Badminton
Rabu, 26 Maret 2003M
24 Muharram 1424H
- International phone card
- Baufinanzierung
- Tracking System
- Valentines flowers delivered to your loved one door. Send fresh tulips, a dozen roses with chocolates, or any flower bouquet. Flower freshness & delivery guaranteed.
- Musical Instrument Allans Music Australia
- Download Free Movies
- Science of Identity Foundation - quotes and videos on happiness and well-being.
- Hewlett Packard Laptops Buy HP notebooks in Australia
Capenya maen badminton 3 jam, 3 set ganda dan terakhir 1 set tunggal… Mendingan naek gunung deh, atau hiking menyusuri pantai kayak dulu ke Ujung Kulon. Memang hebat atlet yang bisa berprestasi di masing-masing cabang olahraga yang dipilihnya, hanya sayang penghargaan terhadap atlet di Indonesia ini masih kurang, masih milih-milih dan terkadang pihak KONI seperti pilih kasih terhadap cabang olahraga tertentu. Di mancanegara sana atlit adalah profesi, layaknya usahawan atau dokter. Kapan di Indonesia profesi atlet adalah benar-benar profesi?
Popularity: 3% [?]
Kamis, 6 Januari 2005 @ 12:04
saya termasuk orang yang gemar mengamatiolahraga di tanah air, dan saya tidak habis pikir, bagaimana olahragawan di indonesia dalam hal ini badminton begitu taktis dan ulet dalam bekerja sampai2 pemain luar kagum melihatnya. ad rasa bangga terbersit dalm benak saya mendengar hal itu. tapi kalo diperhitungkan, kita masih kalah jauh regenerasinya dengan China. padahal peluang besar untuk menyelamatkan muka indonesia di kancah internasional yang bisa diandalkan adalah melalui olahraga ini. untuk itu pemerintah juga harus memperhatikan nasib atlet masa kini serta masa depannya, jangan sampai para atlet menyesal pernah berkarir di Indonesia dan lebih memilih luar negeri untuk melancarkan karirnya.
Senin, 11 April 2005 @ 14:14
Keberhasilan atlet Badminton kita agar berjaya lagi kansnya besar, namun perlu dilakukan beberapa kegiatan salah satunya adalah merunut kembali para pelatih pencetak jawara kita seperti rudi, icuk, king, taufik dsb. kemudian para pelatih-pelatih tersebut (kalau masih hidup) diminta untuk menjelaskan bagaimana cara penanganan baik dari segi teknik maupun nonteknisnya. Data-data tersebut kita arsipkan, sehingga jika kita menemukan atlet mirip salah satu jawara tersebut akan lebih mudah menanganinya. Penanganannya ikuti seperti pelatih sebelumnya (pelatih pencetak jawara). Jadi kebiasaan kurang baik kita adalah masalah PENGARSIPAN METODE PELATIH PADA ATLET, terimakasih.
Selasa, 17 Mei 2005 @ 12:01
Sungguh memprihatinan melihat prestasi bulutangkis di sektor putri, pasca pensiunnya Susi Susanti dan hengkangnya Mia Audina, nyaris tak ada dan memang kenyataannya tak satu pun gelar yang dapat diraih oleh sektor putri untuk seri GP yang di ikuti oleh pemain top dunia. Tapi anehnya para pelatih merasa bangga terhadap anak didiknya jika ada yang masuk babak 8 besar saja, apakah mereka malu dan menutupinya dengan menyebutnya “pemain masa depan”?sebut saja silvi Antarini yang pernah menyandang sebutan tsb, masa depan yang mana?malah bermunculan atlet masa depan yang baru dan kapan kita nggak tahu masa depannya kapan?Kalo boleh usul untuk sparing partner sektor putri yaitu sektor putra yang telah didegradasi saja, dan hal ini menurut saya sangat penting, untuk merubah pola permainan sektor putri, kalo saya perhatikan kemampuan juara dunia sektor putri sama saja dengan pemain sektor putra yang sudah di degradasi, ya…lebih dikit lah. Terus kalo pemain putra degradasi dah bisa di libas oleh sektor putri, saya yakin Cina tuh nggak ada apa-apanya, dan membungkam mulut sombongnya si Li Yong bo, ayo buktikanlah engkau memang pemain masa depan……….SEMANGAT!
Jumat, 7 Oktober 2005 @ 11:59
ya ampun kasiannya, menurut saya hal itu lumrah banget di Indonesia karena biar gimana juga Indonesia itu negara yang ga tajir-tajir amat, jadi ga heran klo pem ga begit merhatiin para atlit yang udah banyak berjasa mengharumkan nama bangsa karena masih ada banyak hal lain yang harus diurusi oleh pem. klo dibandingin sama negara lain yang udah maju model Amerika, jelas aja beda jauh, karena mereka dalah negara yang udah maju.So, bwat para atlit yang kurang dipehatiin, bersabarlah, karena jumlah penduduk Indonesia itu banyak banget, jadi tugas pemerintah juga banyak. Maju terus badminton Indonesia!chayo!
