Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua

Rabu, 14 Mei 2003M
13 Rabiul Awal 1424H

DI wilayah kerajaan dangdut, Inul adalah warganya sang Raja Dangdut, atau mungkin lebih intim kalau kita sebut anaknya Rhoma Irama. Ia berada dalam asuhan, ayoman, dan perlindungan bapaknya. Kalau si anak benar, bapak men-support-nya. Kalau anak salah, bapak mengingatkannya. Kalau anak jaya, bapak bergembira. Kalau anak terpuruk, bapak menolongnya.

Apalagi ternyata anak-anak lain sebenarnya juga melakukan hal yang sama dengan Inul. Penyanyi-penyanyi dangdut yang lain, baik yang tampil di televisi, dan apalagi yang di luar itu-sejak Inul terkenal, setengah mati mencari pola-pola joget yang diperkirakan bisa bersaing melawan Inul, yang produknya sama sekali tidak kalah sensual dibanding Inul.

Kosmos dangdut berguncang oleh kehadiran Inul. Konstelasi pentas dangdut berubah total oleh adanya Inul. Inul menjadi bintang gemintang dan yang lainnya menjadi figuran. Keindahan musikalitas dangdut menjadi sekunder karena yang primer adalah fenomena budaya ngebor yang dilansir oleh Inul. Ngebor menantang lahirnya ngecor, ngezor, ngelor, ngedor… atau apa pun.

“Ngebor” adalah “avant-garde” budaya dangdut

Sesungguhnya apa yang dilakukan Inul adalah angka 9 dari 1, 2, 3… 6, 7, 8 yang sebelumnya secara bertahap dicapai oleh dinamika musik dan budaya dangdut. Joget ngebor Inul adalah garda depan dari perkembangan panjang budaya joget dangdut. Ia bukan anak jadah. Ia anak yang normal, relevan, dan bahkan setia serta kreatif terhadap aspirasi budaya joget dangdut. Kalau Anda perhatikan atmosfer pentas dangdut, orang yang cerdas bahkan berani memastikan bahwa yang semacam Inul itu akan pasti lahir, lambat atau cepat.

Tidak ada yang aneh dengan Inul karena budaya joget yang berkembang dalam kultur dangdut memang sangat akomodatif terhadap jenis kultur semacam ini. Dan, mohon maaf, Pak Haji sejak awal kebangkitan dangdut memang tidak antisipatif terhadap fenomena ini. Pak Haji secara tidak sengaja ikut memupuknya sehingga mengherankan kalau seakan-akan sesudah hadirnya Inul beliau baru tahu tentang budaya goyang aurat dalam pentas dangdut. Sudah lama Pak Haji terlibat dalam atmosfer goyang semacam itu dan tidak tampak merasa risi olehnya.

Awal tahun 1980-an saya pernah menulis tentang pentas dangdut yang diawali dengan tuturan ayat Quran atau hadis Nabi kemudian musik berbunyi dan penyanyinya menggoyang aurat, depan maupun belakang. Inul bahkan hanya mengolah aurat belakang, tidak terlalu membuat kaum lelaki pingsan sebagaimana kalau yang digoyang adalah bagian depan-yang biasanya dikomposisikan dengan mikrofon yang disodorkan tepat di depan kemaluan si penyanyi.

Sejak puluhan tahun lalu masyarakat terheran-heran oleh paradoks antara syair dakwah dangdut dengan praktik budaya joget dangdut. Pak Haji seakan-akan baru hari ini menjumpai fenomena itu. Dan, para pejoget dangdut yang lain seakan-akan suci dari tradisi budaya joget Inul.

Rekapitulasi nilai budaya dangdut

Maka, yang saya bayangkan adalah sang Raja atau si bapak dangdut memanggil anak garda depan itu. Ia panggil juga semua anaknya yang lain. Mungkin dinasihatinya, atau diajak berdiskusi, berunding, bersama-sama memproses dialog menuju keputusan bersama yang mewakili citra seluruh keluarga-kalau memang semua memandang bahwa atmosfer dunia dangdut harus mengalami perubahan. Katakanlah mereka berpendapat bahwa perlu ada semacam rekapitulasi nilai budaya dangdut.

