang proses OS itu saya berbantah dan melawan kepada panitia, hasilnya seperti biasa dihukum. Sesuatu yang sangat feodal saya terima waktu itu.
Menerima perlakuan seperti ini saya tidak langsung berfikir ini suatu perploncoan. Saya berfikir waktu itu buat apa panitia mengumpulkan kami jam 4.30 pagi dengan perbandingan peserta:panitia=1:1? Bahkan kalau malam hari hampir 1:3. (waktu itu peserta OS satu angkatan 73 orang).
Media massa memberitakan perlakuan OS hanya kulit luarnya saja, hanya memblow-up peserta disuruh jalan jongkok, merayap, push up, hormat yang berlebihan pada senior dan sebagainya. Media ini yang berperan membentuk opini masyarakat, terutama mereka yang akan menyekolahkan anaknya ke universitas. Pada akhirnya menjadi sebuah ketakutan yang tak beralasan.
Toh ikut OS itu bukan suatu paksaan, himpunan, jurusan dan ITB pun tak memaksa, kalau memang mau kuliah tok ya nggak usah ikut OS, khan bisa lulus cepat. Nggak akan ada hukuman akademik kalau nggak ikut OS, kok!
Yulian Firdaus H
Mahasiswa Arsitektur ITB
Selasa, 12 Oktober 2004 @ 17:28
Using
preeeeexxxxxx
Selasa, 26 Juli 2005 @ 4:43
Using
Saya jadi pengen tahu mas, bagaimana angkatan dulu membuat materi OS? Soalnya yg saya rasakan saat ini, bingung aja bagaimana membuat materi OS (baik konsep maupun metode) yang baik. Sementara OS yg orientasinya fisik sudah tidak populer, namun yg terframe di otak hanyalah OS yang seperti dulu-dulu. Ada ide mas?
Jumat, 28 Oktober 2005 @ 13:40
Using
Nah, kalau yang ini artikel paling nggak menarik. Kirain email tahun 1906 hahahahaha….
Rabu, 21 Maret 2007 @ 18:42
Using
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa
Hak bangsa Indonesia adalah bebas dari belenggu kemiskinan dan kebodohan