Rabu, 19 Juli 2006 @ 16:06
teguh m p
from bali
07/19/2006
untuk sahabat saya”silvi antarini”, jangan pernah putus asa maju terus pantang mundur. kepada firdaus, saya minta tolong berikan email saya ini kpd silvi antarini.
Sabtu, 23 September 2006 @ 14:20
Lemahnya pemaen2 indonesia menurut aku mungkin karena:
- Lemahnya pemuda/i indonesia sekarang. Mereka lebih senang mengikuti audisi menjadi Artis daripada Olahraga..
- Atau mungkin kurangnya rekrutmen terhadap pemain2 bagus di setiap daerah. Mungkin saja banyak sekali pemain2 handal di daerah2 yang mereka sendiri blom begitu ngerti gimana caranya mereka bisa masuk menjadi pemain nasional.
- Bisa jadi juga karena ketidak seriusan PBSI dalam mengelola badminton indonesia
- Atau mungkin honor atlet di indonesia gak memuaskan jadi kebanyakannya pada pengen jadi artis aja.
BADMINTON INDONESIA SANGAT MENYEDIHKAN….!
Kamis, 15 Maret 2007 @ 16:17
saya peminat no. 1 pemain-pemain badminton dari Indonesia meskipun saya kini menetap di Malaysia. Apa sudah jadi dengan pasukan badminton Indonesia. Mengapa Taufik H. sahaja yang bagus dan mengapa jurulatih seperti Rexy tidak diangkat sebagai jurulatih Indonesia. Saya harap jangan ada korupsi didalam PBSI. Saya berharap Indonesia akan bangkit bagi membuang ego china. Ayuh! mari bangkit kami rakyat Indonesia akan nenberi sokongan kepada anda semua.
Sabtu, 21 Februari 2009 @ 10:40
Bulutangkis kita sebenarnya punya kans yang sangat banyak untuk maju – tergantung dari Pimpinan tertinggi negara ini bangsa yang besar tidak (hanya) menghargai pahlawannya tapi juga belajar dari orang2 yang pernah berjasa dan tahu benar bagai mana memajukan bidang olahraga yang sudah digelutinya sejak masa mudanya. Penghargaan akan datang dengan sendirinya ketika prestasi sedemikian tinggi walau tidak dari negeri sendiri tapi dunia Internasional akan mengakuinya. Contohnya banyak pemain kita yang setelah pensiun menjadi pelatih diluar negeri yang mendapat bayaran/apresiasi yang amat tinggi. Kalau pemimpin punya visi yang baik maka prestasi bulutangkis kita akan jaya lagi seperti dulu. Daerah-daerah asal digarap dengan benar akan menghasilkan pemain yang handal. kita sudah menyaksikan sendiri banyak sekali pemain dari luar daerah Jakarta yang notabene punya sarana dan prasarana yang tidak selengkap dan secanggih di Jakarta. Contoh Susi & Taufik dll.
Disamping itu kita rindu juga pemain bermental Ardi B.W. yang mencari jam lat. tambahan selain di Pelatnas jadi tidak mengandalkan pelatih tok tapi mencari sparing partner dengan tipikal pola permainan yang beragam dan variasi pululan yang unik. layaknya Hastomo Arbi (terkenal dgn bola karet-nya) sangat disegani pemain-pemain eropa pada jamannya plus Iie Sumirat yang menginspirasi pemain dari berbagai negara dengan pukulan tangan kirinya. Para pemimpin jangan hanya memimpikan jabatan/kedudukan dan fasilitas saja tapi memikirkan bagaimana negara ini disegani-dihargai-dihormati karena menghasilkan pribadi-pribadi juara dibidangnya. Itulah PR anda kalau anda jargonnya masih tetap ingin Memajukan Negeri Ini bukan memakmurkan diri sendiri. Semoga.
Rabu, 27 Mei 2009 @ 4:42
Menurut saya, pemerintah ataupun pbsi memang tak begitu mementingkan atlet2 bulutangkis indonesia. Sekarang kita sudah lihat, malaysia sudah begitu maju dibidang bulutangkis. Mungkin karena honor mereka yang besar. Mundur nya vita marrisa dari pelatnas karna selama 12 thn di dunia bulu tangkis tidak dihargai. Jadi saya mohon agar pemerintah dan pbsi mementingkan para atletnya yg sudah berjuang