Kalau ternyata si anak bersikap egois, tidak bisa melakukan moderasi atau persuasi sama sekali, maka bapak dan seluruh keluarga tidak punya kemungkinan lain kecuali bersikap memisahkan diri dari si anak.

Saya tidak berada di Indonesia ketika kasus Inul-Rhoma ini meledak, juga tatkala saya menulis ini. Dengan demikian, saya tidak tahu persis bagaimana kronologinya. Tidak tahu apakah sudah terlebih dulu ada proses dialog masyarakat dangdut dengan Inul, ataukah tiba-tiba saja masyarakat mendengar sikap Pak Haji Rhoma dan masyarakat dangdut terhadap Inul. Tiba-tiba saja Rhoma dan masyarakat dangdut adalah sebuah pihak, dan Inul adalah pihak yang lain.

Kalau yang terakhir ini yang terjadi, maka kayaknya di sini letak ketergesaan dan kekurangarifan Pak Haji. Di dalam wilayah internal kerajaan dangdut, Inul tidak memperoleh hak runding, hak islah, hak mempertahankan pendapat, dan hak mendapatkan bimbingan.

Fokus gugatan bukan Inul

Kekurangarifan yang lain adalah bahwa Inul dijadikan fokus jihadnya Pak Haji. “Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dengan kecenderungan untuk tergesa-gesa”, Allah berfirman. Dan, Pak Haji sungguh tergesa-gesa.

Kalau ada makanan beracun, Pak Haji, jangan melotot hanya pada makanan itu. Kita perhatikan juga warungnya, siapa yang bikin dan kirim makanan beracun itu, dengan segala interelasi pihak-pihak di sekitarnya. Bahkan, kita perhatikan apa isi pikiran si empunya warung, apa ideologi pembikin makanan, mereka punya apa saja dan tak punya apa saja-entah modal, alat-alat produksi, skala pasar, otoritas politik, dan apa saja yang nanti akan bergoyang kalau kita banting-banting itu makanan beracun.

Bahkan, Pak Haji, kalau ada sepiring nasi beracun, apakah nasi itu harus kita buang beserta piringnya sekalian, ataukah kita cari cara untuk membersihkan piring dan nasi dari racun sehingga yang kita musuhi dan buang hanyalah racunnya?

Maka, sekali lagi, kalau ada makanan beracun, jangan sampai konsentrasi terhadap racun kalah besar dibanding perhatian terhadap makanannya. Yang harus didiskusikan oleh Raja dan masyarakat dangdut bukan Inul, melainkan fenomena jogetnya. Bukan figurnya, melainkan keseniannya. Bukan orangnya, melainkan kriteria nilainya.

Sejak umur 10 tahun Inul bergoyang

Sejak umur 10 tahun, di sekitar pertengahan tahun 1980-an, dari daerah Japanan, Jawa Timur, Inul sudah mulai show dan sudah dikenal banyak orang keistimewaannya dalam menggoyang badan dengan fokus pantatnya. Kalangan-kalangan masyarakat kelas bawah di berbagai wilayah di Jawa Timur sudah tidak “pangling” dengan goyang Inul.

Dan, semua aktivitasnya itu relatif tidak mendapat halangan apa-apa. Karena latar belakang budaya dan infrastruktur alam pikiran masyarakat kita pada dasarnya tidak pernah memiliki kesungguh-sungguhan atau konsistensi substansial untuk menyikapi gejala apa pun; kemaksiatan, pencurian, korupsi, perjudian, pelacuran, atau apa pun saja-meskipun secara teoretis itu bertentangan dengan nilai-nilai agama yang mereka anut.

