Sejumput Teknologi pada Sebuah Buku

Sabtu, 31 Mei 2003M
01 Rabiul Akhir 1424H

Penerapan teknologi pada dunia perbukuan ternyata tidak sekadar tentang kertas atau teknik pencetakan. Penerbit Indonesia bisa jadi masih menganggap bahwa teknologi percetakan atau pemilihan kertas merupakan hal yang sangat penting, tetapi ada banyak perkembangan teknologi yang seharusnya juga diperhatikan sungguh-sungguh agar dunia penerbitan Indonesia terus berkembang sesuai zaman.

Kepedulian itu bisa dimulai dari yang kecil, misalnya menerapkan ISBN (International Standard Book Number) secara benar. Memang mayoritas penerbit Indonesia sudah memiliki kode unik yang akhirnya menentukan nomor ISBN, tapi tetap saja masih ada buku yang diterbitkan tanpa ISBN. Barangkali karena rendahnya perhatian pada ISBN itu kadang-kadang kita menyaksikan ada penerbit salah cara menuliskannya, misalnya tetap menggunakan angka 10 pada ujung nomor, alih-alih diganti dengan x. Padahal ISBN adalah tanda unik suatu buku. ISBN akan menerangkan secara pasti keterangan buku, misalnya tentang judul, subjudul, penulis, dan penerbit. Nyatanya tetap saja ada penerbit yang abai pada masalah sederhana seperti itu.

Jika kita mau berbesar hati, sebenarnya dalam teknologi cetak pun penerbit Indonesia tetap tertinggal jauh. Pada pilihan kertas misalnya, jenis HVS dan koran tetap mendominasi bahan produk terbitan. Pencarian alternatif jenis lain sangat jarang dilakukan. Pilihan jenis lain, misalnya Enso, jarang dilakukan-tentu pertimbangannya karena harganya mahal. Tetapi kini penerbit baru seperti Metafor, Lontar, dan Bark Com telah menggunakan jenis yang relatif sama dengan penerbit luar negeri. Menurut Wien Muldian dari Metafor, mereka memang mengimpor kertas itu dari Finlandia. Memperhatikan sekilas buku yang diimpor oleh Etnobooks, Java Books, QB World Books, atau Oriental akan terasa betapa dalam hal cetak, desain, penintaan, tata letak, dan pilihan kertas, penerbit Indonesia memang tertinggal. Hanya sedikit buku kita yang didesain dengan teknik canggih, misalnya Supernova 2.1.: Akar karya Dewi Lestari yang dengan artistik memadukan seni dan desain. Buku Jakarta Undercover yang sedang laris pun dari sisi penjilidan buruk, karena lemnya mudah retak dan halamannya lepas. Di Indonesia sebuah buku tampaknya cukup diwujudkan dengan teknik cetak yang tak terlalu istimewa jika dibandingkan buku impor.

Tapi perkembangan teknologi juga terus berjalan dan harus terus diikuti. Penggunaan bar code ISBN misalnya, baru dilakukan sejumlah penerbit. Bar code itu ternyata belum cukup, sebab kode itu belum dapat dibaca oleh scanner belanja. Agar dapat dibaca, ISBN itu diberi tambahan kode angka 978, yang dalam industri buku disebut dengan nomor EAN 13. Namun visualisasi bar code EAN 13 pun harus standar. Jika dikecilkan atau dipiuhkan dari ukuran standar, bar code itu tidak akan terbaca oleh scanner harga. Pada saatnya nanti di tempat belanja data buku yang ada pada EAN 13 inilah yang discan, agar transaksi dapat berjalan cepat dan mudah. Selain itu teknik ini memudahkan buku dijual di mana saja, misalnya di pasar swalayan. Penerbit Elex Media Komputindo, Kanisius, dan Kompas bahkan menambah kode internal untuk menandai produk terbitannya.

Penerapan teknologi sederhana itu ternyata sukar sekali diterima kalangan penerbit Indonesia. Aries Buntarman, yang menangani divisi teknologi informasi (TI) Gramedia Pustaka Utama (GPU) mengatakan baru pada 1980-an kesadaran mencantumkan ISBN itu muncul. Menurutnya penempatan teknologi itu bergantung pada tiga hal, yakni kesadaran pada teknologi, kemampuan modal, serta kesiapan sumberdaya manusia. “Di masa depan, TI akan menjadi kunci kemajuan penerbitan Indonesia, ” katanya. Mewujudkan cita-cita dan mengejar ketertinggalan itu memang tidak mudah. Penerbit harus menginvestasikan sejumlah modal, mengeluarkan biaya perawatan, terus mengikuti pekembangan teknologi, serta mengikuti pelatihan.

Dalam melakukan transaksinya pada pesta buku ini, hanya dua penerbit yang menggunakan teknologi scanner harga, yakni GPU dan Elex Media Komputindo. Sisanya sudah menggunakan kode produksi yang tercatat pada komputer, dan sebagian besar masih dengan cara manual.[]wartax


Diterbitkan oleh Panitia Pesta Buku Jakarta 2003
Sekretariat Panitia
Istora Senayan – Jakarta
Telp. 021 – 5731533

Catatan Yang Mungkin Terkait

Tidak ada isian yang terkait |

Komentar

Satu komentar untuk catatan 'Sejumput Teknologi pada Sebuah Buku'

  1. #1
    gravatar

    ku minta tentang segala hal tentang scanner?dari sejarah, kegunaan, cara kerja, nyaper sistematika dalam pengoprasian scanner!!!!!!!!!
    bales ya ke email aku?
    mohoooonnnnnn@!!!!!!!!!!!!

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.