Ketidaksungguhan itu maksudnya begini: ya menyembah Allah, tapi juga mengingkari-Nya. Ya mencintai-Nya, tapi juga menyakiti hati-Nya. Shalat juga, tapi beli togel juga. Puasa Ramadan juga, tapi minum arak rajin juga. Naik haji juga, tapi puncak ibadah di Mekkah itu tidak dijamin pasti menghalanginya melakukan pencurian, kecurangan, menyakiti orang lain, berselingkuh, merendahkan orang kecil, mengoordinir pencurian kayu hutan, menyantet kompetitornya dalam memperebutkan jabatan, melakukan penindasan dan kezaliman, dan berbagai macam perilaku yang membuat Allah sakit hati.

Jangan korupsi, kecuali saya kecipratan

Kita adalah masyarakat yang melarang siapa pun melakukan korupsi, kecuali kita ikut kecipratan. Kita tidak ikhlas ada KKN, kalau kita tidak dilibatkan di dalamnya. Korupsi tidak haram asalkan yang melakukan adalah keluarga kita sendiri, bapak kita, tokoh parpol kita, atau ulama panutan kita. Meniduri pembantu rumah tangga itu zalim dan dosa besar, tetapi kalau yang melakukan adalah tokoh kita sendiri, maka wajib kita tutupi, kalau perlu anak hasil perzinahan itu kita upayakan penanganan dan penampungannya.

Bagi kita, yang dimaksud tokoh adalah orang yang kita dorong, kita perjuangkan, dan kita bela untuk menjadi pemimpin nasional karena kalau berhasil, maka kita semua akan mendapatkan akses-akses dari beliau, bisa dapat proyek, bisa makelaran jabatan, atau sekalian ditempatkan menjadi pejabat ini-itu.

Calon presiden adalah orang yang kalau dia menjadi presiden kita harapkan memberi keuntungan kepada kita. Sekurang-kurangnya memberi keuntungan kepada golongan kita, ormas/orpol kita, kelompok kita: kalau terpaksanya tidak bisa maksimal, ya, yang penting bisa memberi keuntungan bagi kita pribadi dan keluarga kita.

Calon presiden itu boleh pelawak, boleh malaikat, boleh orang dungu, boleh setan, boleh siapa saja, asalkan menguntungkan kita. Yang dimaksud kita, tidak harus kita bangsa Indonesia, bahkan tak harus kita segolongan, yang penting kita sendiri ini, seorang saja pun, mendapat keuntungan. Dan yang dimaksud keuntungan, sederhana saja: uang sebanyak-banyaknya.

Dengan atmosfer nilai semacam itu, fenomena Inul tidak a-historis dan bukan sesuatu yang istimewa.

Perampok dan pengemis

Kalau ada rezim korup, kita akan memperjuangkan satu di antara tiga kemungkinan. Pertama, kita tumbangkan rezim itu agar kita bisa menggantikannya melakukan korupsi. Atau kedua, kita tekan rezim itu pada level yang kita mampu, agar supaya mereka tidak egoistik dalam melakukan pencurian uang negara dan harta rakyat. Mereka harus berbagi dengan kita, korupsi dalam koordinasi dengan kita, berkolusi dalam jaringan dengan kita.

Kemungkinan ketiga, kalau kita tidak memiliki “bargaining power” apa-apa untuk melakukan negosiasi, maka kita upayakan cara-cara untuk mengemis. Tentu saja kalau bisa jangan sampai tampak mengemis, kita bisa hiasi dan tutupi dengan retorika, jargon dan tema-tema yang indah dan penuh nasionalisme.

Penduduk Indonesia ada dua. Perampok dan pengemis. KTPnya ganti setiap diperlukan. Kalau sedang berkuasa, merampok. Kalau tak berkuasa, mengemis, pindah parpol, pindah koalisi, pindah tema dan komitmen, atas nama dinamika demokrasi.

Inul tidak termasuk penduduk yang bisa merampok atau mengemis dalam konteks itu. Ia hanya punya kemampuan menggoyang pantat, dan ia tidak mengerti hubungan antara goyang pantat dengan peta nilai apapun-filosofi, moral, akhlak, akidah atau apapun-kecuali logika bahwa kalau ia mau bergoyang maka ia menerima honor sekian rupiah.

Dengan atmosfir nilai semacam itu, fenomena Inul bukanlah sesuatu yang aneh dan mengherankan.

Togel dan istikamah

Aa Gym bertanya kepada Inul, “Apakah Mbak Inul tidak pernah berpikir bahwa yang Mbak Inul lakukan itu bisa merusak moral generasi muda bangsa kita?”

Inul menjawab dengan penuh kejujuran: “Alhamdulillah nggak….”

Nuansa jawabannya seperti seorang pembeli nomor judi undi yang menjual sepedanya untuk memborong angka 97 (sembilan tujuh), karena ia mendapat ramalan 79 (tujuh sembilan) kemudian ia mistik otak-atik menjadi 97 (sembilan tujuh). Padahal, yang kemudian keluar adalah 79 (tujuh sembilan) persis seperti angka ramalan. Ia sudah telanjur jual sepeda…. Istrinya marah habis. Seorang sahabatnya memberi nasihat: “Makanya orang hidup itu harus istikamah, jangan plintat-plintut. Kalau sudah 79 ya 79, jangan dibolak-balik. Iman harus teguh….”

Inul tidak merasa melakukan apa pun yang berkaitan dengan kerusakan moral masyarakat. Sehingga kalau ada pengadilan moral, Inul ada di urutan sangat belakang. Urutan terdepan adalah orang yang mengerti moral namun mengkhianatinya, orang yang memahami hukum tapi melanggarnya, yang mengerti menjadi wakil rakyat artinya adalah mewakili kepentingan rakyat namun sibuk dengan kepentingan diri dan golongannya.

Sama dengan Sumanto, ia sekadar kanibal kelas teri. Ia beraninya hanya makan mayat, itu pun nenek-nenek. Itu pun sesudah si mayat ada di kuburan baru ia mencurinya. Sumanto tidak berani makan daging rakyat sebagaimana banyak pengurus negara.

Pantat Inul dan perilaku Sumanto, secara kualitatif, adalah wajah kita semua.

Membayar untuk dipantati

Mohon maaf harus saya kemukakan bahwa Pak Haji Rhoma perlu memastikan di dalam kesadarannya bahwa beliau hidup di negara yang politiknya sekular dan perekonomiannya industri, dan kebudayaan berada di bawah otoritas dua kekuasaan itu.

Siapa pun yang tidak setuju atas kenyataan itu bisa memilih satu di antara tiga kemungkinan. Pertama, melakukan pemberontakan dan mengambil alih kekuasaan. Kedua, menciptakan lingkaran “negeri” sendiri untuk menerapkan prinsip-prinsip nilainya di wilayah-wilayah nilai yang memungkinkan, tanpa harus menabrak konstitusi negara. Ketiga, melakukan sejumlah kompromi terbatas berdasarkan prinsip persuasi dan strategi sejarah berirama.

Sebagai orang yang hidup dengan pandangan agama, Pak Haji bisa mengambil wacana sujud shalat untuk menilai Inul. Tuhan menyuruh Muslim bersujud. Dalam sujud pantat kita letakkan di tataran tertinggi, sementara wajah di level terendah.

Wajah itu lambang eksistensi kita, icon kepribadian kita, dan display dari identitas kita. Kalau bikin KTP tidak dengan foto close up pantat, melainkan wajah.

Ritus sujud menjadi semacam metode cermin untuk menyadari terus-menerus bahwa kalau tidak hati-hati dalam berperilaku, manusia bisa turun martabatnya dari wajah ke pantat. Ketika bersujud yang diucapkan oleh orang shalat adalah “Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi”. Jadi jelas sujud itu memuat substansi martabat atau derajat manusia hidup.

Pak Haji cemas karena sekarang orang bukan hanya tidak takut martabat kepribadiannya merosot. Orang bahkan mendambakan pantatnya Inul, dan membayar untuk dipantati Inul.

“Market” dangdut tanpa sensualitas

Tetapi itu wacana agama. Itu urusan orang beragama. Sekularisme dan industrialisme tidak relevan terhadap martabat, derajat, akhlak dan akidah. Tidak ada agenda di dalam sekularisme dan industrialisme yang menyangkut itu semua.

Ini negara sekular, Pak Haji. Jangankan joget Inul: berzinah pun tak apa-apa. Boleh atau tidak menjadi kafir tak ada undang-undangnya. Bersikap munafik juga boleh-boleh saja. Negara ini tidak keberatan kalau kita mengkhianati Tuhan. Tuhan bukan subjek utama. Tak ada Tuhan pun negara ini tak keberatan. Dan Pak Haji tak usah menangis, tinggal mengambil satu di antara tiga kemungkinan sikap yang tertuang di atas.

Industri tidak berpikir baik atau buruk, akhlaqul karimah atau sayyiah. Industri tidak ada kaitannya dengan Tuhan, surga dan neraka. Industrialisme bekerja keras dalam skema laku atau tak laku, marketable atau tidak marketable, rating tinggi atau rendah. Bad news is good news. Kalau yang laku ingus, jual ingus. Kalau yang ramai di pasar adalah Inul, jual Inul. Dan Pak Haji adalah figur yang juga sangat marketable-industrial selama ini. Sekarang Pak Haji harus membuktikan kesaktian bahwa musik Pak Haji akan tetap marketable meskipun minus joget dan sensualitas.

Pak Haji, ada saat-saat di mana ternyata yang enak adalah orang yang tidak laku seperti saya.

Ya Allah, reformasi masih gagal, petani makin sengsara, buruh menderita, krisis nasional tak kunjung berakhir, pemilu demi pemilu tidak menambah keselamatan bangsa, berbagai problem besar belum mampu kami atasi-dan hari ini aku harus menulis tentang pantat, ya Allah….

Sumber: Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua oleh Emha Ainun Nadjib, Kompas – Minggu, 04 Mei 2003

Popularity: 5% [?]

Komentar

16 komentar untuk catatan 'Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua'

  1. #1
    gravatar

    saya pingin lebih jauh pikiran anda tentang bahsan ini, saya mohan anda u/ mau menjelaskan lebih lanjut. atau kalau perlu kita bisa melakukan diskusi via email, apakah ini bisa anda tanggapi dengan ikhlas, soalnya saya juga lagi menulis masalah kontroversi semiotik/sosiologis fenomena dunia hiburan Indonesia yang sarat mengusung erotis dan sensual atas sebatang tubuh. dengan ini bukan berarti saya setuju atau tidak namun saya mencoba untuk membaca fenomena ini dari kacamata semiotik – saya juga menjaring kemungkinan dari berbagai kacamata disiplin ilmu, …..

    semoga permintaan saya ini tidak berlebihan he..he..heh

  2. #2
    gravatar

    INUL KETUT SENANG SEKALI SAMA MUSIK EN SUARA INUL YG SANGAT MERDU.LAGI PULA INUL SEXSY SAYA MAU TANYA APA INUL PERNAH KE BELANDA SAYA RASA PERNAH LIHAT DI WASENAR DI KEDUTAN BESAR INDONESIA NYANYI DANGDUT TAHUN 2001 KALAU NGGAK SALAH.SAYA ORANG BALI ASLI TAPI SAYA DI BELANDA SUDAH LAMA.SAYA JUGA BELI BANYAK DVD INUL DI BALI WAKTU AKU LIBURAN KE BALI TAHUN 2002 WAH AKU SENANG SEKALI LOH LUCU EN ENAK GOYANGNYA INUL HAHAHAHAHAAAA

  3. #3
    gravatar

    semoga Syariat Allah segera tegak dimuka bumi ini sehingga jelaslah bagi kuta yang mungkar itu mungkar dan yang baik itu baik. manusia bisa berpandnagan apa saja tentang sesuatu tapi Allah mengingatkatkan kita bahwa yang kita sangak baik itu belum tentu menurut Allah Baik, dan menurut kita Jelek belum tentu menurut Allah itu jelak, Allahhu Y’alamu wa antum la t’alamun.

  4. #4
    gravatar

    Saya setuju dengan Sdr. Wildan, dan ingin menambahkan sedikit;
    Berusaha untuk memperbaiki adalah sangat baik. Kalau kita melihat sesuatu yang salah dan kita merasa sanggup untuk memperbaikinya, lakukanlah. Sekecil2nya bantuan kita adalah dengan do’a, dimana kita sdh tdk bisa melakukan apa2 lagi.
    Janganlah dengan mudah mengeluarkan perkataan yang langsung terikat dengan Allah, seperti kata “Jihad” dan terekspos media pula, karena sangat berat resikonya. Dan ketika telah keluar perkataan itu dari mulut kita sadar tidak sadar kita telah terikat dan harus konsekuen dan adil pada semua orang dalam melaksanakannya.
    Media dan orang2 bisa surut dan lupa akan ucapan kita, tapi Allah akan selalu melihat tindak tanduk kita sampai datangnya waktu untuk mempertanggung jawabkannya.

  5. #5
    gravatar

    saya senang dengan lagu dangdut apalagi lagu2nya bang haji oma, maju terus bang haji pantang mundur … sekali layar berkibar pantang kita untuk mundur… hidup dangdut…

  6. #6
    gravatar

    hmmm

  7. #7
    gravatar

    Assallamualaikum wbr……Sebenarnya lagu dangdut not bed, yang bad yang nggak suka dangdut, …iya nggak? Kita doakan aja supaya lagu2 Indonesia semuanya maju. cuman goyang aja jadi masalahh, kenapa sih? Aurot? bukankah di INdonesia banyak pelacur dan belom tentu yang yang fanatik nggak pernah jajan pelacur.Kapan Indonesia maju, kalo cuman goyang aja haram.Yang namanya haram kalo kita nggak punya Iman, …AMIENNNN.aku suka lagu apa aja yang penting nggak ngerugikan orang lain.Yang namanya cari rejeki jalannya banyak foto model Indo, juga banyak pake bikini itu kan cuman menandakan kalo renang musti pake bikini.Bukan berarti haram atau modern memang harus pake bikini.Yah banyak lagi sebenarnya haram itu banyak tkw pada kerja ke luar negeri, entah Saudi Arabia, Hong Kong, dan yang lain sebenarnya itu haram meninggalkan keluarga tapi kenapa banyak laki2 ongkang2 dirumah nunguin kiriman.Amerika haram, … tapi setiap hari orang Indo, berjubel2 di keduta’an Amerika untuk mendapatkan visa.Sekarang Saudi Arabia dikira disana nggak lebih haram, banyak pemerkosa’an terhadab pembantu hanya karena terkurung rumahnya aja jadi kebusukannya biar nggak kelihatan.Yang suci hanyalah orng yang beriman dan MEKAH ddan juga Masjidnya saja.Manusianya sama2 busuk dan serakah.Orang kaya di Indonesia mah yang fanatik dan banyak duit nggak perduli maunya cuman ngrumpiiiii aja.dan ngomongin orang saja.Apakah orang Indo, mikirin rakyat kecil nggak, …percaya deh, orang miskin hidup sendiri tanpa bantuan, malah sering dicaci. Tapi kalo di Amerika orang miskin diperhatikan lebih dulu sama pemerintah aku kagum deh.Orang Indo, bilang Amerika kafir tapi beramalnya lebih banyak dari orang Islam.Bayangin berjuta2 orang Indonesia hidup di Amerika tapi mereka hidupnya tentram dan damai.Allhamdillillah Hirobil Allamiiiiin.
    Sebenarnya orang2 yang usil itulah yang TUHAN nggak suka, yang penting nggak telanjang, kalo telanjang tinggal dikeroyok masal.Kalo model walo telanjang kan umpet2, tapi majalahnya dibeli juga, …biarin orang cari rejeki jalannya masing2.Yang sudah tua mustinya pensiun kalo mati kan nggak dibawa kekubur ingat itu.iya kan?hanya 3meter kain kafan.ALLHHU AKBAR, ..TUHAN MAHA BESAR.Berdoa aja sama ALLAH YANG MAHA KUASA supaya orang yang kafir itu bertoubat, disitu kau dapat pahala.nggak usah berantem, lihat Indonesia sudah terpuruk sampe nggak bisa bangun setelah tahun 2000 yang lampau kasihan Indonesiaku kapan majunya Negaraku kalo rakyatnya bermusuhan sendiri2. YA ALLAH AMPUNI ORANG2 YANG JAHAT DAN PULIHKANLAH NEGARAKU BERSATU KAYA DULU LAGI, … HANYA KAU YA ALLAH YANG MAHA MENGETAHUI.Karena siapapun yang hidup di NEGARAKU ITU ADALAH KETURUNAN ADAM DAN HAWA SATUKAN MEREKA JANGAN BERANTEM SESAMA NEGARA.

  8. #8
    gravatar

    najis, (maaf ya terlalu kasar n’ vulgar), inul tu harusnya diberantas, dirajam, dihkum cambuk, karena inul secara tidak langsung telah membuat orang berzina, malah inul itu harus dipasung(pantatnya). klo inul ga mo dihujat jangan membuat prilaku yang membuat orang harus menghujatnya

  9. #9
    gravatar

    INUL CUMAN BISA MENANG DI KALANG ORANG-OARNG YANG MENJADIKAN SEX ADALAH SEGALANYA MENGBUTUHKAN SEX YG

  10. #10
    gravatar

    maaf baru bisa komentar neh, aku sih inulians atau FBI alias Fans Berat Inul. makanya aku dukung banget tuh mbak inul. Wak haji oma …. sok suci luh gak ingat waktu masih muda dulu, tuanya juga.
    Inget aja ama lagu wak haji …. ” yang nggak suka boleh … MINGGIIRR “

  11. #11
    gravatar

    [...] Dan baru beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah tulisan yang sangat bagus di sebuah blog wordpress yang membahas Tukul dengan menghubungkannya dengan Pendangkalan Ruang Publik. Selain itu di blog itu ada tulisan juga tentang Tukul : Tukul atawa Humor ? Humor atawa Tukul ? Saya jadi membuka kembali berkas-berkas (bahasa Inggrisnya : files ?) masa lalu dari kliping-kliping koran dan menemukan apa yang saya cari : Sebuah Opini di Kompas pada bulan Mei 2003 yang berjudul Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib. Bung Jay kemudian memuatnya di blognya dengan judul yang sama : Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua. [...]

  12. #12
    gravatar

    wah kl masalah ngebor, itu biasa aja lagi…itu juga merupakan sebuah kreativitas yg harus kita dukung.
    masalah vulgar atau tidak itu tergantung orang yg melihat.
    kan setiap orang pasti memiliki pandangan yg berbeda tapi jgn sampai pandangan itu terlalu di bawa serius “gk lucu lagi”.
    jangan dipungkiri kalau kita semua memiliki sisi negatif, jadi jangan MUNAFIK dech dan jangan sok bilang “gue gk suka yang kayak gituan, apaan tuh??”……

    “TERLALU JAUH DARI SIFAT MANUSIA YANG ADA…..”

  13. #13
    gravatar

    Wakaakaka Test Test Im ComeBack Honey

  14. #14
    gravatar

    waduh mbk inul saya sering cari di you tube mbk inul klip banyak musik di you tube nah saya juga ada klp di you tube ketik erawati

  15. #15
    gravatar

    hha…hha…..
    mank wajah kita smua PANTAT
    (pntes ja nge fans ma inul)
    hha.ha….

  16. #16
    gravatar

    Sekarang inul kan lagi hamil.
    Kita doain aja biar sehat selalu sampai anaknya lahir selamat tanpa halangan apa-apa ya

Tulis komentar

XHTML: Anda dapat menggunakan tag-tag berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Untuk menampilkan gambar/icon avatar anda silakan daftarkan alamat email di Gravatar.